Ilustrasi representatif tentang janji kemuliaan.
Surat Al-Hijr, yang merupakan surat ke-15 dalam Al-Qur'an, sarat dengan ayat-ayat yang memberikan peringatan, kabar gembira, dan penjelasan tentang keagungan Allah SWT. Di antara ayat-ayat yang penuh makna tersebut, terdapat sebuah janji penting yang ditujukan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa, yaitu dalam **Surat Al-Hijr ayat 44**.
Ayat ini sering kali dikutip sebagai penegasan tentang imbalan luar biasa yang disiapkan Allah bagi mereka yang menjalani hidupnya sesuai dengan perintah-Nya. Ayat ini memberikan harapan dan motivasi yang sangat dibutuhkan oleh seorang Muslim dalam menghadapi tantangan duniawi.
Ayat ini adalah pelengkap dari ayat sebelumnya (ayat 43), yang menjelaskan bahwa neraka Jahannam memiliki tujuh tingkatan pintu, dan setiap pintu telah ditentukan bagi golongan-golongan tertentu dari penghuninya. Kontras dengan gambaran mengerikan neraka tersebut, ayat 44 langsung mengalihkan fokus pembaca menuju imbalan surgawi.
Frasa "mā yashā’ūna" (apa yang mereka kehendaki) menunjukkan tingkat kepuasan absolut di surga. Berbeda dengan keinginan di dunia yang seringkali dibatasi oleh realitas fisik, materi, atau moral, keinginan di surga adalah murni dan langsung terpenuhi. Ini bukan sekadar pemenuhan kebutuhan dasar, melainkan pemenuhan setiap hasrat baik yang pernah terlintas dalam benak mereka selama hidup di dunia.
Ini adalah puncak dari kebahagiaan. Ketika seseorang memasuki surga, Allah menghilangkan segala bentuk rasa kurang, ketidakpuasan, atau penyesalan. Setiap orang akan disuguhi apa yang paling ia sukai, baik itu berupa pemandangan, makanan, pasangan hidup, atau kedudukan mulia. Kehendak di sini bersifat ilahiah—tidak ada keinginan yang melanggar batas kesucian surga itu sendiri.
Bagian kedua ayat ini adalah klimaks yang paling menggugah. Setelah menjanjikan pemenuhan segala kehendak, Allah menambahkan bahwa masih ada "mazīd" (tambahan) kenikmatan yang tersedia di sisi-Nya.
Para ulama menafsirkan "mazīd" ini dengan berbagai cara yang semuanya mengarah pada kemuliaan yang tak terhingga. Salah satu tafsiran yang paling populer adalah bahwa mazīd ini merujuk pada rizqullah atau nikmat melihat Wajah Allah (Ru’yatullah). Walaupun kenikmatan jasmani dan ruhani di surga sudah sempurna, melihat Sang Pencipta adalah kenikmatan tertinggi yang melampaui segala deskripsi kenikmatan surgawi lainnya.
Ini menunjukkan kemurahan Allah yang tak terbatas. Allah tidak hanya memenuhi janji-Nya secara minimum, tetapi selalu memberikan lebih dari apa yang diprediksi atau diminta oleh hamba-Nya yang beriman. Ini menegaskan bahwa kebaikan yang dilakukan di dunia akan dibalas dengan balasan yang melampaui imajinasi kita.
Surat Al-Hijr ayat 44 berfungsi sebagai jangkar spiritual. Ayat ini mengingatkan kita bahwa perjuangan dalam menaati syariat Allah, menahan diri dari godaan, dan beramal saleh adalah investasi jangka panjang yang sangat menguntungkan.
Pertama, ayat ini mendorong optimisme akhirat. Selama kita berusaha keras dalam kebaikan, kita harus yakin bahwa ganjaran di sana jauh lebih baik daripada apa pun yang bisa ditawarkan dunia. Kedua, ayat ini mengajarkan tentang kerendahan hati dalam beramal. Karena Allah akan memberikan "tambahan" nikmat, kita tidak boleh merasa bahwa amal kita sudah cukup atau setara dengan balasan yang akan kita terima. Seluruh rahmat dan nikmat tersebut sepenuhnya adalah karunia-Nya.
Dengan merenungkan janji dalam ayat ini, seorang Muslim termotivasi untuk terus meningkatkan kualitas ibadahnya, menyadari bahwa kenikmatan di sisi Allah adalah tujuan akhir yang kekal dan tak tertandingi.