Memahami Kedudukan Nabi Ibrahim AS

Penjelasan Surat Al Hijr Ayat 56

Surat Al Hijr, ayat ke-56, merupakan salah satu bagian penting dari narasi kisah para nabi dalam Al-Qur'an. Ayat ini secara spesifik menyoroti dialog antara Nabi Ibrahim Alaihissalam (AS) dengan tamu-tamunya (para malaikat yang menyamar) mengenai kedudukan beliau di sisi Allah SWT. Ayat ini menegaskan posisi agung yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim AS.

Status Agung IB Nabi Ibrahim AS Simbol status mulia Nabi Ibrahim AS

Teks surat Al Hijr ayat 56 berbunyi, sebagaimana diriwayatkan dalam berbagai tafsir: "Ibrahim berkata: 'Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhanku kecuali orang-orang yang sesat.'" Ayat ini muncul dalam konteks ketika para malaikat (utusan Allah) datang untuk memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim AS mengenai kelahiran Ishaq, meskipun beliau dan istrinya, Sarah, sudah sangat tua.

قَالَ أَوْ مَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ
(Ibrahim) berkata: "Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhanku kecuali orang-orang yang sesat (tidak beriman)." (QS. Al Hijr: 56)

Konteks Dialog Kenabian

Sebelum ayat ini, para malaikat telah menyampaikan kabar gembira tentang Ishak (Isaac) kepada Nabi Ibrahim AS. Jawaban Nabi Ibrahim AS yang tegas ini menunjukkan tingkat keyakinan (yakqin) beliau yang sempurna kepada kekuasaan Allah SWT. Bagi seorang nabi yang senantiasa berdakwah dan penuh kesabaran, mustahil baginya untuk berputus asa, apalagi terhadap janji Allah yang Maha Kuasa.

Kata kunci dalam ayat ini adalah "berputus asa dari rahmat Tuhan" dan "orang-orang yang sesat" (adh-dhaalluun). Ini menyiratkan sebuah kaidah fundamental dalam tauhid: putus asa dari rahmat Allah adalah tanda kesesatan atau minimnya keimanan. Hanya mereka yang hatinya telah jauh dari petunjuk kebenaran (sesat) yang akan meragukan keluasan rahmat Allah, bahkan dalam kondisi yang tampak mustahil secara akal manusiawi, seperti kelahiran anak di usia lanjut.

Pelajaran Keimanan dari Surat Al Hijr Ayat 56

Ayat ini mengajarkan umat Islam mengenai pentingnya menjaga optimisme dan harapan dalam menghadapi segala cobaan hidup. Nabi Ibrahim AS, yang diuji dengan penundaan karunia anak dan kemudian dihadapkan pada perintah menyembelih anak tersebut (ujian yang lebih berat), tetap teguh. Sikapnya adalah cerminan sempurna dari orang yang berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Ilahi.

Dalam kehidupan modern, banyak kesulitan yang dihadapi, baik masalah ekonomi, kesehatan, maupun sosial. Ketika kita merasa jalan buntu, mengingat surat Al Hijr ayat 56 menjadi pengingat bahwa putus asa adalah sebuah penyakit spiritual yang menjauhkan pelakunya dari rahmat ilahi. Rahmat Allah SWT jauh lebih luas daripada keterbatasan pemahaman atau kondisi fisik dan materi kita saat ini.

Para mufassir menekankan bahwa sifat putus asa (al-ya’s) adalah salah satu dosa besar karena ia secara langsung menuduh Allah SWT tidak mampu atau tidak mau memberikan pertolongan-Nya. Oleh karena itu, keteguhan iman Nabi Ibrahim AS menjadi teladan bahwa selama akal dan hati kita masih mengarahkan pandangan kepada Allah SWT, maka harapan sejati tidak akan pernah hilang. Kunci untuk menghindari kesesatan adalah mempertahankan rasa takut (khauf) dan harap (raja’) secara seimbang kepada Allah SWT, di mana harapan harus selalu mendominasi kecuali saat menghadapi kematian.

Kesimpulannya, ayat agung ini menegaskan bahwa status seorang hamba yang dekat dengan Allah adalah mereka yang senantiasa menggantungkan harapan pada karunia-Nya, menjauhi sifat putus asa yang merupakan ciri orang-orang yang tersesat dari jalan yang lurus.

🏠 Homepage