Surat Al-Hijr, yang berarti "Batu Karang," adalah surat ke-15 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Surat ini tergolong surat Makkiyah, diturunkan sebelum Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Meskipun sebagian besar surat ini membahas tentang keagungan Allah, kisah kaum Tsamud, dan kebenaran wahyu, pembukaan surat ini, yaitu ayat 1 sampai 5, memuat sumpah dan penekanan kuat mengenai hakikat Al-Qur'an itu sendiri.
Ayat Pembuka dan Sumpah Agung
Ayat pertama langsung menyajikan rangkaian huruf-huruf terputus yang menjadi ciri khas beberapa surat Makkiyah, yaitu Alif, Lam, Ra'. Ini adalah misteri ilahiah yang hanya diketahui maknanya secara hakiki oleh Allah SWT, namun memberikan penekanan bahwa sumber wahyu ini adalah dari Sang Pencipta.
Setelah menyebutkan huruf-huruf tersebut, Allah menegaskan bahwa ayat-ayat yang diturunkan adalah bagian integral dari Kitab Agung (Al-Qur'an) dan merupakan bacaan yang jernih serta terang benderang. Makna 'mubin' (jelas) di sini adalah bahwa pesan-pesan di dalamnya tidak samar; ia memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.
Kekaguman Orang Kafir dan Keinginan Beriman
Ayat berikutnya menyoroti reaksi sebagian besar manusia ketika diperhadapkan pada kebenaran yang dibawa oleh Al-Qur'an. Kebanyakan orang yang ingkar dan menolak dakwah Islam sering kali mengungkapkan rasa takjub mereka yang bercampur dengan keraguan atau penolakan keras terhadap keaslian wahyu tersebut. Ironisnya, mereka lebih memilih ingkar daripada tunduk pada kejelasan yang disajikan.
Ayat ini adalah sebuah peringatan keras. Disebutkan bahwa suatu saat nanti, di akhirat atau bahkan ketika mereka hampir menemui ajal, orang-orang kafir itu akan merasakan penyesalan mendalam. Mereka akan berharap seandainya saja di dunia mereka memilih untuk menjadi Muslim, yaitu berserah diri kepada Allah. Penyesalan ini muncul karena mereka baru menyadari betapa agungnya kedudukan Al-Qur'an dan betapa meruginya penolakan mereka.
Peringatan Terhadap Kehancuran Generasi Terdahulu
Allah kemudian mengingatkan Nabi Muhammad SAW, dan melalui beliau mengingatkan umatnya, mengenai nasib kaum-kaum terdahulu yang juga mendustakan ayat-ayat-Nya. Peringatan ini berfungsi sebagai legitimasi kenabian Muhammad dan sebagai ancaman nyata bagi mereka yang keras kepala.
Ayat ketiga ini memberikan izin kepada Nabi untuk bersabar menghadapi orang-orang yang menolak. Mereka dibiarkan menikmati kesenangan duniawi mereka sesaat. Namun, kesenangan itu semu dan akan segera berakhir. Keasyikan mereka terhadap duniawi (al-amalu) adalah tipu daya yang membuat mereka lupa akan akhirat. Dalam konteks historis, ini merujuk pada kaum musyrikin Mekah yang menikmati kekayaan dari jalur perdagangan mereka, namun lalai terhadap seruan tauhid.
Pelajaran dari Kaum Nabi Luth dan Tsamud
Untuk menguatkan argumen bahwa kerusakan yang disebabkan oleh pendustaan wahyu pasti mendatangkan siksa, Allah merujuk pada contoh nyata dalam sejarah kenabian.
Setiap kehancuran kota atau peradaban bukanlah tindakan sembrono, melainkan sudah ada waktu dan syarat yang ditentukan (kitabun ma'lum). Kehancuran itu terjadi hanya setelah peringatan disampaikan secara sempurna dan mereka melewati batas legalitas kehancuran.
Ayat penutup dari rangkaian ini menegaskan bahwa tidak ada satu umat pun yang dapat mempercepat atau menunda takdir kehancuran mereka.
Refleksi dan Kedalaman Makna
Kelima ayat pertama Surat Al-Hijr ini berfungsi sebagai pembukaan yang monumental. Ia menetapkan kredibilitas Al-Qur'an sebagai kalamullah yang jelas (Ayat 1). Kemudian, ia menyoroti ironi terbesar dalam kehidupan manusia: penyesalan di saat yang terlambat (Ayat 2). Peringatan agar tidak terperangkap dalam kesenangan duniawi (Ayat 3) menjadi relevan hingga kini, di mana materialisme seringkali melalaikan kewajiban spiritual. Sementara itu, ayat 4 dan 5 memberikan kepastian teologis bahwa hukum Allah berlaku universal, teratur, dan tidak dapat diganggu gugat oleh kehendak manusia. Ini mengajarkan ketenangan bagi orang beriman dan menjadi ancaman bagi para pendusta. Dengan demikian, ayat-ayat ini adalah landasan penguatan iman dan peringatan akan konsekuensi dari pilihan hidup yang diambil.