Ilustrasi: Konsep perbandingan antara yang baik dan yang buruk.
Dalam lembaran Al-Qur'an, terdapat banyak sekali ayat yang berfungsi sebagai peringatan, petunjuk, sekaligus pengingat akan hakikat kehidupan di dunia ini. Salah satu ayat yang sarat makna mengenai konsekuensi dan prioritas adalah **Surah Al-Ma'idah ayat 100**. Ayat ini secara eksplisit membahas perbandingan antara kebaikan dan keburukan, serta dampaknya terhadap nasib manusia.
Ayat 100 dari Surah Al-Ma'idah ini dibuka dengan perintah tegas dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan sebuah prinsip universal: "Tidak sama antara yang buruk (al-khabīts) dan yang baik (ath-thayyib)."
Kata 'al-khabīts' merujuk pada segala sesuatu yang kotor, buruk, najis, maksiat, serta perbuatan yang dilarang agama maupun secara akal sehat dianggap merusak. Sebaliknya, 'ath-thayyib' mencakup segala sesuatu yang suci, bersih, baik, bermanfaat, dan diridhai oleh Allah SWT.
Ayat ini menyoroti bahwa nilai intrinsik dari suatu perbuatan tidak bisa ditutupi atau disamarkan oleh kuantitas. Bahkan jika sesuatu yang buruk itu tampak banyak atau menarik secara penampilan luar—"meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu"—ia tetaplah buruk dan tidak sebanding dengan sedikitnya kebaikan yang murni.
Ini adalah kritik keras terhadap pandangan materialistik atau pragmatis yang seringkali mengutamakan jumlah, popularitas, atau keuntungan duniawi semata, tanpa mempertimbangkan kualitas moral dan spiritualnya. Dalam konteks syariat, misalnya, harta haram meskipun banyak, tidak akan pernah bisa disamakan nilainya dengan sedikit harta halal.
Frasa "loau akthara katsratul khabīts" (meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu) adalah peringatan mendalam. Dalam kehidupan sehari-hari, godaan maksiat, kesenangan yang melanggar batas, atau lingkungan yang penuh dengan hal-hal negatif seringkali hadir dalam bentuk yang sangat memikat. Mereka menawarkan kesenangan instan, kemudahan, atau dominasi sementara.
Namun, Al-Ma'idah ayat 100 mengingatkan bahwa daya tarik visual atau sensori tersebut hanyalah ilusi. Kualitas sejati terletak pada keberkahan dan kebaikan yang dibawa oleh tindakan yang benar. Kebaikan yang sedikit namun murni akan melahirkan ketenangan dan pahala abadi, sementara keburukan yang melimpah hanya akan membawa kehancuran dan penyesalan di akhirat.
Setelah menyampaikan prinsip dasar tersebut, Allah SWT menutup ayat ini dengan seruan yang sangat penting: "Maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang berakal agar kamu mendapat keberuntungan."
Panggilan ini ditujukan kepada Ulil Albab (orang-orang yang berakal atau pemilik pemahaman sejati). Ini mengindikasikan bahwa kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, serta konsisten memilih yang baik meskipun jumlah keburukan tampak lebih besar, bukanlah sekadar masalah emosi, melainkan buah dari akal sehat yang telah dimanfaatkan secara optimal dan dihiasi dengan ketakwaan.
Ketakwaan (taqwa) di sini adalah wadah untuk menerapkan ilmu dan pemahaman tersebut. Orang yang berakal akan menyadari bahwa menyimpang dari petunjuk ilahi demi mengikuti tren keburukan yang populer adalah tindakan yang sangat tidak logis.
Tujuan akhir dari mengikuti prinsip ini adalah meraih al-falah, yaitu keberuntungan sejati. Keberuntungan dalam pandangan Islam bukan hanya sukses di dunia, tetapi yang terpenting adalah kesuksesan meraih ridha Allah dan selamat dari siksa-Nya di akhirat. Keberuntungan ini hanya bisa dicapai jika landasan hidup kita adalah kebaikan, bukan akumulasi hal-hal buruk yang tampak menggiurkan.
Oleh karena itu, Surah Al-Ma'idah ayat 100 berfungsi sebagai kompas moral yang mengingatkan kita untuk selalu memprioritaskan substansi (kualitas) di atas kuantitas (jumlah), dan untuk menggunakan akal sehat kita dalam bingkai ketaatan kepada Allah SWT.