Surah Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran, mukjizat, dan peringatan. Salah satu ayat kunci dalam surah ini adalah ayat ke-76, yang berbicara tentang strategi kaum musyrik Mekah dalam menghadapi dakwah Nabi Muhammad SAW. Ayat ini mengungkapkan upaya mereka untuk mengusir Rasulullah dari kota kelahirannya.
Ilustrasi konseptual tentang tantangan dakwah yang diisyaratkan dalam ayat.
Artinya: "Dan sungguh, hampir saja mereka dapat memalingkan kamu dari wahyu yang telah Kami wahyukan kepadamu, (sehingga) kamu membuat-buat dusta yang (seolah-olah) diada-adakan terhadap Kami. Dan (kalau mereka berhasil), tentulah mereka akan menjadikan kamu kawan setia." (QS. Al-Isra: 76)
Ayat 76 ini turun dalam konteks peringatan Allah kepada Nabi Muhammad SAW tentang intensitas godaan dan tekanan yang dihadapi beliau dari para penentang keras ajaran tauhid di Makkah. Kaum Quraisy, yang merasa terancam status sosial, ekonomi, dan spiritual mereka dengan kehadiran Islam, berusaha keras mematahkan semangat beliau.
Para penentang ini tidak hanya menggunakan kekerasan fisik, tetapi juga menggunakan strategi psikologis dan rayuan halus. Mereka mencoba menawarkan kesepakatan, kekuasaan, atau kompromi agama yang pada dasarnya meminta Nabi untuk meninggalkan inti ajaran yang dibawanya—yaitu mengesakan Allah dan meninggalkan penyembahan berhala.
Ayat ini memuat beberapa frasa yang sangat penting untuk dipahami:
Surah Al-Isra ayat 76 memberikan beberapa pelajaran fundamental bagi setiap Muslim:
Ayat ini mengajarkan bahwa prinsip tauhid tidak dapat dikompromikan. Godaan untuk mendapatkan popularitas, kekuasaan, atau penerimaan sosial dengan cara mencampuradukkan kebenaran Ilahi dengan ideologi batil adalah ujian terberat. Seorang mukmin harus selalu waspada terhadap tekanan sosial yang mengarahkan pada penyimpangan dari syariat.
Ayat ini menyingkap bahwa permusuhan terhadap dakwah sejati seringkali bersembunyi di balik tawaran persahabatan. Kaum Quraisy menjanjikan persahabatan hanya jika Nabi bersedia menyerah pada tuntutan mereka. Ini adalah pola yang sering terjadi sepanjang sejarah: mereka yang paling keras menentang kebenaran akan menjadi yang paling ramah jika kebenaran itu 'dilunakkan' sesuai selera mereka.
Meskipun ayat ini menyebutkan bahwa mereka hampir berhasil memalingkan, kenyataannya Nabi tidak pernah berpaling. Ayat ini menegaskan bahwa Allah menjaga para rasul-Nya dari kesalahan fatal dalam menyampaikan risalah. Bagi umat Islam, ini adalah penguatan bahwa dengan pertolongan dan keikhlasan, upaya pemalingan sebesar apapun akan gagal.
Dalam sejarah sirah Nabawiyah, tekanan yang dihadapi Nabi Muhammad SAW begitu besar, terutama sebelum Hijrah. Beliau dihina, diusir dari kabilah lain, dan keluarganya turut menderita boikot. Namun, janji Allah dalam ayat ini—bahwa Dia akan melindungi wahyu-Nya—menjadi sumber kekuatan utama beliau. Ayat ini menjadi penegasan ilahi bahwa wahyu yang dibawanya adalah kebenaran mutlak yang tidak dapat diubah oleh upaya manuasia manapun, betapapun kuatnya pengaruh mereka.
Oleh karena itu, Surah Al-Isra ayat 76 bukan hanya catatan sejarah tentang perjuangan Nabi di Makkah, tetapi juga sebuah cetak biru abadi tentang cara menghadapi fitnah dan godaan yang mengancam kemurnian akidah kita. Keberanian untuk teguh pada kebenaran, meskipun harus menolak janji persahabatan dari pihak yang salah, adalah pelajaran tertinggi dari ayat ini.