وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya."
Ayat ke-39 dari Surah Al-Isra (atau dikenal juga sebagai Bani Israil) ini adalah salah satu landasan etika dan epistemologi (cara memperoleh ilmu) yang sangat fundamental dalam Islam. Ayat ini merupakan bagian dari rangkaian perintah Allah SWT kepada manusia, khususnya setelah memberikan penekanan pada keesaan Allah (Tauhid) dan larangan syirik dalam ayat-ayat sebelumnya. Ayat ini mengajarkan pentingnya bertanggung jawab atas setiap tindakan, terutama yang berkaitan dengan informasi dan persepsi kita.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ" (Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya). Kata "taqfu" yang berarti mengikuti, di sini merujuk pada mengikuti tanpa dasar, spekulasi, atau mengikuti tanpa verifikasi. Dalam konteks kehidupan modern, ini sangat relevan terkait penyebaran informasi (hoaks), mengadopsi tren tanpa memahami konsekuensinya, atau bahkan mengikuti pendapat tanpa telaah mendalam. Islam menuntut kehati-hatian dan ketelitian. Sikap "ikut-ikutan" tanpa dasar ilmu seringkali menjerumuskan seseorang pada kesalahan fatal.
Ayat ini kemudian menjelaskan tiga komponen utama yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT, yaitu: pendengaran (السَّمْعَ), penglihatan (الْبَصَرَ), dan hati (الْفُؤَادَ). Ketiga indra dan organ ini adalah perangkat yang diberikan Allah kepada manusia untuk mengenal dan beribadah kepada-Nya.
Penekanan bahwa ketiganya akan "diminta pertanggungjawabannya" (كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا) memberikan peringatan keras. Ini bukan sekadar larangan pasif, melainkan panggilan aktif untuk menjaga integritas penggunaan alat-alat anugerah ini. Jika kita mendengar hal yang buruk dan tidak meluruskannya, jika kita melihat kemungkaran dan tidak mengingkarinya (minimal dengan hati), atau jika hati kita dipenuhi prasangka buruk, maka kita akan diminta pertanggungjawaban penuh di hadapan Sang Pencipta.
Surah Al-Isra ayat 39 mengajarkan bahwa hidup seorang muslim adalah sebuah proses audit internal yang berkelanjutan. Kita harus menjadi pengawas yang ketat terhadap masukan (input) yang kita terima melalui telinga dan mata, serta output yang berasal dari pemikiran dan keyakinan hati kita.
Dalam ranah sosial, ayat ini mencegah gosip, fitnah, dan menyebarkan berita tanpa verifikasi. Dalam ranah spiritual, ini menuntut kita untuk selalu mengaitkan pengetahuan dengan praktik dan keyakinan yang sahih, berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah. Ayat ini menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana yang harus digunakan dengan penuh tanggung jawab. Oleh karena itu, setiap langkah, setiap kata yang didengar, setiap pandangan yang dilemparkan, dan setiap keyakinan yang tertanam di hati, semuanya memiliki konsekuensi dan akan diperhitungkan kelak. Memahami dan mengamalkan ayat ini akan membawa ketenangan batin karena kita hidup dengan kesadaran penuh atas amanah indra dan akal yang telah Allah titipkan.