Surah kelima dalam susunan mushaf Al-Qur'an adalah Surah Al-Ma'idah (Hidangan). Surah yang tergolong Madaniyah ini memiliki jumlah ayat sebanyak 120 dan merupakan salah satu surah terpanjang. Nama "Al-Ma'idah" diambil dari ayat 114, yang mengisahkan permintaan Nabi Isa AS dan pengikutnya akan hidangan dari langit.
Pembahasan mengenai Surah Al-Ma'idah sangat luas, meliputi penetapan hukum-hukum syariat, janji dan peringatan, hingga kisah-kisah penting umat terdahulu. Surah ini sering kali membahas isu-isu sosial dan hukum yang mendasar bagi kehidupan umat Islam setelah hijrah ke Madinah.
Salah satu fokus utama Surah Al-Ma'idah adalah penetapan hukum-hukum yang jelas. Surah ini menegaskan kehalalan makanan tertentu dan keharaman yang lain, seperti bangkai, darah, daging babi, serta hewan yang disembelih tanpa menyebut nama Allah.
Allah SWT berfirman:
Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali jika makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor, atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah." (QS. Al-Ma'idah: 145 - penggalan ayat terkait substansi larangan makanan).
Selain itu, surah ini juga mengatur tentang tata cara berwudhu (tayammum jika tidak ada air), hukum qishash (balasan setimpal atas pembunuhan), hingga pentingnya menunaikan janji dan akad yang telah disepakati.
Ayat 112-115 menceritakan dialog antara Nabi Isa AS dengan para pengikutnya (Hawariyyin). Mereka meminta mukjizat berupa hidangan yang diturunkan dari langit sebagai tanda kebenaran kenabian Isa AS. Permintaan ini kemudian dikabulkan oleh Allah SWT.
Mukjizat ini membawa pelajaran penting mengenai sifat ketergantungan penuh kepada Allah (tawakkul). Meskipun hidangan itu turun, Allah menetapkan bahwa siapa pun di antara mereka yang kemudian kufur setelah melihat bukti nyata tersebut, maka azabnya akan sangat pedih, melebihi azab yang ditimpakan kepada siapa pun sebelumnya.
Surah Al-Ma'idah juga sangat menekankan pentingnya keadilan dan pelurusan akidah. Terdapat peringatan keras terhadap kaum Ahli Kitab yang mengubah-ubah isi kitab mereka atau bersekutu dengan musuh Islam.
Namun, surah ini juga mengajarkan prinsip toleransi yang fundamental, yaitu bahwa umat Islam harus bersikap adil terhadap siapa pun, bahkan terhadap mereka yang membenci atau memusuhi. Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan karena Allah, lagi pula menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS. Al-Ma'idah: 8).
Ayat ini menjadi landasan universal bahwa keadilan harus ditegakkan tanpa memandang afiliasi, permusuhan, atau kesamaan golongan.
Surah Al-Ma'idah, surah kelima Al-Qur'an, adalah gudang syariat dan etika. Dari hukum makanan, tata cara ibadah, hingga prinsip fundamental hubungan sosial dan keadilan, surah ini memberikan panduan komprehensif bagi kaum Muslimin. Mempelajari dan mengamalkan kandungan surah ini membantu seorang Muslim menjalani hidup yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT, menegakkan keadilan, dan menjaga hubungan baik dengan sesama manusia.