Kajian Mendalam Surah Al-Ma'idah Ayat 28: Peringatan tentang Kesombongan dan Keadilan

X Hikmah & Konsekuensi Ilustrasi Keadilan (Timbangan) versus Penolakan (Tanda Silang)

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِن كَانَ أَرَادَنِيَ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

"Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?', niscaya mereka menjawab: 'Allah'. Katakanlah: 'Maka apakah kalian perhatikan apa yang kamu seru selain Allah itu? Jika Allah menghendaki kemudaratan bagiku, dapatkah (berhala-berhala) itu menghilangkan kemudaratan-Nya? Atau jika Allah menghendaki rahmat bagiku, dapatkah mereka menahan rahmat-Nya?' Katakanlah: 'Cukuplah Allah bagiku. Hanya kepada-Nya orang-orang yang bertawakal itu bertawakal'." (QS. Al-Ma'idah: 28)

Konteks Historis dan Pesan Utama Ayat

Surah Al-Ma'idah adalah surah Madaniyah yang kaya akan tuntunan hukum dan etika sosial. Ayat ke-28, khususnya, merupakan titik sentral dalam dialog teologis yang menantang kaum musyrikin Mekkah atau Bani Israil yang masih mencampuradukkan tauhid dengan praktik kesyirikan. Ayat ini dimulai dengan sebuah premis yang sangat kuat: pengakuan universal bahwa Allah adalah Pencipta tunggal langit dan bumi.

Fakta bahwa mereka mengakui Allah sebagai Sang Pencipta seharusnya secara logis membawa mereka pada kesimpulan bahwa hanya Dialah yang berhak disembah (diibadahi). Namun, realitasnya menunjukkan adanya dualitas dalam keyakinan mereka; mereka mengakui kekuasaan Penciptaan Allah, tetapi pada saat yang sama menyembah tandingan-tandingan-Nya. Ayat 28 ini berfungsi sebagai alat uji logika yang tajam terhadap validitas persembahan lain tersebut.

Ujian Logika Kekuasaan Mutlak

Inti dari tantangan dalam ayat ini terletak pada pertanyaan retoris: "Jika Allah menghendaki kemudaratan bagiku, dapatkah (berhala-berhala) itu menghilangkan kemudaratan-Nya? Atau jika Allah menghendaki rahmat bagiku, dapatkah mereka menahan rahmat-Nya?"

Ini adalah bantahan mutlak terhadap konsep perantaraan dalam bentuk pemujaan. Kemudaratan (dharr) dan rahmat (rahmah) adalah dua aspek fundamental dari kuasa ilahi yang sepenuhnya berada di tangan Allah SWT. Tidak ada satu entitas pun—baik itu berhala, orang saleh yang diagungkan, atau kekuatan alam—yang memiliki kapasitas independen untuk menolak atau memaksakan kehendak ilahi. Jika mereka tidak mampu melindungi dari bahaya yang Allah tetapkan, atau memberi manfaat yang Allah putuskan, maka menyembah mereka adalah kesia-siaan yang nyata.

Puncak Tawakal: "Cukuplah Allah Bagiku"

Setelah membuktikan ketidakmampuan entitas lain, ayat ini ditutup dengan respons seorang Mukmin sejati: "Katakanlah: 'Cukuplah Allah bagiku. Hanya kepada-Nya orang-orang yang bertawakal itu bertawakal'." Kalimat "حَسْبِيَ اللَّهُ" (Hasbiyallahu) ini adalah kalimat deklarasi yang luar biasa kuat. Ini bukan sekadar penyerahan diri, melainkan afirmasi bahwa sumber daya dan perlindungan yang diberikan Allah sudah lebih dari cukup—bahkan jika dunia menolak.

Konsep tawakal (berserah diri setelah berusaha) yang ditekankan di sini harus dipahami dalam konteks ayat sebelumnya yang membicarakan konsekuensi dari penolakan terhadap kebenaran. Bagi mereka yang menyadari kebenaran tunggal Allah, hasil akhirnya adalah ketenangan total. Mereka tidak perlu takut pada ancaman orang kafir atau godaan duniawi, sebab kekuatan yang mereka sandari adalah kekuatan yang menciptakan alam semesta.

Relevansi Modern: Menghadapi Ketidakpastian

Meskipun diturunkan dalam konteks perselisihan teologis abad ke-7 M, relevansi Surah Al-Ma'idah ayat 28 sangat relevan di era modern yang penuh ketidakpastian. Di tengah tekanan ekonomi, ancaman lingkungan, atau krisis personal, manusia cenderung mencari "berhala" baru—seperti kekayaan materi, jabatan politik, atau opini publik—sebagai sumber keamanan.

Ayat ini mengingatkan bahwa mencari keamanan pada selain Allah adalah mencari kekuatan pada entitas yang sama sekali tidak memiliki kekuatan absolut. Menginternalisasi makna "Cukuplah Allah bagiku" berarti menempatkan kepercayaan sepenuhnya pada rencana dan ketentuan Ilahi, sambil tetap menjalankan ikhtiar terbaik dalam batasan kemampuan manusia. Ini adalah fondasi ketenangan batin yang tak tergoyahkan, terlepas dari kondisi eksternal yang bergejolak. Ayat ini adalah seruan agar iman bertransformasi menjadi keyakinan tunggal yang membersihkan hati dari segala bentuk ketergantungan parsial.

🏠 Homepage