Ilustrasi: Pesan kepastian dari Yang Maha Benar.
Surat Al-Hijr, surat ke-15 dalam Al-Qur'an, mengandung banyak pelajaran berharga mengenai kisah para nabi, keagungan ciptaan Allah, dan prinsip-prinsip keimanan. Di antara ayat-ayat yang menenangkan hati terdapat pada ayat 55 dan 56. Ayat ini secara khusus menyoroti respons Nabi Ibrahim AS ketika mendapatkan kabar gembira tentang kelahiran Ishak, serta mengandung inti dari janji dan kepastian Allah SWT.
Untuk memahami kedalaman maknanya, mari kita simak terlebih dahulu teks aslinya beserta terjemahannya:
Ayat 55 dan 56 dari Surat Al-Hijr ini melanjutkan kisah kunjungan para malaikat kepada Nabi Ibrahim AS, yang dalam riwayat lain sering dikaitkan dengan kedatangan tiga utusan. Pada saat itu, Nabi Ibrahim (yang masih belum dikaruniai anak dari Sarah) menunjukkan sikap hormat namun juga kewaspadaan—sebuah etika yang tinggi dalam menerima tamu asing, sebagaimana disebutkan dalam ayat sebelumnya (ayat 51).
Ketika para malaikat menegaskan bahwa mereka datang membawa kabar gembira, terjadilah dialog yang menguak keterbatasan manusiawi versus kuasa Ilahi. Ayat 55 adalah inti dari janji Allah: "Janganlah kamu merasa takut, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak yang (kelak akan menjadi) seorang yang alim (berilmu)."
Janji ini bukan sekadar janji keturunan, tetapi janji keturunan yang memiliki kualitas spiritual dan intelektual tinggi: 'alim. Ini menunjukkan bahwa karunia terbesar dari Allah seringkali tidak hanya berupa kemudahan duniawi, melainkan juga berupa keberkahan dalam bentuk ilmu dan keteguhan iman pada keturunan.
Ayat 56 menggambarkan reaksi manusiawi yang wajar dari Nabi Ibrahim AS setelah mendengar janji yang luar biasa tersebut: "Ibrahim berkata: 'Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usia lanjut telah menimpaku? Maka apakah (juga) yang kamu kabarkan ini?'"
Reaksi Nabi Ibrahim menunjukkan dua hal penting. Pertama, ia mengakui keterbatasan fisik dan biologisnya sebagai manusia. Usia lanjut adalah penghalang alami bagi pembuahan. Kedua, ia tidak langsung mengingkari, melainkan meminta konfirmasi lebih lanjut. Ini adalah bentuk iman yang hati-hati; ia tidak menolak kabar baik, tetapi ia menguji sejauh mana kabar baik tersebut bersumber dari Yang Maha Kuasa.
Dalam konteks yang lebih luas, dialog ini menegaskan kembali bahwa mukjizat dan karunia Allah seringkali datang di saat-saat yang dianggap mustahil oleh akal manusia. Bagi Allah, tidak ada yang mustahil. Jika Dia telah menetapkan suatu takdir atau memberikan suatu janji, batasan usia, penyakit, atau kondisi lainnya menjadi tidak relevan.
Ayat ini mengajarkan kita tentang ketenangan di tengah ketidakpastian. Ketika kita menghadapi kesulitan hidup—apakah itu penundaan rezeki, harapan yang sulit tercapai, atau ujian yang tampak mustahil dilewati—ayat ini mengingatkan bahwa janji Allah patut diperjuangkan dan diyakini.
Pertama, fokus pada kualitas, bukan hanya kuantitas. Kabar gembira itu adalah Ishak, seorang anak yang 'alim. Ini mengajarkan bahwa doa kita seharusnya tidak hanya meminta kelanggengan hidup atau kelimpahan harta, tetapi juga memohon karunia yang membawa manfaat spiritual dan ilmu yang bermanfaat.
Kedua, jangan pernah putus asa atas rahmat Allah. Nabi Ibrahim, meskipun telah mencapai usia tua, tetap menerima kabar gembira yang mengubah sejarah kenabian. Ini adalah standar tertinggi bagi setiap mukmin: selama masih ada nafas, pintu rahmat dan pertolongan Allah masih terbuka lebar.
Inti dari keindahan Al-Hijr ayat 55 dan 56 adalah jaminan bahwa Tuhan yang menguasai waktu dan sebab-akibat, memiliki kemampuan untuk membalikkan keadaan yang paling mustahil menjadi kenyataan yang pasti. Ketenangan sejati datang dari keyakinan bahwa meskipun manusia terbatas oleh usia dan kondisi, Allah Maha Luas kekuasaan-Nya. Dengan memahami ayat ini, seorang Muslim diajak untuk selalu bersabar menanti janji-Nya, sebagaimana Nabi Ibrahim menanti karunia Ishak di usia senjanya.