Ilustrasi representasi perjalanan dan wahyu.
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, merupakan salah satu surat Makkiyah dalam Al-Qur'an yang kaya akan makna dan pelajaran historis. Di antara ayat-ayatnya yang mendalam, perhatian khusus sering tertuju pada **Surat 17 Ayat 05**. Ayat ini secara spesifik membahas salah satu episode penting dalam sejarah kenabian, yaitu tentang hukuman pertama yang ditimpakan kepada Bani Israil akibat kerusakan moral dan penyimpangan mereka dari ajaran tauhid.
Ayat kelima dari Surat Al-Isra (ayat 17:5) berbunyi: "Kemudian Kami kembalikan kepada kamu kemenangan atas mereka, dan Kami bantu kamu dengan harta dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar (jumlahnya)." Ayat ini merupakan kelanjutan dari peringatan keras yang disampaikan pada ayat sebelumnya (ayat 4), yang meramalkan kehancuran pertama Bani Israil akibat perbuatan dosa mereka.
Para mufassir sepakat bahwa ayat ini merujuk pada peristiwa ketika Allah SWT menghukum bangsa Israel (Bani Israil) karena kezaliman dan pembangkangan mereka terhadap perintah Allah setelah mereka mencapai kejayaan di bawah kepemimpinan Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS. Hukuman pertama ini diwujudkan melalui kedatangan musuh yang kuat yang menghancurkan negeri mereka dan menawan sebagian besar penduduknya.
Poin kunci dalam **surat 17 ayat 05** adalah janji pengembalian kejayaan. Ini menunjukkan prinsip dasar dalam hukum Ilahi: setelah melalui masa kesengsaraan akibat kesalahan kolektif, Allah memberikan kesempatan kedua. Pengembalian kemenangan ini tidak datang tanpa syarat, melainkan sebagai rahmat dan pengingat.
Kemenangan yang dijanjikan meliputi tiga aspek utama:
Ayat ini menegaskan bahwa meskipun manusia dapat jatuh ke dalam jurang kesalahan yang menyebabkan kehancuran, pintu rahmat dan pemulihan selalu terbuka selama ada kesadaran dan keinginan untuk kembali ke jalan yang benar. Namun, ayat ini juga mengandung peringatan tersirat: jika siklus dosa dan kerusakan diulang kembali, maka hukuman serupa—atau bahkan lebih berat—akan menanti.
Jika kita membaca kelanjutan ayat-ayat setelah ayat 5, kita akan melihat bahwa janji pemulihan ini bersifat sementara. Ayat 6 dan seterusnya menjelaskan bahwa ketika Bani Israil kembali melakukan kerusakan ("melakukan kejahatan yang kedua kalinya"), maka musuh yang sama atau yang setara akan dikirimkan lagi untuk menghancurkan mereka, kali ini dengan dampak yang lebih parah, bahkan hingga melukai wajah dan menghancurkan Masjid Al-Aqsa, sebagaimana tercatat dalam ayat 7.
Pelajaran yang bisa diambil dari keseluruhan narasi ini—termasuk **surat 17 ayat 05** sebagai titik balik kedua—adalah bahwa kemakmuran dan kejayaan bukanlah hak mutlak yang diberikan selamanya. Keseimbangan antara nikmat dan ujian adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan spiritual dan eksistensi sebuah bangsa. Rahmat Allah hadir untuk memulihkan, namun kesadaran diri harus dipertahankan agar nikmat tersebut tidak hilang lagi karena kesombongan atau pengulangan kesalahan masa lalu.
Meskipun fokus ayat ini adalah pada Bani Israil, pelajaran yang terkandung bersifat universal bagi semua umat beriman. Setiap komunitas yang mendapatkan kemudahan dan pertolongan Ilahi wajib menjaganya dengan menjalankan amanah keadilan, moralitas, dan ketaatan. Kegagalan menjaga amanah tersebut akan selalu berujung pada hilangnya nikmat dan digantikan dengan kesulitan, sejalan dengan hukum sebab akibat yang ditetapkan oleh Sang Pencipta.
Oleh karena itu, mengkaji **surat 17 ayat 05** bukan hanya tentang memahami sejarah masa lampau, tetapi juga mengenai refleksi diri kontemporer. Ayat ini mengajarkan kerendahan hati di tengah puncak kesuksesan dan mengingatkan bahwa pertolongan Allah adalah karunia yang harus disyukuri dengan cara mempertahankan perilaku yang diridhai-Nya. Studi mendalam terhadap ayat-ayat ini membuka wawasan akan kebijaksanaan Al-Qur'an dalam mengatur tatanan sosial dan spiritual umat manusia.