Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, merupakan salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang membahas berbagai aspek penting dalam kehidupan sosial, moral, dan spiritual umat Islam. Di antara ayat-ayat yang sarat makna tersebut, terdapat **Surat Al-Isra ayat 7** yang seringkali menjadi sorotan dalam pembahasan mengenai konsekuensi perbuatan manusia, baik maupun buruk. Ayat ini memberikan janji balasan yang tegas dari Allah SWT terhadap setiap tindakan yang dilakukan hamba-Nya.
Teks dan Terjemahan Surat Al-Isra Ayat 7
Arab-Latin: In ahsantum, ahsantum li anfusikum, wa in asa'tum fa laha, fa iza ja'a wa'dul akhirati liyasuu'u wujuhuakum liyasurru ad-dini 'ala akherikum li yadkhulul baita kama dakhuluhi marratan ula, wa liyutabbiu ma 'alaw titbaba. (Perlu diperhatikan, terjemahan ini mengacu pada konteks umum pembalasan, namun versi yang paling masyhur terkait pembalasan adalah ayat yang lebih pendek, namun jika yang dimaksud adalah ayat 7 secara spesifik, maka fokusnya adalah pada dua kali kehancuran Bani Israil).
Terjemahan (Makna Umum Konteks Pembalasan): "Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri pula. Apabila datang janji (pembalasan) yang kedua, (Kami datangkan musuh-musuhmu) untuk menyuramkan muka-muka kamu, dan untuk memasukkan mereka ke dalam masjid, sebagaimana mereka memasukinya pada kali pertama, dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang kamu kuasai."
Ayat ini, ketika ditelaah lebih dalam, sejatinya berbicara tentang dua kali kerusakan (atau 'kehancuran' dalam konteks interpretasi sejarah) yang menimpa Bani Israil sebagai akibat dari perbuatan mereka sendiri. Ini adalah pelajaran universal tentang sebab-akibat (sunnatullah) yang berlaku bagi semua umat manusia, bukan hanya bagi Bani Israil pada masa lampau.
Dua Kali Pembalasan dalam Sejarah
Para mufassir umumnya memahami bahwa ayat ini merujuk pada dua periode kehancuran besar yang dialami oleh Bani Israil akibat pelanggaran mereka terhadap perjanjian dengan Allah dan perbuatan maksiat yang mereka lakukan.
- Kehancuran Pertama: Ini sering dihubungkan dengan kehancuran Baitul Maqdis (Yerusalem) dan penawanan mereka oleh bangsa Babel di bawah pimpinan Nebukadnezar. Pada masa ini, kehormatan mereka direnggut, dan tempat ibadah mereka dinodai. Allah mengirimkan musuh untuk menghukum mereka.
- Kehancuran Kedua: Periode ini umumnya diinterpretasikan sebagai kehancuran yang terjadi ketika mereka berada di bawah kekuasaan Romawi, puncaknya adalah penghancuran total Baitul Maqdis oleh Jenderal Titus pada abad pertama Masehi. Penistaan dan penghancuran yang terjadi pada kali kedua ini jauh lebih parah, sebagaimana disiratkan dalam ayat: "dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang kamu kuasai."
Pelajaran Moral Universal: Konsekuensi Perbuatan
Meskipun konteks historisnya spesifik pada Bani Israil, inti pesan dari **surat 17 ayat 07** ini bersifat universal dan relevan bagi setiap mukmin. Frasa pembuka, "Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu untuk dirimu sendiri pula," adalah pondasi utama dalam etika Islam.
Ini menegaskan prinsip akuntabilitas individu. Tidak ada perbuatan, baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, yang luput dari pencatatan dan balasan. Kebaikan yang dilakukan membuahkan hasil positif di dunia dan akhirat bagi pelakunya. Sebaliknya, keburukan akan kembali merusak diri sendiri. Islam tidak mengajarkan bahwa kejahatan akan ditanggung oleh orang lain, melainkan bahwa setiap jiwa memikul dosanya sendiri.
Ketakutan dan Ancaman Sebagai Peringatan
Bagian kedua ayat yang menjelaskan tentang kedatangan musuh yang akan "menyuramkan muka" menunjukkan betapa menyakitkannya sanksi duniawi akibat pembangkangan. Kemuliaan dan ketenangan hilang digantikan oleh ketakutan, kehinaan, dan kehancuran materiil. Ketika umat melupakan ajaran Ilahi dan terjebak dalam kesombongan atau kerusakan moral, Allah akan mengirimkan sarana (dalam bentuk musuh atau bencana) untuk menarik mereka kembali pada kebenaran.
Tujuan dari hukuman ini bukanlah sekadar pembalasan yang destruktif semata, melainkan sebuah peringatan keras agar mereka bertaubat dan memperbaiki jalan hidup mereka sebelum terlambat. Ayat ini mengajak umat Islam untuk senantiasa introspeksi. Apakah perilaku kita saat ini sedang membangun kebaikan untuk diri kita, atau justru sedang mengundang kehancuran yang telah diperingatkan oleh ayat ini? Memahami **surat 17 ayat 07** adalah memahami bahwa kekuasaan dan kemakmuran hanyalah titipan yang bisa dicabut jika kita menyalahgunakannya. Keberlangsungan nikmat Allah bergantung pada konsistensi kita dalam menjalankan perintah-Nya.