يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَنْ يَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Yā ayyuhal-lazīna āmanuzkurū ni‘matallāhi ‘alaikum idz hammat qawmun ayyabsutū ilaikum aydiyahum fakaffa aydiyahum ‘ankum, wattaqullāh, wa ‘alallāhi falyatawakkalil-mu’minūn(a).
Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah nikmat Allah (yang dilimpahkan) kepadamu, ketika suatu kaum bermaksud buruk (hendak menyerang) kamu, lalu Allah menahan tangan mereka dari (mencelakaimu). Bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.
Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surah Madaniyah terakhir yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Ayat ke-11 dari surah ini memiliki kedalaman makna yang sangat penting, terutama dalam konteks memelihara hubungan antara iman dan tindakan nyata. Ayat ini dimulai dengan seruan langsung kepada kaum Mukminin, "Yā ayyuhal-lazīna āmanū" (Wahai orang-orang yang beriman), sebuah panggilan kehormatan yang selalu mengindikasikan pentingnya pesan yang akan disampaikan.
Inti dari ayat ini adalah perintah untuk mengingat nikmat Allah. Pengingatan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan sebuah fondasi psikologis dan spiritual. Mengingat pertolongan Allah di masa lalu memperkuat keyakinan (iman) bahwa Dia akan selalu menolong di masa depan. Dalam konteks ayat ini, kenikmatan yang diingatkan adalah ketika suatu kaum (yang sering diinterpretasikan merujuk pada suku-suku musuh di sekitar Madinah) berhasrat kuat untuk menyerang kaum Muslimin, namun rencana mereka digagalkan oleh intervensi ilahi. Allah menahan tangan mereka.
Peristiwa ini menekankan bahwa kekuatan fisik, strategi militer, atau jumlah yang besar tidak berarti apa-apa tanpa pertolongan dari Yang Maha Kuat. Ketika umat Islam diuji dengan ancaman nyata, pertahanan sejati mereka bukanlah hanya pada pedang, tetapi pada benteng ketakwaan dan tawakal.
Setelah mengingatkan akan pertolongan masa lalu, ayat ini memberikan dua pilar utama bagi seorang mukmin untuk menghadapi tantangan apa pun. Pilar pertama adalah Ketakwaan (Wattaqullāh). Takwa adalah fondasi dari semua ibadah dan akhlak. Dalam situasi genting, ketakwaan memastikan bahwa tindakan yang diambil didasarkan pada syariat dan bukan didorong oleh kepanikan atau emosi yang menyesatkan. Ketakwaan adalah kesadaran bahwa setiap langkah diawasi oleh Allah SWT.
Pilar kedua adalah Tawakal (Wa ‘Alallāhi falyatawakkalil-mu’minūn). Ayat ini secara eksplisit menyatakan bahwa hanya kepada Allah orang-orang beriman harus bertawakal. Tawakal bukanlah pasifisme atau meninggalkan ikhtiar. Tawakal adalah melakukan usaha terbaik yang diperintahkan agama (ikhtiar), namun menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada kehendak dan kuasa Allah. Ketika kaum Muslimin telah bersiap perang dengan persenjataan terbaik mereka, langkah terakhir mereka adalah menyerahkan hasil pertempuran kepada Allah.
Ayat ini mengajarkan keseimbangan yang indah. Umat Islam diperintahkan untuk waspada, berhati-hati terhadap tipu daya musuh (sebagaimana dicontohkan dengan "kaum yang bermaksud buruk"), namun pada saat yang sama, mereka tidak boleh merasa sendirian atau putus asa. Keberanian sejati datang dari keyakinan bahwa meskipun dunia mencoba mencelakai, tidak ada yang bisa menimpakan bahaya jika Allah tidak mengizinkannya.
Relevansi ayat ini tidak lekang oleh waktu. Dalam kehidupan modern yang penuh dengan tantangan ekonomi, tekanan sosial, dan konflik, seruan untuk mengingat nikmat Allah tetap relevan. Kita semua pernah merasakan situasi di mana sebuah masalah tampak mustahil teratasi—seperti musibah kesehatan, kegagalan usaha, atau kesulitan interpersonal—namun secara ajaib, jalan keluar terbuka.
Pengingatan nikmat ini berfungsi sebagai terapi spiritual yang menenangkan jiwa yang dilanda kecemasan. Ketika kita merasa terancam oleh "kaum" yang ingin menjatuhkan kita, baik itu pesaing, fitnah, atau krisis, ayat ini mengingatkan bahwa pelindung yang sesungguhnya jauh lebih dahsyat daripada ancaman yang ada.
Menerapkan takwa berarti memastikan bahwa dalam setiap persaingan bisnis, interaksi sosial, atau pengambilan keputusan strategis, kita memprioritaskan kejujuran dan keadilan di mata Allah, terlepas dari seberapa menguntungkan jalan yang tidak benar. Selanjutnya, tawakal memastikan kita tidak jatuh ke dalam perilaku menyalahkan diri sendiri secara berlebihan atau menyombongkan diri atas keberhasilan. Keberhasilan adalah karunia, dan kegagalan adalah ujian kesabaran dan ketergantungan kita kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, Surah Al-Maidah ayat 11 adalah manual praktis untuk membangun ketahanan mental dan spiritual seorang Mukmin dalam menghadapi dinamika kehidupan yang penuh dinamika dan potensi ancaman.