Al-Qur'an adalah sumber petunjuk utama bagi umat Islam, dan setiap ayatnya menyimpan hikmah dan pelajaran yang mendalam. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan dalam pembahasan mengenai asal-usul penciptaan manusia adalah Surat Al-Hijr ayat 26. Ayat ini secara eksplisit menegaskan materi dasar pembentukan diri kita, sebuah pengingat akan kerendahan hati dan kebesaran Allah SWT.
Surat Al-Hijr (ayat 15) diturunkan untuk memberikan ketenangan kepada Rasulullah SAW di tengah tantangan dan keraguan dari kaum musyrik Mekkah. Ayat 26 ini hadir dalam konteks pembelaan dan penjelasan mengenai kebenaran risalah Islam, khususnya dengan menegaskan otoritas Allah sebagai Pencipta tunggal. Kata kunci dalam ayat ini adalah "صلصال من حمإ مسنون" (ṣalṣālin min ḥamā'in masnūn).
Frasa "ṣalṣāl" merujuk pada tanah yang sudah mengeras atau tanah liat kering yang mengeluarkan bunyi dentingan ketika dipukul. Ini berbeda dengan kondisi tanah saat penciptaan awal. Sementara itu, "ḥamā'in masnūn" adalah lumpur hitam yang sudah melalui proses pengolahan atau pembentukan. Gabungan kedua deskripsi ini memberikan gambaran yang sangat rinci mengenai tahapan pembentukan fisik Adam AS, yang kemudian menjadi nenek moyang seluruh umat manusia.
Mengapa Allah memilih tanah liat—sesuatu yang sederhana dan mudah dibentuk—sebagai bahan dasar manusia? Ada beberapa interpretasi filosofis yang sangat mendalam terkait hal ini.
Penciptaan manusia dari tanah tidak hanya disebutkan dalam Al-Hijr ayat 26. Ayat ini selaras dengan ayat-ayat lain dalam Al-Qur'an yang memperkuat konsistensi pesan ilahi, seperti dalam Surat As-Sajdah ayat 7 yang menyebutkan bahwa Allah menjadikan keturunan manusia dari sari pati yang hina, atau Surat Al-Mu’minun ayat 12 yang merinci tahapan penciptaan. Kesamaan narasi ini menegaskan validitas dan kebenaran wahyu.
Penggunaan kata "shalshal" (tanah kering berbunyi) menunjukkan bahwa pada tahap tertentu sebelum sempurna ditiupkan ruh, wujud fisik manusia telah memiliki struktur dan kepadatan tertentu. Proses ini memberikan jeda antara penciptaan fisik dan pemberian ruh, sebuah misteri ilahi yang menegaskan bahwa ruh adalah karunia terpisah yang dihembuskan oleh Allah.
Di tengah kemajuan teknologi dan klaim keilmuan modern, pemahaman atas Al-Hijr ayat 26 tetap relevan. Ayat ini bukan sekadar catatan sejarah penciptaan Adam, tetapi sebuah filosofi hidup. Ketika kita merasa terpuruk atau kehilangan arah, mengingat asal kita dari tanah liat dapat menjadi fondasi untuk membangun kembali ketenangan batin. Ia mengajarkan kita untuk tidak mendewakan pencapaian materi, karena fondasi diri kita sangatlah bersahaja.
Sebaliknya, kesadaran bahwa Allah yang Mahakuasa mampu mengangkat materi paling hina (lumpur hitam) menjadi makhluk yang paling mulia (manusia yang berakal dan beriman) harus memotivasi kita untuk selalu berusaha menjadi versi terbaik dari diri kita, karena potensi itu telah ditanamkan sejak awal penciptaan.