Surah Al-Ma'idah, surat kelima dalam Al-Qur'an, kaya akan ajaran mengenai hukum, perjanjian, dan kisah kenabian. Bagian akhir dari surat ini, khususnya ayat 114 hingga 120, menyoroti sebuah momen penting dalam sejarah Nabi Isa Al-Masih, yaitu ketika ia memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hidangan (ma'idah) sebagai bukti kebenaran risalahnya kepada kaum Bani Israil. Ayat-ayat ini tidak hanya menjadi penutup kisah kenabian Isa AS, tetapi juga menyajikan pelajaran fundamental tentang keimanan, kekuasaan Allah, dan status Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para rasul.
"Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami suatu hidangan dari langit, yang menjadi hari raya bagi kami, baik bagi orang yang datang lebih dulu maupun yang datang kemudian, dan menjadi tanda bagi sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Engkau; dan berilah kami rezeki, dan Engkaulah Pemberi rezeki yang terbaik." (QS. Al-Ma'idah: 114)
Ayat 114 merekam permohonan tulus Nabi Isa AS kepada Tuhannya. Permintaan ini diajukan bukan karena ketidakpercayaan, melainkan untuk memberikan bukti nyata (ayat) yang menguatkan iman kaumnya, Bani Israil, yang saat itu ragu akan status kerasulan Isa. Hidangan dari langit ini diharapkan menjadi hari raya dan tanda kebesaran Allah. Ayat ini menegaskan bahwa segala rezeki hakikatnya berasal dari Allah, Sang Pemberi Rezeki teragung.
Menanggapi doa tersebut, Allah SWT berfirman dalam ayat 115, mengonfirmasi bahwa permintaan itu akan dikabulkan, namun dengan peringatan keras.
Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepadamu, maka barangsiapa di antara kamu kafir sesudah itu, maka sungguh Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia." (QS. Al-Ma'idah: 115)
Peringatan ini sangat krusial. Pengabulan mukjizat yang sangat jelas seharusnya mengeliminasi keraguan. Jika setelah menyaksikan bukti nyata itu mereka tetap memilih kufur, maka azab yang akan menimpa akan jauh lebih berat daripada azab yang pernah diterima umat terdahulu. Ini menunjukkan betapa besar tanggung jawab keimanan setelah adanya bukti yang gamblang.
Ayat 116 dan 117 mengalihkan fokus pembahasan ke status Nabi Isa AS di sisi Allah. Ayat ini secara tegas membantah anggapan bahwa Isa adalah tuhan atau bagian dari Tuhan.
"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah'?" Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka Engkau pasti mengetahuinya." (QS. Al-Ma'idah: 116)
Nabi Isa AS menyatakan kesucian Allah dari segala sekutu dan membantah keras tuduhan bahwa ia pernah memerintahkan penyembahan dirinya dan ibunya. Ini adalah bantahan keras terhadap doktrin yang menyimpang mengenai ketuhanan Isa.
Kemudian, pada ayat 117, Isa AS menegaskan bahwa tugasnya hanyalah sebagai hamba dan rasul, yaitu mengajak manusia beribadah hanya kepada Allah.
"Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya), yaitu: 'Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu'." (QS. Al-Ma'idah: 117)
Seluruh kekuasaan, baik saat masih hidup di dunia maupun saat diangkat ke langit, sepenuhnya berada di tangan Allah SWT. Ayat 118 menunjukkan penyerahan diri Nabi Isa sepenuhnya kepada kehendak Ilahi. Jika Allah hendak menghukum mereka yang berpaling, maka itu adalah hak-Nya, karena Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana dalam setiap keputusan-Nya.
Ayat 119 berfungsi sebagai pemisah antara orang yang benar-benar beriman dan yang mendustakan. Pada hari penghakiman, para rasul akan ditanyai mengenai penerimaan risalah mereka. Nabi Isa bersaksi bahwa ia telah menyampaikan risalahnya dengan sempurna.
Ayat penutup ini, yaitu ayat 120, memberikan penekanan final tentang keagungan Allah yang menguasai langit dan bumi serta segala isinya. Ini menegaskan bahwa klaim atas kekuasaan atau ketuhanan selain Allah adalah klaim yang batal demi hukum, karena kepemilikan mutlak hanya milik-Nya.
"Allah berfirman: "Inilah hari di mana orang-orang yang benar mendapatkan manfaat dari kebenarannya; mereka akan memperoleh Surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar." (QS. Al-Ma'idah: 120)
Ayat 120 adalah janji kemenangan bagi para penegak kebenaran. Balasan bagi orang yang jujur dalam keimanan dan mengikuti ajaran rasul adalah surga yang abadi. Surat Al-Ma'idah ditutup dengan pengingat bahwa kendali alam semesta ada di tangan Allah, dan janji-Nya adalah janji yang pasti terwujud bagi hamba-hamba-Nya yang taat. Memahami rentetan ayat ini memberikan perspektif jelas mengenai kesatuan tauhid dan pentingnya integritas dalam mengikuti petunjuk ilahi.