Ilustrasi wahyu dan keyakinan.
وَاِذْ اَوْحَيْتُ اِلَى الْحَوَارِيِّنَ اَنْ ءَامِنُوْا بِيْ وَبِرَسُوْلِيْ ۚ قَالُوْآ ءَامَنَّا وَاشْهَدْ بِاَنَّنَا مُسْلِمُوْنَ
"Dan (ingatlah) ketika Aku mengilhamkan kepada kaum Hawari, 'Berimanlah kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.' Mereka menjawab, 'Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Muhammad) bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (Muslimin).'" (QS. Al-Maidah: 111)
Surah Al-Maidah adalah surat Madaniyah yang kaya akan pembahasan hukum, perjanjian, dan kisah-kisah kenabian. Ayat 111 ini secara spesifik menyoroti momen penting dalam sejarah kerasulan Nabi Isa 'alaihissalam (Yesus), yaitu ketika Allah SWT memberikan ilham langsung kepada para pengikut setianya, yang dikenal sebagai kaum Hawariyyin.
Ilham (wahyu) yang dimaksud di sini bukanlah wahyu kenabian seperti yang diterima oleh para nabi, melainkan sebuah inspirasi ilahi yang ditanamkan ke dalam hati mereka untuk menguatkan keimanan dan kesetiaan mereka. Dalam konteks ini, ilham tersebut berfungsi sebagai penegasan bahwa jalan yang diikuti oleh Nabi Isa adalah jalan yang benar, yaitu penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Kaum Hawariyyin, yang berarti 'yang murni' atau 'pendukung inti', adalah kelompok yang diberi kehormatan untuk menjadi saksi utama ajaran Isa AS.
Respons kaum Hawariyyin menunjukkan kualitas keimanan tertinggi. Ketika Allah memberikan perintah ilham untuk beriman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya (Nabi Isa), jawaban mereka cepat, tegas, dan totalitas: "Kami telah beriman." Ini adalah pengakuan tulus atas keesaan Allah dan kebenaran risalah yang dibawa oleh rasul-Nya.
Bagian kedua dari jawaban mereka, "dan saksikanlah (wahai Muhammad) bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (Muslimin)," memiliki kedalaman makna yang luar biasa. Kata 'Muslimin' di sini merujuk pada esensi Islam itu sendiri—yaitu berserah diri kepada kehendak Allah. Mereka tidak hanya menyatakan iman secara pribadi, tetapi juga meminta Nabi Muhammad SAW (yang hidup jauh setelah mereka) untuk menjadi saksi atas status keislaman mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa konsep Tauhid (Keesaan Allah) dan Islam (Penyerahan Diri) adalah benang merah yang menghubungkan semua risalah kenabian terdahulu, termasuk ajaran Nabi Isa AS. Mereka mengakui bahwa meskipun mereka adalah pengikut Isa, tujuan akhir mereka adalah berserah diri kepada Tuhan yang sama yang diimani oleh Nabi Muhammad.
Surah Al-Maidah ayat 111 berfungsi sebagai jembatan historis yang menghubungkan misi kenabian masa lalu dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Ayat ini adalah testimoni ilahi tentang kesetiaan sekelompok murid yang memilih iman murni di tengah tekanan sosial, sebuah teladan abadi bagi umat Islam untuk selalu menjaga keikhlasan dalam penyerahan diri kepada Sang Pencipta.
Semoga kita senantiasa termasuk dalam golongan yang berserah diri dengan sepenuh hati.