Memahami Pesan Ilahi: Surat Al-Maidah Ayat 70

Ilustrasi Kitab Suci dan Cahaya Iman Gambar ilustrasi abstrak berupa buku terbuka yang memancarkan cahaya kebenaran dan keadilan. Ilmu Kebenaran

Surat Al-Maidah, surat ke-lima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum, etika, dan sejarah umat terdahulu. Salah satu ayat penting yang sering menjadi perenungan mendalam adalah Surat Al-Maidah ayat 70. Ayat ini secara eksplisit berbicara mengenai tanggung jawab manusia terhadap risalah yang telah dibawa oleh para Nabi, khususnya Nabi Muhammad SAW, serta konsekuensi dari penerimaan atau penolakan terhadap kebenaran tersebut.

"Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan Kami telah mengutus kepada mereka rasul-rasul, setiap kali datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh mereka, (maka) sebagian mereka mendustakannya dan sebagian mereka (yang lain) membunuh (rasul-rasul itu)."

(Q.S. Al-Maidah: 70)

Konteks Historis dan Peringatan Penting

Ayat 70 dari Al-Maidah ini merupakan bagian dari narasi panjang Allah SWT yang mengisahkan perjalanan Bani Israil dan bagaimana mereka menyikapi setiap utusan Allah yang diutus kepada mereka. Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras. Bukan hanya sekadar catatan sejarah, tetapi sebuah pelajaran abadi bahwa menolak kebenaran yang dibawa oleh utusan Allah, meskipun datang dengan membawa tuntutan yang dirasa berat atau bertentangan dengan hawa nafsu, adalah bentuk pembangkangan yang serius.

Bani Israil, yang telah menerima Taurat dan janji-janji kenabian, diperlihatkan bagaimana mereka secara kolektif gagal memenuhi perjanjian tersebut. Mereka sering kali terperangkap dalam kesenangan duniawi atau mempertahankan tradisi yang sudah melenceng dari ajaran murni. Ketika kebenaran datang, alih-alih menyambut dengan lapang dada, mereka malah merespon dengan dua cara yang sangat destruktif: mendustakan dan bahkan membunuh para pembawa risalah.

Implikasi Bagi Umat Islam

Mengapa ayat ini tetap relevan bagi umat Islam hari ini? Surat Al-Maidah ayat 70 memberikan sebuah kaidah fundamental: iman sejati diuji bukan hanya saat perintah itu mudah diterima, tetapi justru saat perintah itu menuntut pengorbanan, perubahan gaya hidup, atau menentang arus mayoritas yang menyimpang.

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kenabian dan kerasulan adalah amanah besar. Ketika Muhammad SAW diutus membawa Al-Qur'an, umat Islam juga memikul tanggung jawab untuk menerima seluruh ajarannya tanpa kecuali. Apabila kita hanya menerima bagian yang sesuai dengan selera dan menolak bagian yang terasa "tidak diinginkan" (berat atau menantang ego), maka kita berpotensi terjerumus ke dalam pola perilaku yang sama seperti yang dicela pada Bani Israil.

Kepatuhan total, atau taslim, adalah inti dari keimanan. Ayat ini mengajarkan bahwa mengikuti rasul membutuhkan keberanian untuk meninggalkan apa yang menyenangkan hawa nafsu demi keridhaan Allah SWT. Proses ini sering kali menimbulkan penolakan—baik dari diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar yang mungkin tidak sejalan dengan ajaran Islam yang murni.

Mengamalkan Pelajaran Ayat

Untuk mengamalkan semangat dari Surat Al-Maidah ayat 70, seorang Muslim harus senantiasa melakukan introspeksi diri. Apakah ada ajaran Islam yang kita anggap remeh atau kita tunda pelaksanaannya karena merasa berat? Apakah kita cenderung mengikuti pemikiran yang populer meskipun bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah?

Para ulama sering menekankan bahwa respons yang seharusnya dari umat yang menerima risalah adalah ketaatan yang gigih, meskipun menghadapi kesulitan. Ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT mengetahui segala niat dan tindakan umat-umat sebelumnya, dan Dia juga menyaksikan bagaimana umat Nabi Muhammad SAW akan merespon risalah terakhir-Nya.

Menyikapi ayat ini dengan kesadaran penuh berarti kita berkomitmen untuk menjadi pewaris risalah yang kokoh, yang tidak hanya sekadar mengucapkan syahadat, tetapi juga meneladani ketaatan total para sahabat kepada ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Semoga kita terhindar dari sifat mendustakan dan menolak kebenaran yang datang, baik secara terang-terangan maupun terselubung melalui penundaan atau penyelewengan makna.

šŸ  Homepage