Surah Al-Maidah, surat ke-5 dalam Al-Qur'an, membawa banyak sekali pelajaran penting mengenai perjanjian, hukum, dan interaksi sosial umat Islam. Di antara ayat-ayatnya yang sarat makna, terdapat salah satu ayat yang secara spesifik menyoroti peran cahaya ilahi dan konsekuensi dari pengabaian petunjuk tersebut: Surah Al-Maidah ayat 15.
Ayat ini seringkali dikutip untuk mengingatkan umat bahwa Allah telah menurunkan penerang (Nūr) berupa wahyu, namun peringatan tersebut tidak selalu disambut dengan penerimaan yang utuh oleh semua pihak yang menerimanya di masa lampau.
(15) Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan bagimu sebahagian dari isi Kitab yang telah kamu sembunyikan, dan banyak (pula) yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Nūr) dari Allah, dan Kitab yang nyata (Al-Qur'an).
Pesan utama dari Surah Al-Maidah ayat 15 adalah konfirmasi datangnya seorang Rasul—Nabi Muhammad SAW—yang membawa kebenaran yang jelas. Ayat ini secara langsung ditujukan kepada "Ahli Kitab," yaitu Yahudi dan Nasrani, yang telah menerima wahyu sebelumnya.
Fungsi utama kedatangan Rasul ini adalah untuk "menjelaskan" bagian-bagian dari Kitab suci mereka (Taurat dan Injil) yang telah disembunyikan atau sengaja ditafsirkan keliru oleh sebagian oknum untuk kepentingan duniawi. Penyembunyian ini bisa berupa penghilangan ayat, penambahan pemahaman yang menyimpang, atau penolakan terhadap kenabian yang telah mereka ketahui akan datang.
Menariknya, ayat tersebut juga menyebutkan frasa "...dan banyak (pula) yang dibiarkannya." Ini menunjukkan kebijaksanaan ilahi. Tidak semua penyimpangan harus dibongkar secara eksplisit; terkadang, penegasan wahyu yang baru sudah cukup untuk menunjukkan kebenaran yang otentik, sementara kesalahan kecil yang tidak mempengaruhi pokok akidah dibiarkan, mungkin sebagai ujian bagi mereka yang mencari-cari celah.
Bagian akhir ayat ini adalah penutup yang sangat kuat: "Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya (Nūr) dari Allah, dan Kitab yang nyata (Al-Qur'an)."
Nūr (Cahaya) di sini sering diinterpretasikan sebagai manifestasi kebenaran, wahyu, dan petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Cahaya ini berfungsi menerangi kegelapan kebodohan, keraguan, dan kesesatan yang selama ini melingkupi praktik keagamaan. Tanpa cahaya ini, manusia akan tersesat dalam labirin interpretasi yang salah dan hawa nafsu.
Sementara Kitāb Mubīn (Kitab yang Nyata/Jelas) adalah Al-Qur'an itu sendiri. Kejelasan Al-Qur'an terletak pada kemampuannya memisahkan antara yang hak dan yang batil secara gamblang, serta keotentikannya yang terjaga dari perubahan. Ini adalah landasan hukum dan moral yang permanen bagi umat manusia.
Ayat 15 ini berfungsi ganda: ia menjadi konfirmasi bagi kaum Muslimin mengenai validitas ajaran yang mereka terima, sekaligus menjadi tantangan keras bagi Ahli Kitab yang saat itu hidup bersama Nabi. Mereka dihadapkan pada bukti nyata kenabian yang mereka tunggu, disertai dengan penjelasan atas bagian-bagian yang selama ini mereka tutupi.
Meskipun konteks historisnya spesifik, pelajaran dari ayat ini tetap relevan hingga kini. Bagi umat Islam, ayat ini menekankan tanggung jawab untuk menjaga kemurnian ajaran dan memastikan bahwa praktik keagamaan didasarkan pada sumber otentik Al-Qur'an dan Sunnah.
Di era informasi yang serba cepat, di mana berbagai ideologi dan interpretasi agama bermunculan, Surah Al-Maidah ayat 15 mengingatkan kita bahwa kita telah dibekali dengan "Cahaya dan Kitab yang Nyata." Tugas kita adalah merujuk kembali kepada keduanya ketika menghadapi kerumitan duniawi. Mengabaikan cahaya ini sama saja dengan kembali berjalan dalam kegelapan, meskipun kita mengklaim diri sebagai pewaris tradisi kebenaran.
Oleh karena itu, perenungan mendalam terhadap ayat ini mendorong umat untuk bersyukur atas karunia petunjuk yang telah diterima dan untuk selalu waspada terhadap godaan untuk menyembunyikan atau mendistorsi kebenaran demi keuntungan sesaat.