Dalam ajaran Islam, persatuan umat adalah salah satu pilar utama yang sangat ditekankan. Al-Qur'an, sebagai pedoman hidup bagi setiap Muslim, senantiasa memberikan panduan dan nasihat tentang bagaimana menjaga keutuhan dan kekuatan ukhuwah Islamiyah. Salah satu ayat yang sangat relevan dan mendalam maknanya dalam konteks ini adalah Surat Al-Anfal ayat 63. Ayat ini tidak hanya berbicara tentang pentingnya persatuan, tetapi juga bagaimana mencapai persatuan tersebut melalui keimanan dan rasa takut kepada Allah SWT.
Surat Al-Anfal, yang berarti "Harta Rampasan Perang," merupakan surat Madaniyah yang turun setelah peristiwa Perang Badar. Ayat ke-63 dari surat ini memiliki kedudukan strategis dalam menjelaskan bagaimana seharusnya sikap seorang Mukmin dalam menghadapi berbagai situasi, terutama yang berkaitan dengan hubungan antar sesama.
"Dan kalaupun engkau (Muhammad) membelanjakan semua kekayaan yang ada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
Ayat ini secara gamblang menjelaskan bahwa kekuatan terbesar dalam mempersatukan hati manusia bukanlah harta benda, kekuatan fisik, atau segala upaya duniawi semata. Sebaliknya, yang memiliki kemampuan sesungguhnya untuk menyatukan hati adalah Allah SWT. Bahkan, jika Nabi Muhammad SAW sendiri berusaha keras dengan seluruh kekayaan dunia untuk menyatukan hati orang-orang yang berbeda pandangan atau memiliki perselisihan, beliau tidak akan mampu melakukannya tanpa izin dan pertolongan Allah.
Persatuan hati bukanlah sekadar kesamaan pandangan atau tujuan yang dangkal. Ia mencakup kesamaan visi, empati, kasih sayang, dan rasa saling memiliki yang mendalam antar individu. Ketika hati telah bersatu, maka akan lahir kekuatan kolektif yang luar biasa, mampu menghadapi tantangan, membangun peradaban, dan menyebarkan kebaikan.
Surat Al-Anfal ayat 63 memberikan pelajaran penting bahwa upaya penyatuan hati harus selalu disandarkan kepada Allah. Harta, kekuasaan, atau kecerdasan manusia memiliki keterbatasan. Sementara itu, Allah SWT dengan sifat Maha Perkasa dan Maha Bijaksana-Nya memiliki kendali penuh atas segalanya, termasuk hati setiap makhluk-Nya. Dialah yang Maha Mampu untuk menumbuhkan rasa cinta, kasih sayang, dan kedamaian di antara hamba-hamba-Nya.
Ada beberapa hikmah dan pelajaran berharga yang dapat kita petik dari Surat Al-Anfal ayat 63 ini:
Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak merasa sombong dengan kekuatan atau kemampuan diri sendiri dalam membangun hubungan dan persatuan. Selalu memohon pertolongan dan taufik dari Allah agar hati kita senantiasa terikat dalam kebaikan dan persaudaraan.
Meskipun Allah yang mempersatukan hati, bukan berarti kita berdiam diri. Ajaran Islam selalu menekankan keseimbangan antara usaha lahir (ikhtiar) dan doa (tawakkal). Kita diperintahkan untuk berbuat baik, menjaga silaturahmi, berdialog dengan bijak, dan menghindari perpecahan. Sambil terus berdoa agar Allah menumbuhkan rasa kasih sayang dan persatuan di antara kita.
Memahami ayat ini juga menjadi pengingat kuat agar kita tidak menjadi penyebab perpecahan. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, namun jika perbedaan tersebut sampai merusak ukhuwah dan menimbulkan kebencian, maka kita telah menjauh dari nilai-nilai Islam.
Ketika kita merasakan adanya keharmonisan dan persatuan dalam sebuah kelompok atau masyarakat, hendaklah kita senantiasa bersyukur. Syukur atas karunia Allah yang telah menyatukan hati kita, dan terus berupaya menjaganya.
Surat Al-Anfal ayat 63 adalah permata hikmah yang mengajarkan kita tentang sumber kekuatan sejati dalam persatuan. Ia mengingatkan bahwa hanya Allah yang memiliki kuasa untuk mempersatukan hati. Oleh karena itu, setiap usaha untuk membangun keharmonisan, perdamaian, dan persaudaraan haruslah dilandasi keimanan, ketundukan, dan permohonan kepada-Nya. Dengan begitu, kita akan dapat mewujudkan kekuatan ukhuwah Islamiyah yang kokoh, yang mampu membawa kemaslahatan bagi diri sendiri, masyarakat, dan umat manusia secara keseluruhan. Mari kita renungkan ayat ini dan jadikan sebagai panduan dalam setiap interaksi kita.