Terjemahan (Makna Umum Terkait Ketulusan/Keikhlasan dalam Konteks Al-Qur'an):
"Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang ada di langit dan di bumi. Dan sungguh, Kami telah melebihkan sebagian Nabi-nabi atas sebagian yang lain, dan Kami berikan Zabur (kitab Mazmur) kepada Dawud (Daud)." (QS. Al-Isra Ayat 25 - Penomoran Standar)
Surah Al-Isra (juga dikenal sebagai Al-Isra wal Mi'raj) adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan ajaran moral, spiritual, dan hukum. Ayat ke-25, sebagaimana termaktub dalam Mushaf standar, berbicara mengenai penguasaan Allah yang meliputi seluruh alam semesta, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi.
Ayat ini melanjutkan dengan sebuah penegasan mengenai keutamaan para nabi. Allah SWT telah memilih dan memberikan kelebihan (fadhilah) kepada beberapa nabi di atas nabi yang lain dalam aspek-aspek tertentu. Sebagai contoh yang diberikan adalah Nabi Daud AS, yang dianugerahi kitab Zabur (Mazmur). Penjelasan ini berfungsi sebagai pengingat bahwa meskipun ada perbedaan derajat dan keistimewaan, semua nabi diutus dengan tujuan utama yang sama: menyeru umat manusia kepada tauhid (keesaan Allah).
Dalam konteks yang lebih luas, pemahaman ayat ini mendorong seorang mukmin untuk selalu berhati-hati dan menjaga niatnya. Jika Allah saja Maha Mengetahui seluruh isi alam semesta, termasuk isi hati setiap makhluk-Nya, maka mustahil bagi manusia untuk menyembunyikan niat buruk atau kepalsuan dari-Nya.
Meskipun ayat 25 secara tekstual membahas keutamaan nabi dan pengetahuan Allah, banyak penafsir mengaitkan ayat-ayat di sekitarnya (terutama ayat 23 dan 24 yang berbicara tentang berbakti kepada orang tua dan berbuat baik secara umum) dengan pentingnya ketulusan hati dalam setiap amal perbuatan. Dalam Islam, amal perbuatan yang dilakukan tanpa ketulusan atau karena riya’ (ingin dipuji manusia) akan sia-sia di hadapan Allah, meskipun secara lahiriah terlihat baik.
Konsep keikhlasan atau ketulusan niat (niyyah) adalah pondasi utama diterimanya ibadah. Ayat-ayat yang mendorong perlakuan baik, seperti berbakti kepada orang tua dan menaati perintah Allah, harus selalu dibarengi dengan niat murni karena mengharap ridha Allah semata, bukan karena ingin mendapatkan pujian dari sesama makhluk. Karena Allah Maha Tahu, Dia melihat di balik topeng kesalehan yang mungkin dipamerkan kepada manusia.
Pemberian keutamaan kepada Nabi Daud dengan kitab Zabur menunjukkan bahwa Allah memberikan karunia sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan umat pada masanya. Ini mengajarkan kita untuk menerima kadar yang diberikan Allah kepada kita dengan rasa syukur, tanpa iri hati, karena hanya Allah yang memiliki hak prerogatif untuk menentukan siapa yang pantas mendapatkan kelebihan tertentu. Kepatuhan total kepada kehendak-Nya adalah manifestasi tertinggi dari keimanan.
Oleh karena itu, saat kita merenungi Surah Al-Isra ayat 25, kita diingatkan akan keagungan dan kemahatahuan Allah SWT. Hal ini seharusnya memacu kita untuk senantiasa membersihkan hati, memastikan bahwa segala tindakan kita—baik yang berkaitan dengan hubungan vertikal (kepada Allah) maupun horizontal (kepada sesama manusia)—dilandasi oleh niat yang lurus dan tulus, sesuai dengan tuntunan ilahi.
Implikasi spiritual dari ayat ini sangat mendalam. Pengakuan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu di langit dan bumi memunculkan rasa takut (khauf) dan harap (raja’) yang seimbang dalam diri seorang hamba. Rasa takut ini bukanlah ketakutan yang melumpuhkan, melainkan motivasi untuk menjauhi maksiat karena sadar selalu diawasi. Sementara itu, harapan akan rahmat-Nya mendorong kita untuk terus beramal saleh dengan keyakinan bahwa tidak ada kebaikan sekecil apapun yang akan hilang dari pencatatan-Nya.
Dalam etika sosial, ayat ini juga memberikan landasan bahwa perlakuan istimewa yang diberikan Allah kepada para nabi seharusnya menjadi teladan bagi kita dalam menghormati dan mengikuti jejak mereka, sambil tetap menyadari bahwa predikat keutamaan sejati hanya mutlak milik Allah. Keikhlasan adalah jembatan yang menghubungkan antara amal lahiriah yang kita kerjakan dengan keridhaan batiniah yang kita cari dari Sang Pencipta.