Ayat 25 dari Surah Al-Isra (atau Surah Al-Isra wal-Mi'raj) ini merupakan bagian penting dalam serangkaian perintah Allah SWT kepada manusia, khususnya terkait dengan sikap hati dan tanggung jawab sosial. Ayat ini secara eksplisit menegaskan keMahaTahuan mutlak Allah atas segala ciptaan-Nya, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, di langit maupun di bumi. Penegasan ini berfungsi sebagai dasar untuk memahami kebijakan Ilahi yang mungkin tampak tidak merata di mata manusia.
Bagian kedua ayat ini membahas mengenai kelebihan atau derajat yang diberikan Allah kepada para nabi-Nya. Dalam sejarah kenabian, terdapat perbedaan tingkatan dan keistimewaan yang Allah anugerahkan. Salah satu contoh konkret yang disebutkan adalah pemberian Kitab Zabur kepada Nabi Daud AS. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian karunia dan keistimewaan adalah hak prerogatif Allah semata, dan manusia tidak berhak mempertanyakannya kecuali memahami hikmah di baliknya.
Ayat ini memberikan beberapa pelajaran fundamental dalam kehidupan seorang Muslim:
Penekanan pada kelebihan nabi ini juga relevan ketika ayat-ayat sebelumnya (Al-Isra 23-24) berbicara tentang birrul walidain (berbakti kepada orang tua) dan kerendahan hati. Ketika kita memahami bahwa bahkan para utusan Allah pun memiliki tingkatan yang berbeda, seharusnya kita lebih mudah menerima posisi dan kelebihan yang dianugerahkan Allah kepada orang lain tanpa rasa iri atau dengki.
Surah Al-Isra ayat 25 berdiri di tengah rangkaian ayat yang membahas etika sosial dan spiritual. Tepat sebelum ayat ini, Allah memerintahkan untuk bersikap baik kepada orang tua (Ayat 23). Setelah ayat ini, Allah melanjutkan dengan perintah untuk tidak berlaku boros dan tidak kikir (Ayat 29).
Keterkaitan antara ayat mengenai kelebihan nabi dengan perintah berhemat harta (Ayat 29) adalah bahwa segala kenikmatan dan kelebihan yang kita terima, baik berupa status, ilmu, maupun harta, harus dikelola dengan penuh tanggung jawab dan bukan untuk kesombongan. Sebagaimana Allah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi, Dia juga menguji manusia dengan rezeki, dan kita harus menggunakan rezeki tersebut dengan bijaksana, menjauhi sikap ekstrem yaitu boros atau kikir.
Intinya, ayat ini menjadi penegasan teologis bahwa segala sesuatu berada di bawah manajemen sempurna Allah SWT. Pemahaman ini harus menumbuhkan rasa syukur, kerendahan hati, dan kepasrahan total (tawakkal) dalam menjalani kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan vertikal dengan Tuhan maupun hubungan horizontal dengan sesama manusia.