Kisah Kaum Nabi Musa dan Pesan Al-Hijr Ayat 11

JANGAN BERLEBIHAN DALAM MENGINGKARI Ilustrasi gerbang yang tertutup dengan peringatan di depannya

Surat Al-Hijr adalah surat ke-15 dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran tentang keesaan Allah, kenabian, serta kisah-kisah umat terdahulu sebagai peringatan bagi umat Nabi Muhammad SAW. Salah satu ayat penting dalam surat ini adalah ayat ke-11, yang seringkali dibahas dalam konteks peringatan dan azab bagi mereka yang menolak kebenaran.

Teks Surat Al-Hijr Ayat 11

إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ
"Sesungguhnya ini adalah perkara yang sangat mengherankan (aneh)."

Ayat ini merupakan bagian dari rangkaian dialog antara malaikat (yang diutus untuk membinasakan kaum Nabi Luth) dengan Nabi Luth AS, atau dalam konteks yang lebih luas, merupakan ungkapan kekaguman atau keheranan terhadap perilaku kaum yang ingkar, khususnya setelah mereka diperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Allah. Dalam konteks tafsir, ayat ini sering dikaitkan dengan ayat sebelumnya (ayat 10), di mana Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk bersabar terhadap orang-orang musyrik yang mengolok-oloknya.

Konteks Ayat dan Pelajaran Penting

Untuk memahami kedalaman makna Surat Al-Hijr ayat 11, penting untuk melihat konteks turunnya ayat-ayat di sekitarnya. Dalam ayat 9 dan 10, Allah SWT berfirman kepada Nabi Muhammad SAW: "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." Kemudian, diperintahkan kepada Nabi untuk berpaling dari orang-orang yang memperolok-olok ayat Allah dan meminta kesabaran. Ayat 11 kemudian muncul sebagai respons terhadap keheranan atau keanehan sikap mereka.

Ayat 11 ini bisa ditafsirkan dalam beberapa cara, namun intinya merujuk pada keanehan perilaku kaum kafir atau musyrikin yang mendustakan wahyu Allah padahal kebenarannya sudah jelas dan kemaslahatannya sangat besar. Mereka melihat keajaiban Al-Qur'an, ajaran tauhid, dan bukti-bukti kebesaran Allah, namun justru meresponsnya dengan ejekan dan pengingkaran.

Keheranan Terhadap Kekafiran

Para mufassir menjelaskan bahwa ucapan "Sesungguhnya ini adalah perkara yang sangat mengherankan" bisa berasal dari lisan orang-orang kafir yang merasa ajaran Islam itu aneh dan tidak masuk akal, terutama ajaran tentang hari kebangkitan dan pertanggungjawaban. Mereka merasa heran bagaimana mungkin tulang belulang yang sudah hancur bisa dihidupkan kembali.

Namun, perspektif yang lebih kuat adalah bahwa kalimat tersebut merupakan ungkapan Allah SWT yang menunjukkan keheranan-Nya terhadap tindakan kaum yang diberikan nikmat akal dan bukti nyata, namun memilih jalan kesesatan. Mereka diperlihatkan bukti-bukti alam semesta, kemudahan dalam menerima Al-Qur'an, namun reaksi mereka adalah menolak secara terang-terangan. Keheranan di sini mengandung makna celaan dan peringatan keras.

Hubungan Ayat dengan Kisah Nabi Luth

Secara spesifik, rangkaian ayat sebelum ayat 11 sering dikaitkan dengan kisah kaum Nabi Luth AS. Ketika para malaikat datang menemui Nabi Luth dalam wujud pemuda yang rupawan, kaumnya datang berbondong-bondong untuk melakukan perbuatan keji. Tanda-tanda kehancuran sudah sangat jelas, namun mereka tetap teguh pada kekejian mereka.

Ketika para malaikat menyampaikan bahwa mereka akan dihancurkan, kaum Luth mungkin menanggapi dengan mengatakan, "Inna hadza la syai'un 'ujab" (Sesungguhnya ini adalah perkara yang sangat mengherankan), merasa heran mengapa ancaman kehancuran itu datang hanya karena mereka menolak seorang rasul atau karena perbuatan mereka yang dianggap biasa oleh mereka sendiri.

Pesan yang dapat diambil adalah bahwa pengingkaran terhadap kebenaran yang jelas, bahkan ketika ancaman azab telah diperlihatkan melalui tanda-tanda alam maupun peringatan nabi, adalah perbuatan yang sangat ganjil dan jauh dari akal sehat. Keanehan tersebut adalah titik awal dari hukuman ilahi.

Peringatan Bagi Umat Islam

Surat Al-Hijr ayat 11 berfungsi sebagai cermin bagi umat Islam. Di tengah banyaknya kemudahan dalam mengakses ilmu agama, menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah di mana-mana, namun masih ada umat yang bersikap apatis, menganggap ringan ajaran agama, atau bahkan menolaknya adalah sebuah ‘keanehan’ yang patut direnungkan. Sikap meremehkan Al-Qur'an dan sunnah adalah bentuk dari pengingkaran yang dicela oleh ayat ini.

Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak pernah merasa bosan atau terbiasa dengan keajaiban Al-Qur'an sehingga kita mengabaikannya. Kesabaran Nabi Muhammad SAW menghadapi olok-olok kaumnya adalah teladan. Kita harus terus berpegang teguh pada petunjuk Allah dan menjauhi sikap heran yang negatif, yakni heran terhadap kebenaran, dan sebaliknya, hanya heran pada kebodohan dan kesesatan yang dipilih oleh sebagian orang.

Pada akhirnya, Al-Hijr ayat 11 menegaskan betapa absurdnya sikap menolak kebenaran yang datang dari Sang Pencipta. Semoga kita termasuk golongan yang senantiasa menyambut wahyu dengan hati yang terbuka dan penuh pengakuan atas keagungan-Nya.

🏠 Homepage