Ilustrasi tentang peringatan dan konsekuensi.
Tinjauan Mengenai Surah Al-Isra Ayat 5
Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Surah Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat kelima dari surah ini memiliki peran penting dalam narasi sejarah para Bani Israil (keturunan Nabi Ya'qub a.s.) setelah diutusnya para nabi untuk membimbing mereka. Ayat ini secara spesifik membahas tentang dua kali kerusakan yang mereka lakukan di muka bumi, dan janji Allah untuk mengirimkan hamba-hamba-Nya yang memiliki kegagahan luar biasa sebagai hukuman.
Ayat kelima tersebut berbunyi:
Meskipun ayat 5 secara tekstual berbicara mengenai pemberian Taurat dan larangan mengambil pelindung lain, konteksnya seringkali dikaitkan dengan rangkaian ayat berikutnya (ayat 6 dan 7) yang menjelaskan sebab-sebab hukuman Allah datang kepada Bani Israil.
Sebab Musabab Hukuman Allah
Dalam rangkaian kisah ini, Allah Ta'ala memberikan peringatan keras kepada Bani Israil. Setelah mereka menerima petunjuk besar berupa Taurat, mereka diperingatkan agar tidak menyimpang dari jalan Allah. Namun, seperti yang dicatat dalam ayat-ayat selanjutnya, mereka melanggar perjanjian tersebut.
Kerusakan pertama yang disebutkan dalam ayat berikutnya (Ayat 6) adalah ketika mereka mulai berbuat kejahatan dan kezaliman di muka bumi. Kesalahan fatal mereka adalah melupakan ajaran para nabi, mengabaikan hukum yang diturunkan, dan bahkan membunuh para rasul yang datang membawa kebenaran. Tindakan ini merupakan pengkhianatan besar terhadap nikmat kenabian dan petunjuk ilahi yang telah diberikan kepada mereka.
Ketika mereka melakukan kerusakan pertama, Allah mengirimkan hamba-Nya yang kuat. Para mufassir menyebutkan bahwa ini merujuk pada penaklukan oleh musuh yang kejam, seperti Raja Nebukadnezar dari Babilonia, yang menghancurkan Baitul Maqdis (Yerusalem) dan menawan banyak dari mereka. Masa penawanan ini menjadi pelajaran pahit atas pembangkangan mereka.
Peringatan Bagi Umat Muslim
Pelajaran yang dapat diambil dari Surah Al-Isra ayat 5 dan konteks sekitarnya sangat relevan bagi umat Islam. Ayat ini menegaskan prinsip dasar tauhid: bahwa hanya Allah SWT yang layak dijadikan pelindung dan penolong (Wakil).
Mengambil pelindung selain Allah berarti menyandarkan harapan, rasa aman, dan pertolongan kepada selain Pencipta. Dalam konteks Bani Israil, hal ini terwujud dalam bentuk penyimpangan akidah dan penolakan terhadap syariat. Bagi umat Islam, ini adalah pengingat agar senantiasa bergantung sepenuhnya kepada Allah, terutama ketika menghadapi kesulitan atau godaan duniawi.
Tujuan penurunan Kitab Suci bukanlah sekadar dibaca, melainkan diamalkan dan dijadikan pedoman hidup. Ketika petunjuk ilahi diabaikan, konsekuensinya adalah hilangnya perlindungan ilahi, yang kemudian digantikan dengan penguasaan oleh musuh-musuh mereka. Ini adalah hukum alam spiritual yang berlaku universal: ketaatan membawa kemuliaan, sementara pembangkangan membawa kehinaan.
Pengulangan kehancuran (yang kedua kalinya juga disebutkan dalam ayat 7) menunjukkan betapa tegasnya Allah dalam memberikan konsekuensi atas pelanggaran perjanjian-Nya. Walaupun Allah Maha Pengampun, keringanan tersebut tidak berarti bahwa kezaliman dan pembangkangan akan dibiarkan tanpa pertanggungjawaban di dunia ini.
Implikasi Teologis Surah Al-Isra Ayat 5
Ayat ini menekankan peran sentral Kitab Suci (Taurat pada masa itu, dan Al-Qur'an bagi kita) sebagai sumber petunjuk. Petunjuk ini merupakan anugerah terbesar, yang membedakan antara jalan yang benar dan jalan kesesatan. Tanpa petunjuk ini, manusia mudah tersesat, mencari perlindungan pada berhala, hawa nafsu, atau kekuasaan duniawi yang fana.
Kisah Bani Israil menjadi cermin sejarah umat terdahulu. Kehancuran mereka bukanlah karena kekurangan potensi atau sumber daya, melainkan karena kelemahan internal akibat penyimpangan moral dan spiritual. Mereka memiliki nabi-nabi agung, tetapi gagal mempertahankan integritas ajaran yang dibawa oleh para nabi tersebut.
Oleh karena itu, pemahaman mendalam terhadap Surah Al-Isra ayat 5 dan ayat-ayat yang mengikutinya memberikan dua pelajaran utama: pertama, pentingnya memegang teguh petunjuk Ilahi; dan kedua, bahwa mencari perlindungan sejati hanya ada pada Allah, bukan pada kekuatan selain-Nya.