Imam Abu Hamid Al Ghazali, seorang ulama besar Persia dan filsuf terkemuka, dikenal luas karena kontribusinya yang mendalam dalam bidang teologi, hukum Islam, dan terutama, tasawuf. Bagi Al Ghazali, akhlak (moralitas atau etika) bukanlah sekadar kumpulan praktik lahiriah, melainkan fondasi esensial bagi kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat. Ia meyakini bahwa tujuan utama hidup manusia adalah mencapai kedekatan dengan Tuhan, dan jalan menuju kedekatan itu melalui pemurnian jiwa (tazkiyatun nafs) dan pembentukan akhlak yang terpuji.
Al Ghazali mengintegrasikan ajaran syariat, hakikat, dan makrifat dalam pandangannya tentang akhlak. Ia tidak memisahkan ibadah ritual (maḥḍah) dari interaksi sosial. Keduanya harus berjalan selaras, karena kualitas ibadah seseorang akan tercermin pada perilakunya sehari-hari. Dalam karyanya yang monumental, Ihya Ulumuddin (Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama), ia secara sistematis menguraikan bagaimana seorang Muslim harus membangun karakternya.
Menurut Al Ghazali, akhlak bersumber dari sifat-sifat batiniah (penyakit hati). Ada sifat-sifat tercela (seperti kesombongan, dengki, riya', dan cinta dunia) yang harus dihilangkan, dan sifat-sifat terpuji (seperti sabar, syukur, tawakal, dan ikhlas) yang harus ditanamkan.
Inti Ajaran: Akhlak adalah keadaan jiwa (malakah) yang mudah memunculkan perbuatan baik tanpa perlu banyak pertimbangan atau paksaan, serta menjauhi keburukan secara alami.
Al Ghazali memandang bahwa tubuh manusia adalah wadah bagi jiwa, dan perbaikan akhlak dimulai dari penyembuhan penyakit-penyakit hati. Ia mengidentifikasi beberapa penyakit utama yang menghalangi seseorang mencapai kesempurnaan spiritual:
Aspek terpenting dalam pembentukan akhlak menurut Imam Al Ghazali adalah niat (niyyah) dan keikhlasan. Sebuah perbuatan, seberapa pun baiknya di mata manusia, tidak akan bernilai di sisi Allah jika didorong oleh motif duniawi (seperti mencari pujian atau jabatan). Ikhlas berarti membebaskan amal perbuatan dari segala unsur selain keridhaan Allah.
Al Ghazali menekankan bahwa seorang pencari kebenaran harus secara sadar melatih dirinya (mujahadah). Proses pembiasaan ini penting karena akhlak yang baik pada awalnya terasa berat dan memerlukan usaha keras, tetapi lambat laun akan menjadi kebiasaan otomatis, layaknya sifat alami seseorang.
Pembentukan akhlak tidak berhenti pada hubungan vertikal (dengan Tuhan), tetapi harus terwujud nyata dalam hubungan horizontal (dengan sesama makhluk). Al Ghazali mengajarkan bahwa memperlakukan orang lain dengan baik adalah cerminan langsung dari kedamaian batin seseorang. Prinsip universal yang ia tekankan adalah cinta kepada sesama dan tidak menyakiti mereka.
Jika seseorang telah berhasil menundukkan egonya (nafs al-ammarah) dan menggantinya dengan jiwa yang tenang (nafsul mutma'innah), maka secara otomatis ia akan menunjukkan sifat-sifat seperti pemaaf, rendah hati, jujur dalam bermuamalah, dan adil dalam mengambil keputusan. Akhlak mulia ini bukan sekadar etiket sosial, melainkan manifestasi dari iman yang kokoh.
Bagi Al Ghazali, perjuangan terbesar seorang Muslim adalah jihad melawan hawa nafsunya sendiri—sebuah konsep yang ia sebut sebagai Jihad Akbar. Memperbaiki akhlak adalah arena pertempuran spiritual yang berkelanjutan. Dengan membersihkan hati dari racun-racun rohani dan menghiasinya dengan sifat-sifat ilahiah, seorang individu dapat mendekati maqam al-Ihsan, yaitu beribadah seolah-olah melihat Allah, dan jika tidak mampu, yakin bahwa Allah melihatnya. Inilah puncak dari pembentukan akhlak menurut pandangan mendalam Imam Al Ghazali.