Ilustrasi: Keseimbangan antara Ketetapan Ilahi dan Rezeki
Setiap ayat dalam Al-Qur'an menyimpan kedalaman makna yang tak terhingga. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan mengenai ketetapan Allah SWT adalah surat Al-Hijr ayat 25. Ayat ini berbicara mengenai waktu dan syarat-syarat tertentu yang telah ditetapkan oleh Allah bagi makhluk-Nya, khususnya terkait dengan penghukuman dan pemberian rezeki.
Mari kita telaah bersama teks aslinya, terjemahan, dan implikasi spiritual dari ayat yang mulia ini.
Terjemahan: "Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Hijr: 25)
Perlu diperhatikan bahwa makna ayat ini sering kali terhubung erat dengan ayat sebelumnya (ayat 23 dan 24) yang membahas tentang penciptaan, kematian, dan kebangkitan. Ayat 25 berfungsi sebagai penutup dan penegasan otoritas mutlak Allah atas segala takdir.
Untuk memahami sepenuhnya surat Al-Hijr ayat 25, kita perlu melihat konteks sebelumnya. Dalam ayat-ayat di Surah Al-Hijr, Allah SWT tengah menjelaskan kekuasaan-Nya dalam menciptakan segala sesuatu, mulai dari angin yang membawa benih, hingga proses penciptaan manusia. Kemudian, Allah menegaskan bahwa Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan.
Ayat 23 dan 24 berbunyi:
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan tujuh buah tsiqqoh (tingkatan/langit) di atas kamu, dan Kami sekali-kali tidak lengah terhadap ciptaan (Kami)." (QS. Al-Hijr: 22)
"Dan Kami menurunkan air dari langit dengan ukuran tertentu, lalu Kami tahan air itu di bumi (dan Kami tidak membiarkannya lenyap), dan sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa membangkitkannya kembali." (QS. Al-Hijr: 23)
"Dan sungguh, Kami telah menciptakan di atasmu tujuh jalan (lapisan langit), dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami)." (QS. Al-Hijr: 24)
Setelah menegaskan kuasa-Nya dalam penciptaan dan pengelolaan alam semesta, serta kemampuan-Nya menghidupkan kembali, muncullah penegasan pamungkas di ayat 25.
Ayat ini mengandung dua sifat utama Allah SWT yang saling melengkapi: Khallāq (Maha Pencipta) dan Al-‘Alīm (Maha Mengetahui).
Penegasan bahwa Allah adalah Pencipta menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada—baik yang tampak maupun yang gaib, yang hidup maupun yang mati, yang terjadi sekarang maupun yang akan datang—semuanya berasal dari kodrat dan kehendak-Nya. Tidak ada tandingan bagi ciptaan-Nya. Ini mengharuskan seorang hamba untuk berserah diri sepenuhnya karena yang mengatur segala sesuatu adalah Sang Pencipta yang Maha Sempurna.
Sifat Maha Mengetahui ini menyempurnakan sifat Pencipta. Allah tidak hanya menciptakan, tetapi Dia mengetahui setiap detail dari ciptaan-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di dasar lautan terdalam, apa yang tersembunyi dalam hati manusia, dan apa yang akan terjadi di masa depan. Ketika konteksnya adalah tentang ketetapan, rezeki, atau bahkan hukuman, pengetahuan-Nya memastikan bahwa ketetapan itu adil dan tepat sasaran.
Mengapa kedua sifat ini disebutkan bersamaan? Dalam banyak konteks tafsir, ayat ini sering dikaitkan dengan ayat sebelumnya (Al-Hijr 23) yang berbicara tentang penundaan azab atau penundaan pemberian hujan. Allah menahan rezeki atau menunda keputusan-Nya bukan karena Dia lupa atau tidak mampu bertindak, melainkan karena Dia mengetahui waktu terbaik dan paling tepat untuk mewujudkannya.
Bagi seorang mukmin, perenungan atas surat Al-Hijr ayat 25 memberikan ketenangan hati. Ketika kita menghadapi kesulitan, kita diingatkan bahwa kesulitan itu mungkin adalah bagian dari rencana penciptaan dan pengelolaan yang sempurna oleh Al-Khallāq. Ketika kita merasa rezeki kita tertahan, kita yakin bahwa Al-‘Alīm mengetahui kapan rezeki itu harus dicurahkan.
Ini menuntut kita untuk terus berusaha (ikhtiar) sambil memasrahkan hasil sepenuhnya kepada-Nya. Segala sesuatu memiliki waktu yang telah ditentukan, dan penentu waktu tersebut adalah Zat yang Maha Tahu segalanya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Tidak ada satupun keputusan-Nya yang sia-sia atau tidak memiliki tujuan akhir yang mulia.
Dengan demikian, ayat ini menegaskan pondasi tauhid yang kokoh: Dialah sumber segala keberadaan, dan Dia pulalah yang memiliki ilmu absolut atas segala yang diciptakan-Nya.