Pengantar Singkat
Surat Al-Hijr (Batu yang Dipahat) adalah surat ke-15 dalam Al-Qur'an yang diturunkan di Mekkah. Dua puluh ayat pertama ini merupakan permulaan yang kuat, diawali dengan penegasan keras tentang kesucian Al-Qur'an, ancaman bagi para pendusta, dan seruan kepada manusia untuk merenungkan bukti-bukti kekuasaan Allah SWT di alam semesta.
Ayat-ayat ini menekankan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang benar-benar dijaga keasliannya, dan bahwa orang-orang yang menolak kenabian Muhammad SAW akan menerima konsekuensi serius. Renungan terhadap ciptaan, seperti bintang-bintang dan bumi yang terhampar, menjadi kunci untuk membuka pintu keimanan.
Ketuhanan dan Kebenaran Wahyu (Ayat 1-5)
الٓم ۚ تِلْكَ ءَايَٰتُ ٱلْكِتَٰبِ وَقُرْءَانٍ مُّبِينٍ
(1) Alif, Lam, Ra. Itulah ayat-ayat Kitab (Al-Qur'an) dan (ayat-ayat) yang menjelaskan.
رُّبَمَا يَوَدُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَوْ كَانُوا۟ مُسْلِمِينَ
(2) Orang-orang yang kafir itu berharap sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim.
ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا۟ وَيَتَمَتَّعُوا۟ وَيُلْهِهِمُ ٱلْأَمَلُ ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
(3) Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan (oleh angan-angan), maka kelak mereka akan mengetahui.
Ayat-ayat awal ini langsung menyoroti sifat Al-Qur'an sebagai kitab yang jelas (mubīn). Kejelasan ini kontras dengan keinginan orang kafir yang, saat azab datang, baru berharap menjadi Muslim. Allah memerintahkan untuk membiarkan mereka menikmati kesenangan duniawi sesaat, karena kesadaran tentang realitas akan segera menyusul.
Bencana Kaum Terdahulu dan Kenabian (Ayat 6-11)
وَمَآ أَهْلَكْنَا مِن قَرْيَةٍ إِلَّا وَلَهَا كِتَابٌ مَّعْلُومٌ
(6) Dan Kami tidak membinasakan sesuatu pun melainkan ada ketetapannya yang tertentu.
مَّا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَْٔخِرُونَ
(7) Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak pula dapat mengundurkannya.
Allah mengingatkan bahwa kehancuran kaum-kaum terdahulu memiliki batas waktu yang telah ditentukan. Hikmah di balik penundaan azab adalah agar mereka memiliki kesempatan untuk bertaubat, bukan karena Allah melupakan mereka. Poin penting lain adalah bahwa para malaikat ditugaskan untuk membawa wahyu hanya dengan kebenaran, bukan sekadar permainan.
وَمَا نُنَزِّلُهُۥٓ إِلَّا بِٱلْحَقِّ وَمَا كَانَٓ إِذًا مُّنظَرِينَ
(8) Dan Kami tidak menurunkannya (Al-Qur'an) melainkan dengan kebenaran; dan sekali-kali Al-Qur'an itu tidak diturunkan melainkan dengan hak.
Tanda-Tanda Kebesaran Allah di Alam Semesta (Ayat 12-20)
Bagian penutup dari segmen ini beralih ke tanda-tanda kebesaran Allah yang jelas, yang seharusnya menjadi bukti tak terbantahkan bagi para pengingkar.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ
(9) Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami yang memeliharanya.
Ayat ini adalah janji agung: Al-Qur'an akan dijaga dari perubahan dan distorsi sepanjang masa. Ini menegaskan otoritas dan kesempurnaan firman Allah.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ رُسُلًا فِي فِرَقِ الْأَوَّلِينَ
(10) Dan sungguh telah Kami utus (Nabi-nabi) sebelum kamu kepada kaum-kaum yang terdahulu.
Nabi Muhammad SAW bukanlah orang pertama yang menerima wahyu; serangkaian rasul telah diutus sebelumnya. Ini menunjukkan konsistensi pesan tauhid sepanjang sejarah.
Kemudian, pembahasan beralih ke fenomena alam:
وَمَا يَأْتِيهِم مِّنْ ءَايَةٍ مِّنْ ءَايَٰتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ
(11) Dan tidak datang kepada mereka suatu tanda pun dari tanda-tanda Tuhan mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya.
كَذَٰلِكَ نَسْلُكُهُۥ فِي قُلُوبِ الْمُجْرِمِينَ
(12) Demikianlah Kami memasukkan (Al-Qur'an) ke dalam hati orang-orang yang berdosa.
لَا يُؤْمِنُونَ بِهِۦ وَقَدْ خَلَتْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ
(13) Mereka tidak beriman kepadanya, padahal telah berlalu sunnah (hukum) orang-orang yang terdahulu.
وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِم بَابًا مِّنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ
(14) Dan seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu pintu dari langit, lalu mereka naik melaluinya,
لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَّسْحُورُونَ
(15) niscaya mereka berkata: "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikelabui, bahkan kami adalah orang-orang yang terkena sihir."
Ayat 14 dan 15 menunjukkan puncak kesombongan mereka: bahkan jika Allah membuka gerbang langit dan mereka melihat keajaiban secara langsung, mereka akan tetap menyalahkan pandangan mata mereka sendiri atau mengklaimnya sebagai sihir. Ini adalah penyakit hati yang menolak kebenaran terlepas dari bukti yang disajikan.
وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ
(16) Dan sungguh telah Kami ciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami perindah (pemandangan)nya bagi orang-orang yang memandang.
وَحَفِظْنَاهَا مِن كُلِّ شَيْطَانٍ رَّجِيمٍ
(17) Dan Kami menjaganya dari setiap syaitan yang terhina.
إِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَأَتْبَعَهُۥ شِهَابٌ مُّبِينٌ
(18) Kecuali syaitan yang mencuri-curi pendengaran, lalu ia dikejar oleh bintang yang cemerlang (meteor).
وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ شَيْءٍ مَّوْزُونٍ
(19) Dan Kami telah menghamparkan bumi dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran tertentu.
وَلَقَدْ جَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَلِمَن لَّسْتُمْ لَهُۥ بِرَازِقِينَ
(20) Dan Kami telah menyediakan bagimu di bumi itu (sumber-sumber) penghidupan dan (bagi) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukanlah pemberi rezekinya.
Ayat 16 hingga 20 adalah puncak perenungan kosmik. Allah menunjuk pada keindahan bintang-bintang (buruj) dan bagaimana langit dijaga dari gangguan setan. Kemudian, fokus beralih ke bumi: dihamparkan, dipancangkan gunung sebagai pasak (rawasi), dan segala sesuatu ditumbuhkan dengan takaran yang presisi (mawnūzun). Ini semua disediakan untuk penghidupan, bahkan untuk makhluk yang tidak kita ketahui atau rezekinya bukan tanggung jawab kita.
Penutup
Dua puluh ayat pertama Al-Hijr ini menegaskan tiga pilar utama: keaslian dan penjagaan Al-Qur'an, konsekuensi pasti bagi penolakan, dan bukti nyata kekuasaan Allah yang terukir dalam harmoni langit dan bumi.