Siti Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, istri tercinta Rasulullah SAW, adalah salah satu sumber utama dan terpercaya mengenai kepribadian serta akhlak mulia suami beliau. Ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah, Aisyah RA menjawab dengan sangat ringkas namun padat maknanya: "Akhlak beliau adalah Al-Qur'an."
Jawaban sederhana ini mengandung makna yang sangat mendalam. Ini menunjukkan bahwa setiap ayat, setiap perintah, dan setiap larangan dalam Al-Qur'an telah terinternalisasi sepenuhnya dalam diri Nabi Muhammad SAW. Beliau bukan hanya membaca dan mengajarkan Al-Qur'an, tetapi beliau juga menjadi perwujudan hidup dari ajaran suci tersebut.
Kelembutan dan Kesabaran yang Luar Biasa
Aisyah RA sering kali menyoroti sifat kasih sayang dan kelembutan Rasulullah. Meskipun memegang posisi tertinggi sebagai pemimpin umat, beliau tidak pernah bersikap kasar atau meninggikan suara kepada keluarganya. Dalam banyak riwayat, Aisyah menceritakan bagaimana beliau menyaksikan Rasulullah SAW membantu pekerjaan rumah tangga, menjahit pakaiannya sendiri, dan melayani kebutuhan keluarga tanpa ada rasa sungkan.
Kesabaran beliau teruji dalam berbagai situasi, baik dalam menghadapi hinaan kaum kafir Makkah, pengkhianatan dalam peperangan, maupun kesulitan ekonomi. Kesabaran ini bukanlah pasif, melainkan kesabaran yang disertai dengan keteguhan iman dan strategi yang bijaksana. Aisyah menjadi saksi bagaimana Nabi SAW merespons kekasaran dengan maaf dan membalas keburukan dengan kebaikan, persis seperti yang diajarkan dalam Al-Qur'an.
Sikap Rendah Hati (Tawadhu')
Salah satu ciri menonjol dari akhlak Rasulullah yang selalu dikagumi oleh Aisyah adalah kerendahan hati beliau. Meskipun dijamin surga dan menjadi manusia paling mulia, beliau menolak untuk diperlakukan secara istimewa. Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi SAW selalu makan bersama budak, duduk di mana saja tempat tersedia dalam majelis, dan bahkan pernah berkata, "Aku hanyalah seorang hamba. Aku makan seperti hamba makan, dan aku duduk seperti hamba duduk."
Kerendahan hati ini membuat beliau mudah didekati oleh siapa pun, dari anak kecil hingga orang tua, dari orang kaya hingga orang miskin. Beliau tidak pernah membiarkan kedudukannya menjadi penghalang dalam berinteraksi sosial.
Pemimpin yang Penuh Empati
Empati adalah inti dari kepribadian Rasulullah. Aisyah RA sering mengisahkan bagaimana Nabi SAW sangat memperhatikan perasaan orang lain. Beliau tidak pernah memaksakan kehendak, dan selalu mendengarkan dengan seksama ketika seseorang berbicara, bahkan orang yang paling hina sekalipun di mata masyarakat saat itu.
Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan Aisyah, beliau menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah memukul wanita, pelayan, atau siapa pun dengan tangannya. Jika beliau harus menunjukkan ketidaksukaan, beliau akan melakukannya melalui perkataan atau sikap yang tidak menyakitkan secara fisik, menunjukkan betapa mulianya prinsip keadilan dan kasih sayang yang beliau pegang teguh.
Kejujuran dan Amanah
Sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW telah dikenal luas dengan julukan "Al-Amin" (yang terpercaya). Sifat jujur dan amanah ini adalah fondasi yang membangun hubungan sosialnya, termasuk hubungannya dengan Aisyah RA.
Aisyah menyaksikan langsung bagaimana kejujuran beliau terwujud dalam setiap janji dan transaksi. Ini adalah cerminan nyata dari ajaran agama yang beliau bawa, di mana integritas moral adalah pilar utama keimanan. Menjaga janji, walau sekecil apapun, adalah bagian tak terpisahkan dari akhlak beliau yang sempurna.
Kesimpulan Akhlak
Berdasarkan penuturan Aisyah RA dan riwayat-riwayat lain, akhlak Rasulullah SAW adalah kesempurnaan yang terpadu antara kelembutan batin, ketegasan dalam prinsip, kerendahan hati dalam status, serta implementasi praktis dari setiap perintah ilahi dalam Al-Qur'an. Beliau adalah "Al-Qur'an berjalan" yang mengajarkan umatnya bahwa moralitas tertinggi datang dari hati yang tunduk pada kehendak Allah SWT.