Surat Al-Hijr, yang berarti "Batu Karang," adalah surat ke-15 dalam Al-Qur'an. Di dalamnya tersimpan kisah-kisah agung dan peringatan penting bagi umat manusia. Salah satu momen paling fundamental yang diabadikan dalam surat ini adalah dialog ilahi antara Allah SWT dengan para malaikat-Nya mengenai rencana penciptaan khalifah pertama di bumi, yaitu Nabi Adam AS. Ayat 28 dan 29 secara spesifik menyoroti tahapan persiapan dan peniupan ruh ke dalam jasad tanah liat tersebut.
Dua ayat ini membuka tirai salah satu peristiwa paling bersejarah dalam narasi alam semesta: penciptaan manusia. Allah SWT memulai proses ini dengan sebuah deklarasi dan pengumuman kepada para malaikat. Pengumuman ini bukan sekadar pemberitahuan, melainkan sebuah pengesahan atas rencana besar Allah untuk mengisi bumi dengan makhluk yang istimewa.
Ayat 28 menjelaskan material dasar penciptaan Adam. Frasa "shalṣālin min ḥamā'in masnūn" sangat deskriptif. Shalṣāl merujuk pada tanah yang telah dikeringkan hingga berbunyi denting ketika disentuh, menunjukkan tahap awal pengerasan. Sementara itu, tanah itu berasal dari ḥamā'in masnūn, yaitu lumpur hitam yang sudah diberi bentuk atau diolah. Ini menandakan bahwa penciptaan Adam melalui tahapan yang terstruktur, dari bahan mentah (tanah/debu) hingga menjadi substansi yang siap dibentuk. Proses ini menekankan kerendahan asal usul fisik manusia, sebuah pengingat akan hakikat diri kita yang berasal dari elemen bumi.
Ayat 29 adalah puncak dari persiapan tersebut. Setelah proses pembentukan fisik yang sempurna—yaitu ketika Allah telah "menyempurnakan bentuknya"—maka tiba saatnya transformasi dramatis terjadi: peniupan ruh. Peniupan ruh ini ditandai dengan penegasan ilahiyah: "dan meniupkan padanya ruh (ciptaan)-Ku." Penggunaan kata ganti kepemilikan 'Ku' (min Rūḥī) menunjukkan bahwa ruh tersebut adalah sesuatu yang berasal langsung dari kehendak dan kuasa Allah, memberikannya kedudukan yang sangat mulia, berbeda dengan ciptaan lain.
Momentum peniupan ruh ini diikuti dengan perintah tegas yang mengandung ujian keimanan dan kepatuhan tertinggi bagi seluruh malaikat: "maka tundukkanlah dirimu dengan bersujud kepadanya." Sujud ini bukanlah sujud ibadah—karena ibadah hanya ditujukan kepada Allah—melainkan sujud penghormatan (taslim), pengakuan atas keistimewaan kedudukan Adam sebagai khalifah, dan penerimaan terhadap otoritasnya di muka bumi. Dialog dalam Al-Hijr 28-29 ini menjadi fondasi bagi seluruh narasi ketuhanan, malaikat, dan manusia, menegaskan posisi sentral manusia dalam rencana ilahi, terlepas dari asal usulnya yang rendah.
Kisah ini mengajarkan beberapa pelajaran mendalam. Pertama, ketuhanan Allah yang Maha Berkuasa atas segala materi dan non-materi. Kedua, bahwa kemuliaan sejati bukan semata-mata ditentukan oleh asal penciptaan (seperti malaikat yang diciptakan dari cahaya), melainkan oleh mandat dan kehormatan yang diberikan oleh Sang Pencipta. Ketika Adam menerima ruh dari Allah, statusnya langsung terangkat melampaui semua makhluk yang ada saat itu. Ketiga, kisah ini menjadi dasar pemahaman kita tentang kewajiban menghormati ilmu dan keistimewaan yang dimiliki manusia, yang diakui bahkan oleh para malaikat yang notabene lebih dahulu diciptakan dan lebih dahulu beribadah.
Oleh karena itu, merenungkan Al-Hijr ayat 28 dan 29 adalah merenungkan esensi keberadaan kita. Kita tercipta dari debu, namun dibekali dengan partikel ruh ilahi yang menuntut tanggung jawab besar sebagai khalifah di bumi. Kepatuhan para malaikat menjadi cermin bagi kita agar senantiasa tunduk pada perintah Allah dalam rangka menghormati amanah yang telah diberikan-Nya kepada keturunan Adam.