Surah Al-Maidah Ayat 148 dan Artinya: Hikmah di Balik Ketetapan Allah

Petunjuk Ilahi Al-Qur'an

Teks Arab Surah Al-Maidah Ayat 148

وَأَنزِلْ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِ‌ۖ فَٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ عَمَّا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡحَقِّ‌ۚ لِكُلٍّ جَعَلۡنَا مِنكُمۡ شِرۡعَةً وَمِنۡهَاجًاۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَكُمۡ فِي مَآ ءَاتَىٰكُمۡ‌ۖ فَٱسۡتَبِقُوا۟ ٱلۡخَيۡرَٰتِۚ إِلَى ٱللَّهِ مَرۡجِعُكُمۡ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ

(148)

Arti dan Tafsir Surah Al-Maidah Ayat 148

Terjemahan Kemenag RI:

"Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab yang terdahulu, dan **menjadi saksi atas isinya**. Maka berilah keputusan (perkara) di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan berpaling dari kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan syariat dan minhaj (jalan keluar). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semua akan kembali, lalu Dia akan memberitahukan kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan."

Kandungan Utama Ayat 148

Surah Al-Maidah ayat 148 adalah ayat yang sangat penting dalam menjelaskan posisi Al-Qur'an di antara kitab-kitab suci sebelumnya, sekaligus memberikan pedoman bagi Rasulullah SAW dan umatnya dalam berinteraksi dengan umat lain. Ayat ini menegaskan beberapa poin kunci dalam ajaran Islam.

1. Al-Qur'an sebagai Kitab Puncak

Ayat ini menyatakan bahwa Al-Qur'an diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW membawa kebenaran sejati. Fungsinya bukan hanya sekadar melanjutkan ajaran sebelumnya, tetapi juga "membenarkan kitab-kitab yang terdahulu" (seperti Taurat dan Injil) dalam pokok-pokok ajarannya yang murni, serta "menjadi saksi atas isinya." Ini berarti Al-Qur'an menguji keaslian dan kebenaran ajaran yang ada dalam kitab-kitab sebelumnya.

2. Kewajiban Berhukum dengan Hukum Allah

Ayat ini secara eksplisit memerintahkan Rasulullah SAW untuk "berilah keputusan (perkara) di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah." Ini merupakan penegasan bahwa hukum Islam (syariat) adalah standar tertinggi dalam menyelesaikan perselisihan. Perintah ini juga secara tidak langsung ditujukan kepada seluruh umat Islam untuk menjadikan hukum Allah sebagai pedoman utama dalam segala aspek kehidupan, baik pribadi maupun sosial.

3. Larangan Mengikuti Keinginan Manusia

Allah SWT melarang Nabi Muhammad SAW untuk mengikuti "keinginan mereka (orang-orang kafir atau musyrikin) dengan berpaling dari kebenaran yang telah datang kepadamu." Ayat ini menekankan pentingnya konsistensi dan keteguhan dalam memegang prinsip kebenaran wahyu, meskipun dihadapkan pada tekanan sosial atau godaan untuk berkompromi demi menyenangkan pihak lain.

4. Toleransi dalam Syariat, Persatuan dalam Prinsip

Bagian krusial dari ayat ini adalah pernyataan, "Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan syariat dan minhaj (jalan keluar)." Ini menunjukkan bahwa Allah telah menetapkan cara beribadah dan menjalani hidup yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi umat pada zamannya. Perbedaan syariat ini adalah sebuah keniscayaan. Namun, ayat ini menambahkan, "Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat saja." Keberadaan perbedaan ini bukan karena Allah tidak mampu menyatukan, melainkan sebagai ujian, "tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu."

5. Berlomba dalam Kebaikan

Karena perbedaan syariat adalah ujian, maka fokus umat Islam seharusnya adalah "berlomba-lomba berbuat kebajikan." Ini adalah esensi dari ujian tersebut. Keberhasilan diukur bukan dari seberapa banyak perbedaan yang berhasil dihilangkan, melainkan dari seberapa besar usaha kita untuk berbuat baik dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pada akhirnya, "Hanya kepada Allah-lah kamu semua akan kembali," di mana semua perbedaan dan perselisihan akan diselesaikan oleh-Nya.

🏠 Homepage