Surat Al-Ma'idah, yang berarti "Hidangan" atau "Meja Perjamuan," adalah salah satu surat terpanjang dalam Al-Qur'an, diturunkan di Madinah pada periode akhir kenabian. Nama unik ini diambil dari kisah para pengikut Nabi Isa AS yang meminta hidangan dari langit, sebagaimana diceritakan dalam ayat 112 hingga 115. Namun, substansi surat ini jauh lebih luas, meliputi berbagai aspek fundamental dalam kehidupan seorang Muslim, mulai dari hukum syariat, perjanjian, hingga etika sosial dan spiritual.
Al-Ma'idah dikenal sebagai salah satu surat yang sangat kaya akan penetapan hukum (syariat). Ayat-ayat awal, khususnya, menekankan pentingnya menepati janji dan perjanjian, baik antara manusia dengan Allah maupun antar sesama manusia. Penegasan akan pentingnya memenuhi akad ini menunjukkan bahwa integritas moral dan komitmen adalah landasan utama dalam beragama.
Hukum-hukum penting lainnya yang termuat meliputi: kehalalan binatang buruan yang ditangkap oleh hewan terlatih (ayat 4), ketentuan pernikahan antara Muslim dengan Ahli Kitab (ayat 5), serta larangan keras terhadap pembunuhan yang tidak beralasan. Ayat yang sangat mendalam adalah yang menyerukan keadilan mutlak, bahkan ketika itu harus diterapkan kepada diri sendiri atau kelompok yang dibenci: "Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Ma'idah: 8).
Surat ini juga mengulas kembali sejarah para nabi terdahulu, memberikan pelajaran berharga bagi umat Nabi Muhammad SAW. Kisah Nabi Musa AS saat memimpin Bani Israil menuju Tanah Suci, dan penolakan mereka untuk memasukinya karena rasa takut, menjadi teguran keras mengenai pentingnya ketaatan tanpa syarat kepada perintah ilahi.
Ayat yang sering dikutip adalah mengenai kisah penolakan mereka untuk berjihad, yang berujung pada hukuman pengembaraan selama empat puluh tahun di padang pasir. Ini menggarisbawahi konsekuensi dari keberanian yang hilang dan keengganan untuk melaksanakan tanggung jawab spiritual dan sosial yang diberikan oleh Allah SWT.
Bagian sentral dari surat ini adalah dialog mengenai permintaan kaum Hawariyyin (para pengikut setia Nabi Isa AS) agar Allah SWT menurunkan hidangan dari langit. Kisah ini, sebagaimana tercantum dalam ayat 112-115, bukan hanya sekadar cerita tentang makanan. Ia adalah ujian keimanan yang luar biasa. Setelah hidangan itu turun, Allah SWT menetapkan syarat bahwa siapa pun di antara mereka yang kafir setelah itu akan mendapat azab yang belum pernah diberikan kepada siapapun di antara umat manusia.
Pesan yang dapat dipetik adalah bahwa kemudahan dan mukjizat yang diberikan oleh Allah harus diiringi dengan peningkatan kualitas iman, bukan malah menjadi jalan menuju keraguan atau kekufuran.
Secara keseluruhan, Surat Al-Ma'idah adalah sebuah kompendium etika, hukum, dan sejarah kenabian. Surat ini mengajak umat Islam untuk hidup dalam bingkai ketakwaan yang menyeluruh. Ketakwaan ini terwujud melalui penegakan keadilan yang obyektif, pemenuhan janji, menjaga batasan-batasan halal dan haram, serta selalu menghadirkan Allah sebagai saksi utama dalam setiap ucapan dan perbuatan. Memahami surat ini berarti memahami bagaimana membangun sebuah komunitas yang adil dan berlandaskan iman yang kokoh.