Salah satu ayat dalam Al-Qur'an yang seringkali memicu diskusi mendalam mengenai hakikat keberadaan manusia, kesadaran, dan pengetahuan ilahi adalah Surah Al-Isra' ayat 85. Ayat ini berbicara secara spesifik mengenai Ruh (Roh) dan bagaimana manusia diberikan pemahaman terbatas mengenai hakikatnya. Ayat yang singkat ini memuat makna filosofis dan teologis yang sangat mendalam, mengingatkan manusia akan batasan ilmu yang dianugerahkan Allah SWT.
Ayat 85 Surah Al-Isra' turun sebagai respons terhadap pertanyaan yang diajukan oleh kaum musyrikin Mekkah kepada Nabi Muhammad SAW. Pertanyaan ini kemungkinan besar bertujuan untuk menguji kenabian beliau. Mereka ingin mengetahui hakikat "Ruh," sesuatu yang abstrak, misterius, dan belum terdefinisikan secara memadai dalam pemahaman mereka saat itu. Pertanyaan ini menggarisbawahi bahwa ada dimensi realitas yang melampaui persepsi indrawi manusia.
Jawaban tegas dari Allah melalui lisan Rasulullah SAW sangat lugas: "Katakanlah: 'Roh itu termasuk urusan Tuhanku' (Min Amr Rabbi)." Frasa 'Min Amr Rabbi' mengindikasikan bahwa Ruh adalah bagian dari penciptaan Allah yang bersifat ilahi dan berada di luar jangkauan pemahaman komprehensif manusia. Ruh adalah manifestasi kehendak dan perintah langsung Allah (Amr), bukan sekadar materi atau energi yang dapat diurai dan dikategorikan melalui metode ilmiah konvensional.
Bagian kedua dari ayat ini menjadi penutup yang kuat dan universal: "Dan tidaklah kamu diberikan ilmu (tentang hakikatnya) melainkan sedikit." Ini adalah penegasan prinsip epistemologis dalam Islam. Meskipun manusia dianugerahi akal, kemampuan berpikir, dan ilmu pengetahuan yang berkembang pesat, segala pengetahuan yang dimiliki manusia—seberapa pun canggihnya—hanyalah setetes air di lautan ilmu Allah Yang Maha Luas.
Ayat ini mengajarkan kerendahan hati intelektual. Dalam konteks modern, ketika ilmu biologi dan fisika terus berusaha mengungkap misteri kesadaran dan kehidupan, Al-Isra' 85 mengingatkan bahwa ada batas yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Upaya ilmiah untuk memahami mekanika tubuh dan otak adalah bagian dari ilmu yang bermanfaat, namun hakikat inti dari Ruh itu sendiri tetap menjadi ranah prerogatif Ilahi.
Implikasi utama dari Surah Al-Isra' ayat 85 adalah pentingnya iman melebihi pengetahuan empiris. Ketika akal mencapai batasnya dalam menjelaskan fenomena non-materiil seperti Ruh, iman menjadi jembatan menuju kepastian. Ayat ini menenangkan kegelisahan manusia yang mencoba mengukur hal yang tak terukur. Fokus seharusnya dialihkan dari menguraikan secara total apa itu Ruh, menjadi bagaimana cara menjalani hidup sesuai petunjuk ilahi, karena ketaatan pada perintah Allah adalah cara terbaik memanfaatkan "sedikit ilmu" yang telah dianugerahkan.
Selain itu, ayat ini menetapkan hierarki dalam sistem pengetahuan. Ilmu Allah tidak terbatas, sedangkan ilmu manusia terbatas. Hal ini mencegah manusia jatuh ke dalam kesombongan ilmiah (scientism) yang menganggap bahwa semua misteri alam semesta dapat dipecahkan hanya dengan metode ilmiah yang mereka miliki. Ruh, sebagai inti kehidupan dan kesadaran, adalah pengingat konstan bahwa ada dimensi transenden yang harus diterima melalui wahyu.
Memahami Surah Al-Isra' ayat 85 adalah mengakui bahwa kehidupan spiritual dan metafisik berakar pada otoritas yang lebih tinggi. Walaupun ilmu pengetahuan terus berkembang pesat dalam menguak seluk-beluk materi, misteri tentang dari mana kita berasal dan ke mana kita akan kembali—yang semuanya terhubung erat dengan Ruh—tetap menjadi rahasia yang dijaga oleh Allah SWT, dan cukup bagi kita untuk beriman pada kekuasaan-Nya atas segala urusan.