Ilustrasi Hukum dan Keadilan dalam Islam Wahyu

Fokus pada Surah Al-Maidah Ayat 78: Peringatan dan Konsekuensi Hukum

Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", merupakan salah satu surah Madaniyah yang kaya akan peraturan, hukum, dan kisah-kisah penting dalam Islam. Di antara ayat-ayatnya yang mendalam, terdapat Surah Al-Maidah ayat 78 yang memberikan peringatan keras dan gambaran tentang konsekuensi logis dari pengkhianatan dan penolakan terhadap kebenaran.

Ayat ini sering kali dibahas dalam konteks peperangan, perlindungan diri, dan bagaimana siklus permusuhan dapat merusak tatanan sosial jika kebenaran diabaikan. Memahami konteks dan makna ayat ini sangat krusial untuk mengamalkan ajaran Islam secara utuh, terutama dalam berinteraksi dengan komunitas yang berbeda.

Teks dan Terjemahan Surah Al-Maidah Ayat 78

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ
"Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dikutuk (dilaknat) melalui lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas." (QS. Al-Maidah: 78)

Kutukan dan Pelajaran dari Kekufuran

Ayat 78 ini memulai dengan sebuah pernyataan yang sangat tegas: "Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dikutuk (dilaknat)...". Kata 'laknat' (لُعِنَ) dalam bahasa Arab menunjukkan pengusiran dari rahmat Allah SWT. Ini bukan sekadar celaan biasa, melainkan penetapan hukum ilahi atas perilaku mereka. Yang menarik adalah penyebutan bahwa laknat tersebut diucapkan melalui lisan dua nabi besar: Nabi Daud AS dan Nabi Isa AS.

Mengapa melalui lisan kedua nabi tersebut? Dalam konteks sejarah Bani Israil, Nabi Daud AS dan Isa AS diutus untuk membimbing mereka. Namun, sebagian dari mereka menolak, bahkan melakukan pengkhianatan terhadap ajaran yang dibawa. Ketika seorang nabi mengucapkan doa atau penetapan hukum ilahi atas penolakan keras, ini menandakan bahwa batas kesabaran ilahi telah terlampaui. Laknat ini berfungsi sebagai penanda historis dan peringatan bahwa pembangkangan terhadap kebenaran yang dibawa oleh rasul akan selalu memiliki konsekuensi serius.

Sebab Utama Laknat: Durhaka dan Melampaui Batas

Ayat ini segera menjelaskan akar masalahnya: "...disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas." (بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ). Dua kata kunci di sini adalah 'ashaw (durhaka/membangkang) dan 'a'tadaun (melampaui batas/kezaliman).

Pembangkangan (ma'siyah) adalah tindakan menentang perintah Allah secara sadar. Sementara melampaui batas (i'tida) adalah perilaku yang melebihi koridor etika, hukum, dan moralitas yang telah ditetapkan. Dalam konteks Bani Israil saat itu, pelanggaran ini mencakup pengkhianatan terhadap perjanjian mereka dengan Allah, pembunuhan nabi-nabi yang diutus kepada mereka, dan penolakan terang-terangan terhadap kebenaran yang dibawa Nabi Isa AS, seperti mengingkari keilahian Allah semata atau merusak syariat yang telah diturunkan.

Relevansi Peringatan Ini untuk Umat Islam

Meskipun ayat ini secara spesifik merujuk pada peristiwa masa lalu Bani Israil, ia mengandung pelajaran universal yang sangat relevan bagi umat Islam saat ini. Islam, sebagai penyempurna risalah sebelumnya, mewajibkan umatnya untuk taat sepenuhnya pada Al-Qur'an dan Sunnah.

Peringatan Al-Maidah 78 mengingatkan kita bahwa kemudahan hidup atau kedudukan historis tidak menjamin keselamatan. Sebaliknya, kekufuran yang ditunjukkan melalui pembangkangan sistematis dan perbuatan melampaui batas akan selalu menarik murka ilahi. Ketika umat Islam meninggalkan perintah agama dan mulai berbuat zalim terhadap sesama atau terhadap amanah yang diemban, mereka berisiko menapaki jalan yang sama menuju kehinaan.

Ayat ini menekankan pentingnya integritas moral dan kepatuhan. Keadilan sosial, penegakan hukum yang benar, dan penolakan terhadap segala bentuk penindasan adalah cerminan dari upaya menjauhi perilaku 'melampaui batas' yang dicela keras oleh Allah SWT.

Perbandingan dengan Ayat Lain dalam Al-Maidah

Surah Al-Maidah secara keseluruhan membahas tentang perjanjian, makanan halal, hukum pidana, hingga etika hubungan antaragama. Ayat 78 ini berfungsi sebagai penutup dari kisah-kisah peringatan dalam surah tersebut. Ia menunjukkan konsekuensi ekstrem dari penolakan total terhadap seruan kenabian. Jika dibandingkan dengan ayat-ayat sebelumnya yang membahas tentang pentingnya menunaikan janji (seperti ayat 1), ayat 78 ini menunjukkan apa yang terjadi ketika janji-janji ilahi dilanggar secara berulang-ulang oleh sekelompok manusia yang diberi banyak kelebihan dan petunjuk.

Intinya, Surah Al-Maidah ayat 78 adalah sebuah memoar ilahi tentang bahaya kesombongan spiritual dan pelanggaran etika fundamental. Ia mengajarkan bahwa rahmat Allah dapat dicabut ketika manusia memilih jalan durhaka dan terus-menerus melanggar batasan-batasan moral dan syariat yang ditetapkan, tidak peduli seberapa mulia latar belakang atau sejarah mereka.

🏠 Homepage