Visualisasi ketetapan waktu dalam janji Ilahi.
Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Surah Bani Israil, mengandung banyak pelajaran penting mengenai sejarah bangsa terdahulu, terutama Bani Israil. Ayat keempat ini secara spesifik berfungsi sebagai pemberitahuan ilahi yang tegas mengenai konsekuensi dari perbuatan mereka. Kata "wa qadhayna ila bani israil fil-kitab" (Dan Kami telah tetapkan dalam Kitab itu kepada Bani Israil) menunjukkan bahwa peringatan ini sudah tertulis dan pasti terjadi, bukan sekadar ramalan, melainkan ketetapan yang tercatat dalam Taurat dan kemudian dikonfirmasi dalam Al-Qur'an.
Inti dari ayat ini adalah penetapan dua kali kerusakan besar ('fasad') yang akan dilakukan oleh Bani Israil di muka bumi. Kerusakan ini bukan semata-mata pelanggaran moral biasa, melainkan tindakan yang mengganggu tatanan sosial, melanggar perjanjian suci, dan menentang wahyu Allah. Ini adalah peringatan keras terhadap kesombongan dan penyelewengan kekuasaan yang mereka miliki setelah mendapatkan kenikmatan dari Allah SWT.
Para mufasir sering mengaitkan "dua kali kerusakan" ini dengan dua periode sejarah besar Bani Israil yang ditandai dengan keangkuhan dan penindasan. Kerusakan Pertama: Umumnya ditafsirkan sebagai penghancuran Baitul Maqdis (Yerusalem) oleh bangsa Babilonia (Nebukadnezar) sebagai hukuman atas pembunuhan nabi dan pengkhianatan terhadap perjanjian Allah. Pada masa ini, mereka diusir dari tanah suci mereka.
Kerusakan Kedua: Periode ini merujuk pada penghancuran dan kekalahan yang lebih parah, sering dikaitkan dengan penaklukan oleh bangsa Romawi, yang menyebabkan pembuangan dan pengusiran massal dari tanah Palestina. Ayat ini menggarisbawahi bahwa kesombongan ('uluwwan kabira') mereka akan mencapai puncaknya menjelang setiap kehancuran. Mereka merasa aman karena kekuatan duniawi yang mereka miliki, namun kekuatan tersebut hanyalah ilusi sesaat di hadapan ketetapan Allah.
Walaupun ayat ini ditujukan kepada Bani Israil, dampaknya meluas menjadi pelajaran universal bagi seluruh umat manusia, khususnya umat Islam. Surah Al-Isra (ayat 17:7) melanjutkan ayat ini dengan janji bahwa jika kerusakan kedua dilakukan, Allah akan mengirimkan musuh-musuh mereka untuk menimpakan penderitaan terburuk, lalu Allah memberi mereka kesempatan bangkit kembali (janji penebusan kedua).
Hal ini mengajarkan kita bahwa kekuasaan, kemajuan ilmu pengetahuan, atau kekayaan materi tidak menjamin kekekalan. Sebaliknya, jika kemajuan tersebut diiringi dengan kesombongan, pengkhianatan terhadap nilai-nilai kebenaran, dan penindasan terhadap pihak yang lemah, maka kehancuran pasti akan datang sebagai konsekuensi logis dari perbuatan itu sendiri. Ayat ini menanamkan rasa takut yang sehat terhadap siksaan ilahi, yaitu siksaan yang datang bukan tiba-tiba, melainkan sebagai hasil logis dari akumulasi dosa dan keangkuhan kolektif.
Oleh karena itu, Surah ke-17 ayat ke-4 ini berfungsi sebagai cermin sejarah yang mengingatkan kita untuk selalu rendah hati di hadapan Allah, memanfaatkan karunia-Nya untuk kebaikan, dan menghindari jebakan kesombongan yang telah menghancurkan umat-umat terdahulu. Janji ketetapan Allah adalah kepastian yang harus menjadi landasan perilaku kita dalam menjalani kehidupan duniawi.