Surah Al-Maidah Ayat 98

Ilustrasi Cahaya dan Pengetahuan dari Al-Qur'an Sebuah gambar abstrak yang mewakili penyebaran cahaya kebijaksanaan dari sebuah buku terbuka (Al-Qur'an) ke arah lingkungan yang lebih gelap. K H I

Teks Surah Al-Maidah Ayat 98

اللَّهُ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Allāhu mawlā alladhīna āmanū yukhrijuhum minaẓ-ẓulumāti ilan-nūr(i), walladhīna kafarū awliyā’uhumuṭ-ṭāghūtu yukhrijūnahum minan-nūri ilaẓ-ẓulumāt(i), ulā’ika aṣ-ḥābun-nāri wahum fīhā khālidūn(a).
Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (keimanan). Dan orang-orang yang kafir, pelindung mereka ialah Tagut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Konteks dan Makna Ayat

Surah Al-Maidah ayat 98 adalah ayat yang sangat fundamental dalam ajaran Islam, memuat prinsip dasar tentang siapa yang menjadi pelindung (mawla) bagi manusia dan konsekuensi dari pilihan pelindung tersebut. Ayat ini secara tegas membedakan antara jalan kebenaran dan jalan kesesatan melalui dualisme metaforis: cahaya versus kegelapan.

Allah sebagai Pelindung Orang Beriman

Ayat ini dibuka dengan pernyataan agung: "Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman." Kata Mawla di sini memiliki makna yang luas, mencakup pelindung, penolong, kekasih, dan yang mengatur urusan. Bagi seorang Muslim, status keimanan adalah kunci utama yang menarik rahmat dan perlindungan langsung dari Allah SWT. Perlindungan ini bukan hanya dalam urusan duniawi, tetapi yang lebih penting adalah bimbingan spiritual.

Tugas utama pelindung ini, sebagaimana disebutkan selanjutnya, adalah "mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (keimanan)." Kegelapan di sini diartikan sebagai kebodohan, kesesatan, syubhat (keraguan), dan kemaksiatan. Sebaliknya, cahaya adalah petunjuk (hidayah), kebenaran (tauhid), kejelasan ilmu, dan ketenangan hati yang hanya bisa didapatkan melalui ketaatan kepada Allah. Proses transisi dari gelap ke terang ini adalah inti dari tujuan hidup seorang mukmin.

Peran Tagut sebagai Pelindung Orang Kafir

Kontrasnya, ayat ini menjelaskan kondisi orang-orang yang menolak keimanan: "Dan orang-orang yang kafir, pelindung mereka ialah Tagut." Tagut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah atau yang dijadikan tandingan bagi Allah, termasuk berhala, hawa nafsu yang menyesatkan, pemimpin zalim yang ditaati dalam kemaksiatan, dan segala bentuk kesyirikan.

Konsekuensi dari menjadikan Tagut sebagai pelindung adalah pembalikan arah bimbingan: "yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan." Ini menunjukkan bahwa setiap pilihan pelindung akan menghasilkan konsekuensi spiritual yang berlawanan. Jika Allah membimbing menuju kejelasan, maka Tagut menyesatkan menuju kebingungan dan keraguan yang semakin pekat.

Konsekuensi Akhirat

Ayat ini ditutup dengan penegasan yang menakutkan mengenai nasib akhir orang-orang yang memilih Tagut: "Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." Kekekalan di neraka adalah balasan bagi mereka yang secara sadar dan terus-menerus menolak cahaya Allah dan memilih berdiam diri dalam kegelapan yang diciptakan oleh pelindung mereka (Tagut). Hal ini menekankan pentingnya kesadaran spiritual dan memilih sekutu yang benar selama hidup di dunia.

Pelajaran Penting dari Ayat 98

  1. Prioritas Perlindungan: Keimanan kepada Allah harus menjadi fondasi utama dalam hidup, karena hanya Dia yang menjamin keselamatan sejati.
  2. Perjuangan Spiritual: Hidup seorang mukmin adalah proses berkelanjutan untuk melepaskan diri dari kegelapan (kebiasaan buruk, pemikiran sesat) dan meraih cahaya (ilmu yang benar, amal saleh).
  3. Bahaya Mengikuti Sesat: Ayat ini memperingatkan keras agar menjauhi segala bentuk perwujudan Tagut, baik dalam bentuk ideologi, figur, maupun dorongan hawa nafsu, karena konsekuensinya adalah kehancuran abadi.
  4. Tujuan Akhirat: Fokus utama ayat ini adalah pada pertanggungjawaban akhirat. Pilihan pelindung di dunia menentukan tempat tinggal abadi seseorang.
🏠 Homepage