Surat Al-Hijr merupakan surat ke-15 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Surat ini tergolong Makkiyah, yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Nama surat ini diambil dari kata "Al-Hijr" yang disebutkan dalam ayat 80, merujuk pada kaum Tsamud yang tinggal di daerah pegunungan batu di antara Hijaz dan Syam. Secara keseluruhan, Al-Hijr menekankan keesaan Allah, kebenaran Al-Qur'an, dan pentingnya beriman serta bersabar dalam menghadapi tantangan dakwah.
Sepuluh ayat pertama surat ini dibuka dengan penegasan akan keagungan Al-Qur'an, diikuti dengan pengingat mengenai nasib umat-umat terdahulu yang ingkar. Ayat-ayat pembuka ini berfungsi sebagai pondasi untuk meyakinkan pembaca tentang validitas wahyu Ilahi.
Berikut adalah kutipan dari sepuluh ayat pertama Surat Al-Hijr beserta terjemahannya, yang penuh dengan penegasan dan peringatan ilahiah.
Ayat 1 menegaskan status Al-Qur'an sebagai wahyu yang jelas dan menerangkan (Mubin), yang merupakan kelanjutan dari kitab-kitab suci sebelumnya. Ayat 2 dan 3 adalah peringatan keras bagi orang-orang kafir. Mereka disibukkan oleh kesenangan duniawi dan angan-angan kosong, namun Allah menegaskan bahwa penyesalan sejati akan muncul ketika mereka menyadari betapa berharganya keimanan yang mereka tolak. Keinginan mereka untuk menjadi Muslim di akhirat adalah sia-sia.
Selanjutnya, ayat 4 dan 5 berbicara tentang ketetapan Allah (sunnatullah) dalam membinasakan kaum yang ingkar. Tidak ada satu pun peristiwa kehancuran yang terjadi tanpa batasan waktu yang telah ditetapkan oleh Allah. Ini menanamkan rasa takut yang sehat dan kesadaran bahwa azab memiliki jadwalnya sendiri.
Ayat 6 dan 7 mencerminkan tantangan yang sering dihadapi para nabi, termasuk Nabi Muhammad SAW, yaitu permintaan kaum musyrik yang menuntut bukti fisik berupa kedatangan malaikat. Permintaan ini hanyalah bentuk kesombongan dan penolakan yang berkedok permintaan bukti.
Namun, Allah menjawab tantangan tersebut dengan penegasan tertinggi dalam ayat 8 dan 9. Malaikat hanya diutus bersama kebenaran sejati (Al-Haqq), dan jika mereka datang saat itu, tidak ada lagi kesempatan menunda azab. Yang paling fundamental adalah janji Allah dalam ayat 9: "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami yang memeliharanya." Ini adalah jaminan kemurnian Al-Qur'an dari perubahan atau distorsi hingga akhir zaman. Ayat 10 kemudian mengaitkan kerasulan Muhammad SAW dengan rangkaian kenabian sebelumnya, menunjukkan bahwa risalah tauhid adalah benang merah sejarah kenabian.
Memahami sepuluh ayat pertama Al-Hijr memberikan landasan kuat mengenai kebenaran Al-Qur'an dan konsekuensi dari penolakan terhadap wahyu ilahi.