Refleksi Ketuhanan: Surat Al-Hijr Ayat 28-30

Pengantar Ayat-ayat Agung

Surat Al-Hijr, yang dinamai berdasarkan lembah tempat kaum Tsamud tinggal, mengandung banyak pelajaran penting mengenai tauhid, keesaan Allah, serta kisah-kisah umat terdahulu. Di antara ayat-ayat yang paling kuat dan sarat makna adalah ayat 28 hingga 30, yang membahas dialog antara Allah SWT dengan para malaikat mengenai keputusan-Nya untuk menciptakan manusia. Ayat-ayat ini menyoroti keistimewaan penciptaan Adam AS dan perintah sujud yang menjadi penanda penghormatan tertinggi dari para malaikat kepada ciptaan baru Allah tersebut.

Pemahaman mendalam terhadap ayat-ayat ini tidak hanya memberikan wawasan teologis tetapi juga menegaskan posisi manusia di antara makhluk-makhluk Allah lainnya. Kisah ini menjadi dasar penting bagi konsep kekhalifahan manusia di muka bumi.

Ilustrasi Penciptaan dan Sujud Malaikat Tanah Adam Malaikat Perintah Sujud

Teks dan Terjemahan Ayat

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِّن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ 28
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk."
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ 29
"Maka apabila Aku telah menyempurnakan penciptaannya dan meniupkan ruh (ciptaan-Ku) ke dalamnya, maka tundukkanlah dirimu (bersujudlah) kepadanya."
فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ 30
Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya, kecuali Iblis.

Makna di Balik Penciptaan

Ayat 28 menegaskan asal-usul fisik manusia yang rendah, yaitu dari "shalṣāl min ḥamā'in masnūn"—tanah liat yang hitam dan berbau yang telah dibentuk. Penekanan pada asal usul yang sederhana ini adalah pengingat bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada materi penciptaannya, melainkan pada apa yang dihembuskan selanjutnya oleh Allah.

Puncak dari proses penciptaan termuat dalam ayat 29. Setelah bentuk fisik disempurnakan, Allah SWT meniupkan ruh-Nya. Meskipun ruh ini diciptakan oleh Allah, penisbatan kepada "ruh-Ku" menunjukkan derajat kehormatan dan keistimewaan yang luar biasa pada diri manusia. Perintah langsung untuk bersujud (*faq'a lahu sājidīn*) bukanlah bentuk penyembahan kepada Adam, melainkan bentuk penghormatan dan pengakuan atas keagungan mandat yang diemban oleh khalifah baru di bumi ini.

Kepatuhan Total dan Pengecualian Iblis

Respons para malaikat tercermin dalam ayat 30: mereka bersujud semuanya (*kulluhum ajma'ūn*). Kesatuan respons ini menunjukkan ketaatan mutlak para malaikat terhadap perintah Ilahi. Mereka tidak bertanya mengapa, tidak membandingkan keunggulan, dan tidak menunda. Mereka melaksanakan perintah sebagai bentuk pengakuan atas kebijaksanaan tertinggi Allah.

Namun, pengecualian Iblis—yang disebutkan secara implisit dalam kelanjutan ayat tersebut di ayat berikutnya—menjadi titik balik sejarah. Keengganan Iblis bersujud didasarkan pada kesombongan dan perbandingan materialistik ("Aku lebih baik daripadanya; Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah," Al-Hijr: 27).

Implikasi Filosofis dan Spiritual

Kisah Al-Hijr ayat 28-30 ini mengajarkan beberapa pelajaran vital. Pertama, status manusia sebagai khalifah dimuliakan oleh Allah bahkan sebelum manusia melakukan amal kebajikan apa pun; kemuliaan itu melekat pada potensi ruh yang ditiupkan-Nya. Kedua, ketaatan sejati adalah kepatuhan tanpa syarat terhadap perintah Allah, sebagaimana ditunjukkan oleh para malaikat.

Kisah ini juga merupakan cermin bagi umat manusia. Ketika kita menerima mandat kekhalifahan—seperti tanggung jawab sosial, moral, dan lingkungan—kita diwajibkan untuk melaksanakan tugas tersebut dengan penuh kesadaran, tanpa membiarkan kesombongan atau perbandingan yang tidak relevan (seperti kesombongan berbasis suku, kekayaan, atau jabatan) menghalangi kita dari ketaatan kepada kebenaran yang diperintahkan oleh Sang Pencipta.

🏠 Homepage