Surah Al-Ma'idah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali ayat-ayat penting yang mengatur kehidupan sosial, hukum, dan akidah umat Islam. Salah satu ayat yang sangat menonjol dan sering menjadi sorotan dalam perdebatan teologis adalah ayat ke-118, yang secara spesifik berbicara mengenai dialog antara Allah SWT dengan Nabi Isa 'alaihissalam pada Hari Kiamat. Ayat ini memberikan pelajaran fundamental tentang tauhid dan batas tanggung jawab manusia di hadapan Sang Pencipta.
Ayat ini merupakan penutup dari dialog panjang antara Allah SWT dengan Nabi Isa AS di Hari Perhitungan. Setelah Nabi Isa AS bersaksi bahwa beliau hanya memerintahkan Bani Israil untuk menyembah Allah, Tuhannya dan Tuhan mereka, beliau kemudian menyerahkan sepenuhnya urusan umatnya kepada Allah. Kalimat yang diucapkan Nabi Isa AS sangat mencerminkan keagungan konsep tauhid.
Pernyataan Nabi Isa AS dalam surah Al-Ma'idah ayat 118 ini mengandung dua implikasi utama: pengakuan mutlak atas status keabdian mereka dan penyerahan penuh atas otoritas penghakiman. Ketika beliau berkata, "maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu," ini menegaskan bahwa terlepas dari kesesatan yang mereka lakukan atau status khusus yang mereka sematkan pada diri Nabi Isa, pada akhirnya mereka semua kembali kepada status asal mereka sebagai ciptaan Allah. Mereka tidak memiliki hak atau kekuasaan independen selain dari apa yang Allah berikan.
Hal ini sangat penting dalam konteks syariah dan akidah. Ia membatalkan klaim siapa pun, termasuk para pengikut yang berlebihan, yang mencoba mengangkat status seorang Nabi atau wali setara dengan Tuhan. Di hadapan Allah, semua pihak—baik yang diikuti maupun yang mengikuti—adalah hamba.
Bagian kedua ayat, "...dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana," menunjukkan puncak dari penyerahan diri yang terdidik. Nabi Isa tidak meminta ampunan sebagai sebuah hak atau tuntutan, melainkan menyerahkan keputusan tersebut kepada dua sifat utama Allah: Al-'Aziz (Maha Perkasa) dan Al-Hakim (Maha Bijaksana).
Al-'Aziz menunjukkan bahwa pengampunan Allah bukanlah karena kelemahan atau terpaksa, melainkan murni hasil dari kekuasaan-Nya yang tak tertandingi. Allah berhak memberikan rahmat tanpa terikat oleh tuntutan atau aturan yang ditetapkan oleh ciptaan-Nya. Sementara Al-Hakim menegaskan bahwa meskipun keputusan itu tampak seperti rahmat tanpa syarat, keputusan tersebut pasti berlandaskan hikmah dan keadilan tertinggi yang mungkin tidak dapat dipahami oleh makhluk.
Penempatan dua nama besar ini secara bersamaan menekankan bahwa penghakiman Allah tidak pernah sewenang-wenang. Jika Allah memilih untuk mengampuni, itu adalah manifestasi dari kekuasaan-Nya yang luas, yang selalu dibingkai oleh kebijaksanaan sempurna. Sebaliknya, jika Dia memutuskan menghukum, keputusan itu pun didasari oleh hikmah yang absolut.
Kajian tentang surah Al-Ma'idah ayat 118 mengajarkan umat Islam mengenai etika dalam berinteraksi dengan figur-figur suci. Ayat ini menjadi benteng pertahanan terhadap segala bentuk ghuluw (berlebihan) dalam memuliakan manusia. Seorang Nabi, betapapun besarnya kedudukannya di dunia, tetaplah seorang hamba yang tunduk penuh kepada kehendak Allah.
Bagi setiap Muslim, ayat ini merupakan pengingat bahwa satu-satunya tempat memohon keputusan akhir—baik dalam kesulitan maupun dalam harapan pengampunan—adalah langsung kepada Allah. Penyerahan seperti yang ditunjukkan oleh Nabi Isa AS adalah puncak dari ketaatan seorang hamba. Kita diajarkan untuk tidak pernah meragukan keadilan atau kasih sayang Allah, karena kedua sifat tersebut berjalan beriringan dalam setiap ketetapan-Nya. Dengan memahami kedalaman ayat ini, umat beriman semakin kokoh dalam prinsip tauhid yang murni, terlepas dari berbagai interpretasi atau penyimpangan historis yang pernah terjadi pada umat terdahulu.