Terjemahan: Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, "Ya Tuhanku, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil."
Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Surah Bani Israil, merupakan wahyu yang sarat dengan petunjuk kehidupan, etika sosial, dan akidah. Salah satu ayat yang paling sering ditekankan dalam konteks hubungan keluarga adalah ayat ke-24. Ayat ini memberikan perintah langsung dari Allah SWT kepada setiap mukmin mengenai bagaimana seharusnya memperlakukan kedua orang tua.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "Wakhfiḍ lahumā janāḥa-dh-dhulli min ar-raḥmati" (Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang). Kata "Janāḥa" berarti sayap. Ketika seekor induk burung melindungi anaknya dari bahaya atau kelelahan, ia akan menurunkan sayapnya. Perintah ini adalah metafora yang sangat kuat. Ia menuntut kerendahan hati yang total, bukan kerendahan diri yang hina, melainkan kerendahan diri yang lahir dari rasa hormat, cinta, dan belas kasihan—sebuah sikap yang jauh dari kesombongan atau keangkuhan.
Ayat ini diletakkan setelah perintah untuk berbuat baik kepada orang tua, yang sebelumnya juga diperintahkan untuk tidak berkata kasar (sebagaimana dalam ayat 23). Ayat 24 ini meningkatkan standar bakti tersebut. Berbakti bukan hanya soal tidak menyakiti hati mereka dengan kata-kata keras, tetapi juga tentang bagaimana sikap fisik dan batin kita memancarkan kelembutan.
Di masa tua, orang tua seringkali menjadi lebih lemah, rentan, dan mungkin memiliki kebutuhan yang berbeda dari saat mereka membesarkan kita. Pada fase inilah, perintah untuk merendahkan sayap menjadi sangat krusial. Kerendahan hati ini harus ditanamkan dalam setiap interaksi: cara berbicara yang lembut, tindakan yang mengutamakan kenyamanan mereka, dan kesabaran menghadapi potensi perbedaan pendapat atau kondisi fisik mereka.
Bagian kedua dari ayat ini menegaskan inti dari pengabdian: doa. "Wa qur Rabbi-rḥamhumā kamā rabbayānī ṣaghīrā" (dan ucapkanlah, "Ya Tuhanku, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil."). Doa ini berfungsi sebagai pengakuan tertinggi atas jasa mereka.
Mengucapkan doa tersebut adalah bentuk kesadaran bahwa kasih sayang orang tua di masa kecil—yang penuh pengorbanan, perhatian tanpa pamrih, dan pengorbanan waktu—adalah sesuatu yang tak ternilai. Dengan mendoakan agar Allah memberikan rahmat yang setara kepada mereka seperti yang telah mereka curahkan kepada kita, kita memohon agar kasih sayang ilahi menaungi mereka. Ini adalah balasan spiritual yang melampaui semua pemberian duniawi.
Dalam konteks kehidupan modern, di mana jarak geografis sering memisahkan anak dan orang tua, serta tuntutan hidup sering membuat kita terburu-buru, pemahaman Surah Al-Isra ayat 24 harus terus disegarkan. Kerendahan hati (khauf dan tawadhu') tidak hanya diterapkan dalam ibadah vertikal kepada Allah, tetapi juga dalam interaksi horizontal yang paling mendasar: hubungan dengan ibu dan ayah.
Ayat ini mengajarkan bahwa bakti tidak lekang oleh waktu. Meskipun kita telah menjadi dewasa, mandiri, atau bahkan memiliki kedudukan tinggi, di hadapan orang tua, kita harus tetap menjadi hamba yang rendah hati, selalu memohonkan rahmat terbaik bagi mereka. Inilah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat yang dijanjikan oleh Al-Qur'an dalam konteks hubungan keluarga.