Kajian Tafsir: Al Hijr Ayat 5

Teks dan Makna Al Hijr Ayat 5

وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَّعْلُومٍ

(5) Dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.

Surah Al-Hijr, surat ke-15 dalam Al-Qur'an, mengandung banyak pelajaran mendalam mengenai tauhid, kenabian, dan hikmah di balik ciptaan Allah. Ayat kelima dari surah ini, sebagaimana yang tertera di atas, menyajikan sebuah prinsip fundamental mengenai cara Allah menurunkan wahyu-Nya, yaitu Al-Qur'an. Ayat ini secara eksplisit menegaskan bahwa segala sesuatu yang diturunkan oleh Allah, terutama Al-Qur'an, memiliki ketetapan dan ukuran yang pasti.

Frasa kunci dalam ayat ini adalah "biqadarim ma'lum" (dengan ukuran yang tertentu). Ini bukan hanya berlaku untuk penurunan wahyu, tetapi seringkali menjadi gambaran umum bagaimana Allah mengatur alam semesta. Tidak ada kejadian, rezeki, hukuman, atau anugerah yang terjadi tanpa perhitungan dan batas yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Hikmah di Balik Keteraturan Wahyu

Mengapa Allah menegaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan menurut ukuran yang tertentu? Ada beberapa hikmah utama yang dapat kita tarik. Pertama, ini menunjukkan kesempurnaan dan kebijaksanaan ilahi. Jika Al-Qur'an diturunkan sekaligus secara utuh, umat manusia mungkin akan kesulitan untuk mencerna, menghafal, dan mengamalkannya secara bertahap. Penurunan secara bertahap (bertahap) memungkinkan umat Islam untuk menyerap ajaran, menyesuaikan diri dengan perubahan konteks sosial, dan mengamalkan hukum secara bertahap seiring dengan kematangan iman mereka.

Kedua, penegasan ini berfungsi sebagai bantahan terhadap mereka yang meragukan keaslian Al-Qur'an atau yang menuntut agar wahyu turun sesuai dengan keinginan mereka—sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya di surah yang sama (misalnya, permintaan kaum musyrik agar Al-Qur'an diturunkan dalam bentuk yang lebih 'logis' atau dalam satu waktu). Ayat 5 menjadi jawaban tegas: Allah mengetahui apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya. Kecepatan dan urutan penurunan wahyu telah diukur secara sempurna untuk tujuan pendidikan spiritual dan pembentukan karakter.

Simbolisasi Wahyu Terukur Ukuran 1 Ukuran 2 Kitab

Konsekuensi Bagi Mereka yang Mempermainkan Kadar Allah

Ayat ini juga memiliki implikasi teologis yang kuat. Ketika Allah menetapkan ukuran tertentu untuk sesuatu, itu berarti tidak ada ruang untuk modifikasi sewenang-wenang dari pihak manusia. Dalam konteks kenabian, beberapa orang Quraisy pernah menantang Nabi Muhammad ﷺ untuk menurunkan Al-Qur'an dengan kecepatan yang mereka inginkan. Mereka menginginkan wahyu datang sesuai dengan kenyamanan dan kepentingan mereka sendiri.

Namun, Allah menjawab tantangan tersebut dengan menegaskan bahwa Dia adalah Penguasa tunggal atas waktu dan cara penurunan wahyu. Ini mengajarkan kepada manusia bahwa iman sejati adalah kepasrahan total terhadap hikmah Tuhan, bukan berusaha mendikte kehendak-Nya. Ketika kita memahami bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk yang terukur, kita akan lebih menghargai setiap ayat dan surah yang telah diturunkan pada waktu yang tepat. Kita belajar untuk bersabar dalam menunggu solusi atau jawaban ilahi, mengetahui bahwa jawaban itu pasti datang sesuai "ukuran yang telah ditentukan" oleh Sang Maha Bijaksana.

Selain penurunan Al-Qur'an, konsep "ukuran tertentu" ini merambah ke seluruh aspek kehidupan. Rezeki kita, masa hidup kita, tantangan yang kita hadapi, semuanya telah diukur. Pandangan ini memberikan ketenangan batin. Jika kita berada dalam kesulitan, kita tahu bahwa kesulitan itu tidak akan melebihi batas kemampuan kita untuk menanggungnya, karena Allah tidak akan membebani seseorang melampaui batas kesanggupannya (sebagaimana disebutkan di ayat lain).

Penutup: Iman pada Ketetapan Ilahi

Al Hijr ayat 5 adalah penegasan tentang kedaulatan dan kebijaksanaan Allah SWT. Ia mengingatkan bahwa kebenaran (wahyu) diturunkan dengan metodologi yang sempurna—sistematis, teratur, dan sesuai kebutuhan umat. Bagi seorang Muslim, ini harus menumbuhkan keyakinan bahwa tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Segala sesuatu memiliki tujuan dan takaran yang telah ditetapkan oleh Zat yang Maha Tahu, Maha Kuasa, dan Maha Adil. Memahami dan menerima prinsip ini adalah langkah awal menuju ketenangan dan kepasrahan yang hakiki dalam beragama.

🏠 Homepage