Ilustrasi Rahmat dan Pohon Kehidupan Sumber Rahmat Ilahi

Merenungi Kekuasaan Allah: Al-Hijr Ayat 11-20

Surat Al-Hijr, yang namanya diambil dari nama lembah tempat kaum Tsamud dimusnahkan, kaya akan pelajaran tentang keagungan Allah, sifat-sifat para rasul, dan teguran keras bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya. Bagian ayat 11 hingga 20 secara khusus menyoroti bagaimana Allah menciptakan manusia, bagaimana para pendusta menolak kebenaran, dan janji Allah untuk menjaga serta memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Kehidupan Awal dan Penolakan Kaum Musyrik

Ayat-ayat awal dari rentang ini dimulai dengan penegasan bahwa orang-orang kafir akan menyesali penolakan mereka di hari kiamat. Mereka meremehkan peringatan yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.

11. وَمَا تَأْتِيهِم مِّنْ آيَةٍ مِّنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ Dan tidak datang kepada mereka suatu tanda pun dari tanda-tanda Tuhan mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya.

12. كَذَٰلِكَ نَسْلُكُهُ فِي قُلُوبِ الْمُجْرِمِينَ Demikianlah Kami memasukkannya (penolakan) ke dalam hati orang-orang yang durhaka.

Ayat 12 memberikan gambaran psikologis yang mendalam. Penolakan terhadap kebenaran bukanlah sekadar ketidaktahuan, melainkan sebuah proses "penyusupan" rasa berpaling yang ditanamkan Allah ke dalam hati mereka sebagai konsekuensi atas kesombongan dan penolakan berulang mereka. Mereka terus-menerus berpaling dari bukti-bukti nyata yang disajikan.

Penciptaan Manusia dan Pemeliharaan Ilahi

Namun, kontras dengan sikap para pendusta tersebut, Allah mengingatkan tentang kemurahan-Nya dalam penciptaan. Ayat-ayat berikutnya beralih fokus pada kekuasaan Allah yang mampu menghidupkan kembali apa yang telah dimusnahkan.

14. وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِم بَابًا مِّنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ Dan seandainya Kami bukakan kepada mereka suatu pintu dari langit, lalu mereka naik ke pintu itu,

15. لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَّسْحُورُونَ niscaya mereka berkata, "Sesungguhnya pandangan kami terhalang; bahkan kami adalah orang-orang yang terkena sihir."

Ayat 14-15 adalah peringatan keras mengenai sifat keras kepala yang akut. Bahkan jika Allah membukakan pintu langit dan memungkinkan mereka naik ke sana—sebuah keajaiban yang tak terbayangkan—mereka tetap akan mencari alasan untuk menolak kebenaran. Mereka akan menuduhnya sebagai ilusi atau sihir, karena hati mereka telah tertutup rapat oleh kesombongan.

Janji Rezeki dan Kekuasaan Menghidupkan

Bagian ini kemudian menegaskan bahwa Allah adalah Pemberi rezeki dan Pemelihara alam semesta, sebuah jaminan yang seharusnya menenangkan hati orang-orang beriman di tengah ejekan kaum musyrik.

19. وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ شَيْءٍ مَّوْزُونٍ Dan Kami telah menghamparkan bumi dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran tertentu.

20. وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَلِمَن لَّسْتُمْ لَهُ بِرازِقِينَ Dan Kami jadikan padanya berbagai macam penghidupan, dan (Kami ciptakan pula) bagi makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukanlah pemberi rezeki baginya.

Ayat 19 menjelaskan keseimbangan sempurna dalam penciptaan bumi. Gunung-gunung dipancangkan sebagai pasak (rawasi) agar bumi tetap stabil, dan segala sesuatu ditumbuhkan dengan "ukuran tertentu" (mawqn), menunjukkan keteraturan kosmik yang mustahil terjadi tanpa perancang yang Maha Bijaksana.

Puncak penekanan rezeki ada pada ayat 20. Allah menyatakan bahwa Dia telah menyediakan sarana penghidupan (ma'ayish) bagi manusia di bumi. Yang lebih penting, Allah juga menyediakan rezeki bagi makhluk lain yang tidak berada di bawah kendali atau kemampuan manusia untuk memberinya rezeki. Ini adalah penegasan bahwa ketergantungan rezeki sepenuhnya ada di tangan Allah, bukan pada usaha manusia semata, menekankan perlunya tawakal.

Hikmah Pengaturan

Rangkaian ayat 11-20 ini berfungsi sebagai pengingat bahwa Allah mengetahui setiap detail, mulai dari kesombongan hati manusia hingga detail terkecil dalam ekosistem bumi. Penolakan terhadap kebenaran adalah pilihan yang berujung pada penyesalan, sementara iman dan ketenangan hati datang dari pemahaman bahwa Pencipta yang mampu mengatur bintang dan menumbuhkan tanaman adalah pula yang menjamin keberlangsungan hidup hamba-Nya. Keimanan harus disertai dengan kesadaran bahwa semua aspek kehidupan telah diatur dengan takaran yang presisi oleh Yang Maha Kuasa.

🏠 Homepage