Ayat ke-118 dari Surah Al-Ma'idah ini adalah salah satu puncak dialog antara Allah SWT dengan Nabi Isa 'Alaihissalam pada Hari Kiamat. Ayat ini mengandung makna pengakuan penuh atas otoritas mutlak Allah, baik dalam memberikan hukuman maupun dalam memberikan pengampunan.
Ayat 118 Al-Ma'idah merupakan bagian dari rangkaian pertanyaan besar yang diajukan Allah kepada Nabi Isa terkait klaim umatnya yang menyembahnya selain Allah. Setelah Nabi Isa dengan tegas menyatakan pemisahan diri dari ajaran sesat tersebut (seperti yang tercantum pada ayat-ayat sebelumnya), Allah menutup dialog tersebut dengan ketetapan akhir yang menggarisbawahi keagungan-Nya.
Pernyataan Nabi Isa, "Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu," menunjukkan puncak kerendahan hati seorang nabi besar. Beliau tidak meminta pembalasan langsung atau memohon agar Allah tidak menghukum mereka karena ego pribadinya. Sebaliknya, beliau mengakui bahwa siapapun yang berada di hadapan Allah—baik yang taat maupun yang durhaka—tetaplah ciptaan dan hamba-Nya. Ini adalah pengakuan universal bahwa hak mutlak untuk menghakimi hanya dimiliki oleh Sang Pencipta.
Bagian kedua ayat ini, "dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana," menyuguhkan dua sifat terindah dari sifat-sifat Allah (Asma'ul Husna) yang berkaitan dengan pengampunan.
Al-'Aziz (Maha Perkasa): Pengampunan yang diberikan Allah bukanlah tanda kelemahan atau kemudahan. Allah mengampuni karena keperkasaan-Nya yang memungkinkan Dia untuk menahan murka-Nya dan memilih kasih sayang. Pengampunan-Nya adalah manifestasi kekuatan, bukan ketiadaan kekuatan untuk menghukum.
Al-Hakim (Maha Bijaksana): Keputusan Allah untuk mengampuni atau menghukum selalu didasarkan pada kebijaksanaan tertinggi yang tak terjangkau akal manusia. Pengampunan yang diberikan pasti memiliki hikmah dan tujuan yang konstruktif, baik bagi individu yang diampuni maupun bagi alam semesta secara keseluruhan.
Ketika Nabi Isa menutup pembicaraan ini dengan penyerahan total kepada kehendak dan keputusan Allah, hal ini memberikan pelajaran penting bagi umat Islam: bahwa segala urusan, baik terkait keputusan ilahi, balasan amal, maupun nasib akhir manusia, sepenuhnya berada dalam genggaman Al-'Aziz Al-Hakim. Tidak ada tempat berlindung atau harapan selain dari-Nya.
Ayat ini menginspirasi kita untuk selalu memosisikan diri sebagai hamba yang sadar akan keterbatasan. Dalam hubungan kita dengan sesama, kita didorong untuk meneladani sifat pengampunan seperti yang dicontohkan oleh Nabi Isa, namun kita harus selalu menyadari bahwa kapasitas kita untuk mengampuni jauh berbeda dengan kapasitas Allah.
Setiap kali kita berdoa memohon ampunan, kita mengakui dua hal: Pertama, kita memang bersalah (hamba-Nya). Kedua, kita berharap Allah mengampuni kita bukan karena kita layak, tetapi karena Dia adalah Yang Maha Perkasa yang mampu mengabaikan kesalahan demi kasih sayang-Nya, dan Yang Maha Bijaksana yang tahu kapan dan bagaimana mengabulkan permohonan tersebut. Surah Al-Ma'idah ayat 118 adalah penutup yang agung bagi dialog pengadilan akhir, menegaskan bahwa hanya Allah yang berhak menentukan takdir hamba-hamba-Nya.