Ilustrasi Pesan Suci
Surah Al-Isra Ayat 83: Tentang Kehancuran Kesombongan
Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an yang sarat dengan hikmah dan pelajaran penting mengenai sejarah, akidah, serta etika kehidupan. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan mendalam adalah ayat ke-83. Ayat ini secara khusus berbicara tentang kondisi hati manusia ketika dihadapkan pada nikmat dan ujian ilahi.
Ayat 83 Surah Al-Isra memberikan peringatan keras terhadap kecenderungan manusia untuk menjadi sombong atau kufur nikmat ketika mereka menerima sesuatu yang besar dari Allah SWT, serta reaksi balik yang keras ketika dihadapkan pada keburukan. Memahami konteks ayat ini sangat penting untuk mengukur kualitas spiritual dan moralitas kita sehari-hari.
Kondisi Jiwa Manusia di Kala Susah dan Senang
Ayat ini melukiskan sebuah potret universal tentang kondisi psikologis manusia. Ketika ditimpa musibah—baik itu sakit, kerugian harta, atau kesulitan lain—manusia cenderung teringat kepada Sang Pencipta. Dalam keadaan darurat, posisi tubuh tidak lagi menjadi penghalang; mereka berdoa dalam posisi tidur (berbaring), duduk, atau berdiri. Ini menunjukkan bahwa insting dasar mengakui kelemahan diri dan ketergantungan mutlak kepada Allah SWT.
Namun, poin paling krusial dari ayat ini adalah perubahan sikap pasca-ujian. Begitu Allah SWT mengangkat kesulitan tersebut, seolah-olah tidak pernah ada peristiwa serius yang menimpa. Manusia kembali kepada kesibukan dunianya, lupa akan doa dan permohonan yang dipanjatkannya ketika sedang dalam kesulitan. Mereka "berjalan" (melanjutkan hidup) seolah-olah kesenangan adalah hak mutlak, bukan karunia yang harus disyukuri.
Sifat Israf (Melampaui Batas)
Ayat ini ditutup dengan sebuah penegasan: "Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas (israf) apa yang mereka kerjakan." Kata "israf" di sini merujuk pada mereka yang melampaui batas kewajaran, baik dalam kekafiran, kesombongan, maupun dalam melupakan nikmat Allah. Perbuatan lupa bersyukur dan kembali kepada kesesatan setelah diselamatkan, dianggap sebagai salah satu bentuk "israf" spiritual.
Allah SWT memperindah (menghias) perbuatan buruk mereka itu di mata mereka sendiri, sehingga mereka merasa nyaman dengan kemaksiatan dan kelalaian mereka. Keindahan duniawi yang sesaat sering kali menjadi penutup mata dari kebenaran hakiki. Mereka terbuai oleh kemudahan yang mereka peroleh setelah melalui kesulitan, dan lupa bahwa kemudahan itu adalah rahmat, bukan hasil perjuangan mutlak mereka semata.
Pelajaran untuk Kontemplasi
Pesan Surah Al-Isra ayat 83 adalah ajakan untuk menjaga konsistensi iman dan syukur, baik dalam kondisi senang maupun susah. Seorang mukmin sejati seharusnya menjadikan setiap momen—baik kesulitan maupun kemudahan—sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Musibah seharusnya menjadi pengingat akan kelemahan dan kebutuhan kita akan pertolongan-Nya, sementara nikmat seharusnya memicu rasa syukur yang mendalam dan meningkatkan ketaatan.
Menggali lebih dalam ayat ini mengajarkan kita untuk waspada terhadap jebakan nostalgia kesenangan duniawi yang membuat kita abai. Syukur yang sejati adalah syukur yang berkelanjutan, bukan hanya muncul saat doa kita segera dikabulkan. Renungan ini menjadi tamparan lembut agar kita tidak termasuk dalam golongan orang yang melampaui batas, yang perbuatannya dihiasi oleh ilusi kesenangan sesaat.
Dengan merenungkan ayat ini, kita dapat memperbaiki hubungan kita dengan Sang Pencipta, menjadikan setiap tarikan napas dan setiap kemudahan sebagai bukti kasih sayang-Nya yang harus dibalas dengan ketaatan yang tidak pernah putus.