Representasi Metaforis: Keseimbangan Makhluk Hidup
Surat Al-Hijr, yang diabadikan namanya dari nama sebuah lembah di wilayah Hijaz (tempat kaum Tsamud pernah tinggal), adalah surat ke-15 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Ayat-ayatnya kaya akan makna mengenai kebesaran Allah dalam penciptaan, peringatan bagi pendusta, dan penghiburan bagi Nabi Muhammad SAW. Salah satu ayat yang sering menjadi bahan perenungan mendalam adalah Surat Al Hijr Ayat 27.
Ayat 27 ini muncul dalam rangkaian ayat yang menceritakan dialog antara Allah SWT dengan para malaikat mengenai penciptaan Nabi Adam a.s. Ayat sebelumnya (Ayat 26) berbicara tentang penciptaan manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Kemudian, ayat ini menjadi pembeda fundamental antara asal usul manusia dan jin.
Konteks yang disajikan sangat jelas: penciptaan jin mendahului penciptaan Nabi Adam a.s. Ini menegaskan hierarki kronologis dalam proses penciptaan makhluk yang memiliki kehendak bebas (mukallaf). Sebelum manusia diamanahkan tanggung jawab di bumi, alam semesta telah dihuni oleh komunitas lain, yaitu golongan jin.
Poin sentral dari ayat ini adalah bahan dasar penciptaan jin, yaitu "نَارِ السَّمُومِ" (naar as-samūm), yang diterjemahkan sebagai "api yang sangat panas" atau "api yang menyengat/mendidih". Berbeda dengan manusia yang diciptakan dari tanah (yang melambangkan sifat ketenangan, kesabaran, dan ketetapan), jin diciptakan dari api.
Sifat api adalah cepat, panas, ringan, dan sulit dikendalikan. Sifat inilah yang secara inheren melekat pada tabiat jin. Api yang digunakan dalam penciptaan jin berbeda dengan api yang kita kenal. Para ulama menafsirkan ini sebagai unsur api yang sangat halus, berbeda dengan api duniawi yang kita lihat, yang menunjukkan bahwa jin memiliki substansi yang lebih abstrak dan cepat bergerak. Sifat api ini memungkinkan jin memiliki kemampuan untuk berubah wujud dan bergerak melintasi ruang dengan kecepatan yang jauh melebihi kemampuan fisik manusia.
Mengapa Allah SWT perlu menekankan perbedaan materi penciptaan ini? Terdapat beberapa hikmah mendalam yang dapat kita tarik dari Surat Al Hijr Ayat 27:
Ayat ini merupakan dalil kuat yang memisahkan secara tegas antara alam manusia dan alam jin. Mereka adalah dua spesies berbeda yang diciptakan dengan tujuan ibadah, sebagaimana firman Allah di surat Adz-Dzariyat: 56 ("Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.").
Pemahaman bahwa jin diciptakan dari api yang menyengat juga membantu menjelaskan mengapa jin memiliki kemampuan gaib yang tidak dimiliki manusia, seperti kecepatan luar biasa dalam perpindahan atau kemampuan untuk menyesatkan manusia. Mereka beroperasi dalam dimensi energi yang berbeda, yang bersumber dari elemen api primordial tersebut.
Secara keseluruhan, Surat Al Hijr Ayat 27 bukan sekadar catatan sejarah penciptaan, melainkan sebuah fondasi teologis yang menjelaskan asal-usul, perbedaan substansi, dan kecenderungan tabiat antara dua kelompok makhluk utama di alam semesta ini, yang keduanya kelak akan dimintai pertanggungjawaban penuh atas pilihan-pilihan yang mereka ambil setelah Adam diciptakan dan diberi ilmu pengetahuan oleh Allah SWT.