Pesan Abadi dari Surah Al-Ma'idah Ayat Terakhir

Kebenaran Abadi Tawhid

Ilustrasi pesan keilahian.

Pengenalan Surah Al-Ma'idah

Surah Al-Ma'idah (Perjamuan) adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an, yang diturunkan di Madinah pada periode akhir kenabian. Surah ini mengandung banyak syariat penting, hukum-hukum (terutama yang berkaitan dengan makanan, perburuan, dan pernikahan), serta kisah-kisah penting terkait Bani Israil dan penggenapan risalah Nabi Muhammad SAW.

Namun, dari keseluruhan isi surah yang panjang dan kaya akan hukum, titik klimaksnya seringkali dirujuk pada ayat terakhirnya. Ayat ini memiliki bobot teologis dan penutup risalah yang sangat mendalam, menandai penyempurnaan agama yang dibawa oleh Islam.

Surah Al-Ma'idah Ayat Terakhir: Ayat 120

Ayat yang dimaksud adalah Surah Al-Ma'idah ayat ke-120. Ayat ini merupakan penutup yang kuat, menegaskan keesaan Allah (Tauhid) dan kekuasaan-Nya yang mutlak atas alam semesta, sekaligus menjadi penutup pembahasan mengenai interaksi umat Islam dengan ahli kitab.

Teks Arab dan Terjemahan

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Hanya milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Analisis Mendalam Makna Ayat

Ayat penutup ini secara ringkas namun padat merangkum inti ajaran Islam. Ada dua pilar utama yang ditekankan dalam Surah Al-Ma'idah ayat terakhir ini:

1. Kepemilikan Mutlak (Mulku As-Samawati wal Ardh)

Frasa "Hanya milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi" menegaskan bahwa tidak ada entitas lain yang memiliki hak berdaulat, hak mengatur, atau hak menguasai selain Pencipta itu sendiri. Ini adalah penolakan terhadap semua bentuk kesyirikan (politeisme) dan klaim kekuasaan semu yang dimiliki manusia atau entitas lain. Semua yang terlihat—planet, bintang, lautan, bahkan kehidupan itu sendiri—berada di bawah kendali penuh-Nya.

Bagi seorang Muslim, pengakuan ini berarti bahwa segala bentuk penghambaan, doa, dan harapan harus diarahkan hanya kepada Dzat yang memiliki segala kunci alam semesta. Ini membebaskan jiwa dari ketergantungan pada makhluk.

2. Kekuasaan Absolut (Qadirun 'ala kulli syai')

Penutup ayat dengan sifat Allah "Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu" (wa huwa 'ala kulli syai'in qadir) adalah jaminan tertinggi. Setelah menetapkan kepemilikan, ayat ini menguatkan dengan menyatakan bahwa kepemilikan tersebut didukung oleh kekuatan tanpa batas. Tidak ada satu pun hal yang mustahil bagi-Nya untuk dilakukan, diubah, atau diciptakan kembali.

Dalam konteks penutup sebuah surah yang membahas banyak hukum dan tantangan sosial, penegasan kekuasaan ini memberikan ketenangan bahwa meskipun umat Islam menghadapi kesulitan di dunia, kuasa Allah jauh melampaui segala kesulitan tersebut.

Signifikansi Penutup Surah

Mengakhiri Surah Al-Ma'idah dengan ayat yang menegaskan Tauhid dan Qudrah (Kemahakuasaan) Allah memiliki hikmah besar. Setelah ayat-ayat sebelumnya membahas perdebatan teologis, isu perizinan makanan halal/haram, hingga permasalahan hubungan antaragama, ayat 120 berfungsi sebagai 'pintu keluar' yang mengarahkan kembali fokus utama seorang mukmin.

Ia mengingatkan bahwa, terlepas dari semua detail aturan dan interaksi duniawi, fondasi keimanan adalah pengakuan totalitas kekuasaan Allah. Ayat ini juga bisa dilihat sebagai pengingat kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya bahwa meskipun risalah telah disampaikan secara lengkap, penyerahan total kepada kehendak Tuhan yang Maha Kuasa adalah kunci keberhasilan baik di dunia maupun akhirat.

Oleh karena itu, pesan dari surah Al-Ma'idah ayat terakhir adalah seruan untuk selalu berpegang teguh pada keesaan Allah, yang kepemilikan-Nya meliputi segala yang ada, dan kekuasaan-Nya tidak tertandingi oleh apa pun.

🏠 Homepage