Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebihan (melampaui batas) dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, 'Isa putra Maryam, itu adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan roh (ciptaan) daripada-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "'Tiga' (Tuhan), berhentilah, itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Allah (dari beranak), (tidak layak bagi-Nya) mempunyai anak, segala yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara."
Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surah Madaniyah yang kaya akan ajaran mengenai hukum, etika, dan hubungan antarumat beragama. Ayat 77 dalam surah ini (walaupun seringkali terpotong atau dikaitkan dengan ayat 72-76 dalam konteks diskusi mendalam tentang Isa Al-Masih) memiliki pesan inti yang sangat jelas dan universal: larangan untuk bersikap berlebihan (ghuluw) dalam beragama.
Ayat ini secara spesifik ditujukan kepada Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), namun pesannya berlaku bagi seluruh umat Islam. Larangan utama adalah melampaui batas kebenaran yang ditetapkan Allah dalam urusan agama. Dalam konteks yang lebih luas, ayat ini mengkritik kecenderungan untuk mengagungkan sosok Nabi atau tokoh agama hingga menempatkan mereka pada posisi yang seharusnya hanya dimiliki oleh Allah SWT.
Lebih lanjut, ayat ini melarang mengikuti hawa nafsu (kecenderungan pribadi atau kelompok) yang telah menyesatkan umat-umat terdahulu. Sejarah menunjukkan bahwa ketika suatu kaum mulai mendasarkan keyakinan mereka pada keinginan dan pemikiran parsial, mereka akan jauh dari kebenaran yang lurus (shirathal mustaqim). Allah SWT telah menurunkan wahyu sebagai petunjuk yang jelas, dan mengikuti hawa nafsu berarti menolak petunjuk tersebut dan memilih jalan kesesatan yang telah terbukti membawa kehancuran bagi banyak generasi sebelumnya.
Intisari dari Surah Al-Maidah ayat 77 adalah pentingnya moderasi (tawassuth) dalam keyakinan. Agama seharusnya didasarkan pada dalil yang sahih dan akal yang sehat, bukan emosi sesaat atau tradisi buta yang bertentangan dengan prinsip tauhid. Keseimbangan antara keyakinan yang teguh dan penghormatan yang proporsional adalah kunci agar tidak terjerumus dalam kesesatan, baik dalam bentuk pengkultusan berlebihan maupun penolakan terhadap kebenaran. Dengan demikian, ayat ini mengajak umat Islam untuk selalu berpegang teguh pada ajaran yang lurus dan menghindari ekstremisme dalam bentuk apapun.