Ayat kelima dari Surat Al-Isra' ini secara spesifik berbicara mengenai Bani Israil (keturunan Nabi Ya'qub) dan sebuah pemberitahuan yang diturunkan kepada mereka melalui Kitab Taurat. Pemberitahuan ini meramalkan dua periode utama di mana mereka akan menyebarkan kerusakan dan kezaliman di muka bumi, diikuti oleh kesombongan yang sangat tinggi.
Kerusakan Pertama (Al-Fasadul Awwal): Kerusakan pertama ini umumnya ditafsirkan merujuk pada perbuatan keji dan pemberontakan mereka di masa kenabian, seperti pembunuhan para nabi, pengkhianatan terhadap perjanjian Allah, dan penyimpangan terhadap ajaran Taurat. Akibat dari kerusakan ini, Allah mengirimkan hukuman pertama, seringkali dihubungkan dengan penaklukan oleh bangsa lain, seperti penaklukan oleh Raja Jalut (dalam beberapa riwayat) atau kehancuran oleh kekaisaran besar.
Kesombongan yang Congkak ('Uluwwan Kabira): Setelah hukuman pertama, terdapat jeda di mana mereka diberi kesempatan untuk kembali. Namun, ketika mereka merasa kembali kuat, mereka justru jatuh ke dalam kesombongan yang lebih besar. Kesombongan ini bukan sekadar arogansi sosial, melainkan penolakan total terhadap kebenaran dan klaim superioritas mutlak atas manusia lainnya, yang puncaknya adalah penolakan terhadap risalah Nabi Muhammad SAW.
Kerusakan Kedua (Al-Fasadul Tsani): Kerusakan yang kedua adalah konsekuensi dari kesombongan yang kedua tersebut. Sebagian besar mufassir menghubungkan kerusakan kedua ini dengan perbuatan mereka pasca-diutusnya Nabi Isa AS, termasuk pembunuhan nabi dan penyimpangan ekstrem dari ajaran tauhid. Hukuman yang menyusul adalah penaklukan yang lebih dahsyat, seperti kehancuran total oleh bangsa Romawi yang menghancurkan Baitul Maqdis (Yerusalem) untuk kedua kalinya.
Pelajaran Universal dari Peringatan Ilahi
Meskipun ayat ini secara spesifik ditujukan kepada Bani Israil, pelajarannya bersifat universal dan berlaku bagi setiap umat. Surat Al-Isra' ayat 5 adalah sebuah mekanisme peringatan ilahi. Allah SWT selalu memberikan peringatan terlebih dahulu sebelum menjatuhkan konsekuensi.
Bahaya Kesombongan: Poin sentral ayat ini adalah bahaya dari kesombongan ('uluwwan kabira). Kesombongan adalah penyakit hati yang membuat seseorang merasa dirinya lebih tinggi dari kebenaran dan lebih berhak atas nikmat dibandingkan orang lain. Ketika kesombongan menguasai, kerusakan moral dan sosial pasti mengikuti, karena mereka merasa tidak terikat oleh aturan ilahi.
Siklus Kerusakan dan Hukuman: Ayat ini menunjukkan pola siklus yang terjadi pada peradaban yang jatuh: nikmat datang, kemudian kesombongan muncul, kesombongan melahirkan kerusakan, dan kerusakan dibalas dengan hukuman. Pemahaman ini menjadi pengingat penting bagi umat Islam agar senantiasa waspada terhadap godaan kekuasaan dan kemudahan duniawi yang dapat menjerumuskan pada kesombongan.
Sebagai penutup, Surat Al-Isra' ayat 5 adalah cerminan keadilan dan kebijaksanaan Allah. Ia bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan sebuah prinsip abadi: siapapun yang menyombongkan diri dan melakukan kerusakan secara berulang, pasti akan menuai konsekuensi yang telah dijanjikan dalam catatan ilahi.