Surah Al-Isra Ayat 55

Rahmat & Kepercayaan Ilustrasi Rahmat dan Kepercayaan dalam Ayat

Visualisasi konsep keesaan dan rahmat Ilahi.

Teks Arab dan Terjemahan

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا

Terjemahan: Katakanlah, "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Dia, maka mereka tidak memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari dirimu dan juga tidak dapat memindahkannya (kepada orang lain)." (QS. Al-Isra [17]: 55)

Konteks Penurunan Ayat

Ayat ke-55 dari Surah Al-Isra ini diturunkan dalam konteks penegasan keesaan Allah (Tauhid) dan menepis segala bentuk kesyirikan atau persekutuan terhadap-Nya. Pada masa kenabian Muhammad SAW, banyak kaum musyrikin yang menyembah berhala, malaikat, atau tokoh-tokoh saleh yang telah wafat, mengira mereka memiliki kekuatan untuk memberikan manfaat atau menolak mudharat.

Ayat ini menjadi tantangan langsung dari Allah SWT kepada mereka yang menyembah selain-Nya. Tantangan tersebut sangat mendasar: jika sesembahan mereka benar-benar memiliki kekuatan ilahi, mengapa mereka tidak mampu menghilangkan kesusahan yang menimpa penyembahnya sendiri? Atau setidaknya, mengapa mereka tidak bisa memindahkan kesulitan itu dari satu orang ke orang lain?

Makna Inti: Kekuasaan Mutlak Hanya Milik Allah

Pesan utama dari Surah Al-Isra ayat 55 adalah penegasan bahwa kuasa untuk menghilangkan kesulitan (kasyf ad-durr) dan kuasa untuk mengubah keadaan (tahwil) adalah mutlak di tangan Allah SWT semata. Kata 'Tahwil' mengandung makna perubahan nasib atau memindahkan suatu cobaan. Ketika seseorang ditimpa penyakit, kesusahan ekonomi, atau bencana alam, hanya Allah yang berhak dan mampu menghilangkannya.

Kaum musyrikin sering berdalih bahwa perantara (berhala atau 'wali') mereka dapat mendekatkan mereka kepada Allah, namun ayat ini membantah klaim tersebut secara tegas. Perantara tersebut tidak memiliki otoritas sedikit pun atas nasib penyembahnya, apalagi atas alam semesta.

Relevansi dalam Kehidupan Modern

Meskipun konteks historisnya terkait dengan penyembah berhala di Makkah, ayat ini memiliki relevansi abadi. Dalam kehidupan modern, konsep 'selain Allah' mungkin termanifestasi dalam bentuk kepercayaan buta terhadap kekayaan materi, kekuasaan politik, atau bahkan teknologi canggih yang dianggap mampu menyelesaikan segala masalah manusia tanpa melibatkan dimensi spiritual.

Ayat ini mengingatkan bahwa ketika kita benar-benar berada dalam kondisi terdesak—krisis kesehatan yang parah, ketakutan mendalam, atau keputusasaan total—kita akan selalu kembali kepada kesadaran bahwa satu-satunya tempat berlindung dan sumber pertolongan adalah Sang Pencipta. Ketergantungan sejati harus diarahkan hanya kepada Allah SWT, karena selain Dia, segala kekuatan yang tampak hanyalah ilusi atau sarana yang izinnya pun datang dari-Nya.

Pelajaran Penting Mengenai Tawakkul

Ayat ini mendorong umat Islam untuk menerapkan konsep tawakkul (berserah diri) yang benar. Tawakkul bukan berarti pasif dan menolak usaha; melainkan, usaha maksimal harus dilakukan sembari meyakini bahwa hasil akhir sepenuhnya berada dalam kendali Allah. Setelah berusaha mencari pengobatan, bekerja keras, atau merencanakan masa depan, seorang mukmin mengembalikan hasilnya kepada Allah, tidak menyandarkan harapan utamanya pada usaha itu sendiri.

Dengan memahami kedalaman makna Surah Al-Isra ayat 55, seorang Muslim dibimbing untuk menjauhi segala bentuk ketergantungan yang dapat menyeretnya pada kesyirikan, sekecil apapun bentuknya, dan memurnikan ibadahnya hanya kepada Allah, Rabb semesta alam.

🏠 Homepage