QS. Al-Hijr (15): 94 Ayat
Surat Al-Hijr adalah surat ke-15 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Surat ini termasuk golongan Makkiyah karena diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Nama "Al-Hijr" sendiri berarti "batu karang" atau "tempat yang dipahat", merujuk pada kisah kaum Tsamud yang terkenal memahat rumah di gunung batu, sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat awal surat ini (ayat 80-84).
Surat Al-Hijr memiliki pesan-pesan utama yang menyentuh akidah, kisah-kisah nabi terdahulu (seperti Nabi Ibrahim, Nabi Luth, Nabi Syu'aib, dan Nabi Shalih), serta peringatan keras bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah. Surat ini juga menekankan keagungan Al-Qur'an sebagai wahyu yang dijaga kemurniannya oleh Allah SWT.
Salah satu fokus utama dalam Surat Al-Hijr adalah kisah kaum Tsamud, kaum Nabi Shalih AS. Mereka diberikan mukjizat berupa unta betina yang keluar dari batu, namun mereka malah membunuh unta tersebut karena kesombongan dan kedengkian. Allah SWT kemudian membinasakan mereka, menunjukkan bahwa nikmat dan peringatan tidak akan diindahkan oleh mereka yang hatinya tertutup. Ayat 80-84 secara eksplisit mengingatkan tentang peristiwa di Al-Hijr, yaitu negeri kaum Tsamud yang dahulu mereka tempati dengan memahat rumah-rumah mereka di gunung.
Selain kisah kaum terdahulu, Surat Al-Hijr juga menegaskan status Al-Qur'an. Dalam beberapa ayat, Allah SWT berfirman tentang keotentikan dan kemuliaan Al-Qur'an. Ayat 9, misalnya, berbunyi: "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur'an, dan Kami-lah penjaganya." Penegasan ini menjadi penenang bagi Nabi Muhammad SAW dan umat Islam bahwa wahyu yang dibawa adalah kebenaran mutlak yang dilindungi dari perubahan dan penyelewengan hingga hari kiamat.
Surat ini juga mengajarkan tentang pentingnya kesabaran (sabar) dalam menghadapi ejekan atau penolakan dari orang-orang yang ingkar. Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk membiarkan orang-orang kafir menikmati kesenangan duniawi sesaat, karena azab yang sesungguhnya telah menanti mereka. Hal ini menekankan prinsip bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, sedangkan pertanggungjawaban di akhirat adalah kekal.
Hikmah lain yang bisa diambil adalah kisah Nabi Ibrahim yang mendapatkan kabar gembira tentang kelahiran Nabi Ishak, meskipun usianya sudah sangat tua. Kisah ini menjadi penguat bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. Sebaliknya, ketika Nabi Luth diperintahkan untuk meninggalkan kaumnya yang fasik, ia diperintahkan untuk menjauhi mereka sebelum azab datang menimpa.
Secara keseluruhan, Surat Al-Hijr berfungsi sebagai pengingat bahwa setiap umat memiliki takdir yang telah ditentukan, dan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk abadi yang dijaga oleh Sang Pencipta. Memahami dan merenungi ayat-ayatnya memberikan ketenangan jiwa dan menguatkan keyakinan akan hari pembalasan.