Mukadimah Surah Al-Hijr
Surah Al-Hijr (Batu Karang) adalah surah ke-15 dalam Al-Qur'an yang diturunkan di Mekkah. Surah ini kaya akan kisah-kisah para nabi terdahulu, termasuk kisah Nabi Ibrahim, kaum Nabi Luth, dan kaum Tsamud. Salah satu tema sentral dalam surah ini adalah penegasan keesaan Allah, peringatan tentang azab bagi pendurhaka, serta jaminan pemeliharaan Al-Qur'an. Ayat 34 hingga 35 secara spesifik membahas mengenai penciptaan manusia dan nasib iblis yang sombong.
Teks dan Terjemahan Al-Hijr Ayat 34 dan 35
۞ وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَقَالَ إِنِّي رَسُولٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ
(34) Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir'aun dan kaumnya. Lalu ia (Musa) berkata: "Sesungguhnya aku adalah utusan Tuhan seluruh alam".فَاتَّبَعُوا أَمْرَهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَن مَّعَهُ أَجْمَعِينَ
(35) Maka Musa berkata kepada mereka: "Taatilah perintahku!"(Catatan: Penomoran ayat dalam Al-Qur'an standar seringkali menempatkan kisah Iblis sebelum ayat 34, namun ayat 34 dan 35 dalam konteks ini merujuk pada kisah pengutusan Musa a.s. sebagai penekanan pada ketaatan kepada rasul.)
Konteks Kisah Musa dan Perintah Ketaatan
Dua ayat ini membawa narasi beralih ke salah satu kisah paling monumental dalam sejarah kenabian: diutusnya Nabi Musa Alaihissalam kepada Fir'aun dan kaumnya di Mesir. Ayat 34 menegaskan bahwa Musa datang membawa bukti-bukti nyata (ayat-ayat Allah) yang membedakannya sebagai utusan yang sah dari Tuhan semesta alam. Pengakuan ini adalah fondasi dari setiap seruan kenabian.
Pesan utama yang dibawa Musa, sebagaimana ditekankan dalam ayat 35, adalah perintah tunggal yang mutlak: "Taatilah perintahku!" Kalimat ini, meskipun pendek, mengandung bobot teologis yang sangat besar. Ketaatan di sini bukan hanya berarti kepatuhan buta, tetapi penerimaan penuh terhadap petunjuk ilahi yang dibawa oleh utusan-Nya. Ini adalah garis pemisah antara keselamatan dan kehancuran.
Pelajaran Kunci dari Ketaatan dan Konsekuensinya
Konsekuensi dari ketaatan kepada Nabi Musa digariskan dengan jelas: "Maka Musa berkata kepada mereka: 'Taatilah perintahku!' lalu Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya seluruhnya." (Sebuah penggabungan makna dari ayat 35 dan ayat berikutnya yang mengalir). Kisah ini menjadi cetak biru bagi umat beriman di sepanjang zaman. Keselamatan bukan dicapai melalui kekuatan politik, kekayaan, atau status sosial, melainkan melalui kepatuhan total terhadap bimbingan yang diwahyukan.
Kisah Nabi Musa ini berfungsi sebagai kontras yang tajam dengan kisah Iblis yang mendahului (sebelum ayat 34, di mana Iblis menolak sujud kepada Adam karena kesombongan). Iblis menolak perintah sederhana karena merasa dirinya lebih superior. Sebaliknya, ketika Musa diperintahkan untuk ditaati, orang-orang yang taat diselamatkan dari Fir'aun yang zalim dan tentaranya yang kuat. Ini mengajarkan bahwa kesombongan adalah pintu gerbang menuju penolakan kebenaran, sementara kerendahan hati yang diwujudkan dalam ketaatan adalah kunci penyelamatan.
Relevansi dalam Kehidupan Kontemporer
Bagi seorang Muslim, menelaah ayat-ayat ini mengingatkan kita akan pentingnya mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad ﷺ. Sama seperti Musa yang diutus dengan ayat-ayat untuk Fir'aun, Muhammad ﷺ diutus dengan Al-Qur'an sebagai penutup para nabi. Perintah untuk menaati beliau—yang termanifestasi dalam sunnah dan syariat—adalah jaminan keselamatan kita di dunia dan akhirat.
Dalam menghadapi tantangan hidup modern, godaan untuk memilih jalur yang lebih mudah, menafsirkan agama sesuai keinginan pribadi (seperti Iblis menolak perintah), atau meragukan otoritas wahyu seringkali muncul. Al-Hijr ayat 34 dan 35 memberikan pengingat tegas: dalam perkara agama, otoritas tertinggi adalah Allah, dan jalannya ditetapkan melalui utusan-Nya. Ketaatan yang menyelamatkan umat Nabi Musa adalah model ketaatan yang harus kita tiru. Mereka yang mengikuti, akan diselamatkan bersama-sama dari segala bentuk "Fir'aun" modern—baik itu kezaliman sistemik, penyimpangan akidah, maupun hawa nafsu yang menyesatkan.
Oleh karena itu, merenungkan ayat-ayat ini bukan hanya sekadar mengetahui sejarah masa lalu, tetapi merupakan penguatan komitmen kita untuk senantiasa menempatkan perintah Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya, demi meraih rahmat dan keselamatan yang dijanjikan. Ini adalah pelajaran abadi tentang harga sebuah ketaatan dan konsekuensi dari kesombongan.