Surat Al-Hijr, yang namanya diambil dari nama sebuah lembah bersejarah yang dihuni kaum Tsamud, adalah surat ke-15 dalam Al-Qur'an. Ayat 36 dari surat ini, meskipun singkat, memuat esensi dari sebuah deklarasi ilahi yang sangat tegas mengenai jalan kebenaran. Dalam konteks ayat-ayat sebelumnya yang membahas tentang ejekan kaum musyrik terhadap Nabi Muhammad SAW dan ancaman Allah kepada mereka yang mendustakan, ayat 36 ini berfungsi sebagai penegasan kembali prinsip dasar akidah Islam.
Sebelum ayat 36, Allah SWT melalui firman-Nya, telah menjelaskan bagaimana para pendusta dan pembangkang akan menghadapi konsekuensi dari perbuatan mereka. Disebutkan bahwa Iblis menolak bersujud kepada Adam, dan penolakan ini berujung pada pengusirannya dari surga. Dialog antara Allah dan Iblis tersebut menunjukkan adanya prinsip keadilan dan ketetapan hukum yang berlaku universal. Ketika Iblis memohon penangguhan waktu sampai Hari Kebangkitan, permohonannya dikabulkan dengan syarat bahwa ia hanya dapat menggoda anak cucu Adam, bukan memperbudak mereka.
Di tengah narasi tentang tantangan yang dihadapi para nabi dan pengikutnya, serta dialog antara kebenaran dan kesombongan (diwakili oleh Iblis), turunlah firman Allah dalam ayat 36 ini: "(Allah) berfirman: 'Inilah jalan (agama)-Ku yang lurus.'". Pernyataan ini adalah respons langsung terhadap penolakan dan kesombongan yang ada. Ini adalah titik penegasan mutlak dari Allah SWT.
Frasa Arab صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ (Shirāṭun 'Alayya Mustaqīm) memiliki makna yang sangat mendalam. Kata Shirāṭ (صِرَاط) sering diterjemahkan sebagai 'jalan', namun dalam konteks teologis, ini merujuk pada metodologi hidup, syariat, dan ajaran agama secara keseluruhan. Kata Mustaqīm (مُسْتَقِيمٌ) berarti lurus, tidak bengkok, dan pasti menuju tujuan yang benar.
Penting untuk dicatat penambahan kata 'Alayya (عَلَيَّ), yang berarti 'atas-Ku' atau 'yang ditujukan kepada-Ku'. Ini menegaskan bahwa jalan lurus yang dimaksud bukanlah jalan yang dibuat atau dirumuskan oleh manusia, melainkan jalan yang ditetapkan, diawasi, dan dijanjikan kebenarannya secara langsung oleh Allah SWT. Jalan ini bebas dari penyimpangan, keraguan, dan penipuan. Ayat ini menjadi pelipur lara bagi Nabi Muhammad SAW dan umatnya, mengingatkan bahwa meskipun mereka dicemooh, mereka tetap berada di jalur yang ditegaskan oleh Sang Pencipta sebagai satu-satunya jalur yang benar.
Ayat ini beroperasi sebagai kontras langsung terhadap kesesatan yang dilakukan oleh para pendusta (seperti Iblis dan kaum musyrik yang menolak wahyu). Jika Iblis memilih jalan kesombongan dan penolakan, maka Allah menegaskan bahwa ada jalan lain yang telah disiapkan, yaitu jalan ketaatan. Ayat selanjutnya (ayat 37) semakin memperkuat pemisahan ini dengan menyatakan bahwa Allah akan memisahkan golongan-golongan tersebut pada waktu yang telah ditentukan.
Bagi umat Islam, Al-Hijr ayat 36 adalah dasar kemandirian akidah. Ia mengajarkan bahwa pembenaran atas kebenaran iman kita tidak bergantung pada penerimaan atau pujian manusia, tetapi pada validitasnya yang berasal langsung dari sumbernya, yaitu wahyu ilahi. Ketika fitnah datang, ketika jalan tampak sulit, kita kembali kepada ketetapan ini: Allah telah menyediakan jalan yang lurus, dan itu adalah jalan yang harus kita ikuti tanpa kompromi, meskipun jalan tersebut ditentang oleh mayoritas atau dicemooh oleh orang-orang yang sombong.
Jalan yang lurus ini, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai ayat lain, memiliki karakteristik yang jelas. Ia adalah jalan yang dibangun di atas Tauhid (mengesakan Allah), ditegakkan dengan melaksanakan perintah-Nya, dan dijauhi dari segala bentuk bid'ah (inovasi dalam agama) atau kesesatan filosofis. Jalan ini tidak mengenal jalan pintas menuju surga selain melalui kepatuhan total. Ayat 36 ini, meskipun singkat, menjadi landasan teologis bahwa kebenaran itu tunggal dan telah ditetapkan oleh Rabbul 'Alamin. Inilah janji kepastian di tengah pusaran keraguan dan godaan duniawi.