Kisah Nabi Luth dan Petunjuk Ilahi: Al-Hijr 61-70

Ilustrasi Hukum dan Keadilan Ilahi HUKM Keadilan Wahyu Ilahi

Surat Al-Hijr, ayat ke-61 hingga 70, melanjutkan narasi penting mengenai kisah kaum Nabi Luth (Lot) dan interaksi mereka dengan para malaikat yang diutus Allah SWT. Bagian ayat ini menyoroti ketegasan perintah ilahi, penolakan kaum Nabi Luth yang keras kepala, serta janji Allah akan pemeliharaan-Nya terhadap hamba-Nya yang beriman, khususnya keluarga Nabi Ibrahim AS.

Teks dan Terjemahan Surat Al-Hijr Ayat 61-70

فَلَمَّا جَاءَتْ مُرْسَلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالُوا لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهْلَكَ إِلَّا امْرَأَتَكَ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ
Maka tatkala para utusan (malaikat) itu sampai kepada kaum Luth, dia (Luth) merasa bersusah hati dan merasa tidak lapang dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: "Ini adalah hari yang berat."
قَالُوا بَلْ جِئْنَاكَ بِالْعَذَابِ الَّذِي كَانُوا فِيهِ يَمْتَرُونَ
Mereka (para malaikat) berkata: "Janganlah kamu berduka cita dan janganlah kamu merasa sempit dada. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan keluargamu kecuali istrimu, karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)."
إِنَّا مُنْجُّوكَ وَأَهْلَكَ إِلَّا امْرَأَتَكَ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ
Sesungguhnya kami datang kepadamu membawa azab yang mereka ragu-ragukan itu.
إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهْلَكَ إِلَّا امْرَأَتَكَ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ
Dia (Luth) berkata: "Sesungguhnya kaumku telah mendustakanku, maka berilah aku pertolongan."
قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ ۖ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا صَبَرْتَ عَلَيْهِ
Para malaikat berkata: "Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati. Sesungguhnya kami akan menyelamatkanmu dan pengikut-pengikutmu kecuali istrimu, karena dia termasuk orang-orang yang dibinasakan."
وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ فِي الْأَمْرِ أَنَّ دَابِرَ هَٰؤُلَاءِ مَقْطُوعٌ مُصْبِحِينَ
Luth berkata: "Ini adalah perpisahan antara aku dan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tentang penafsiran (arti) apa yang kamu sabari terhadapnya."
وَجَاءَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ يَسْتَبْشِرُونَ
Dan Kami wahyukan kepadanya (Luth) isi keputusan itu, yaitu: "Sesungguhnya orang-orang itu akan ditumpas pada waktu subuh sampai ke akar-akarnya."
قَالَ إِنَّ هَٰؤُلَاءِ ضَيْفِي فَلَا تَفْضَحُونِ
Dan datanglah penduduk kota itu dengan gembira (karena mengira mereka akan mendapatkan pemuda-pemuda rupawan).
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ
Luth berkata: "Sesungguhnya mereka ini adalah tamuku, maka janganlah kamu menggodaku, dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuatku hina."
قَالُوا أَوَلَمْ نَنْهَكَ عَنِ الْعَالَمِينَ
Mereka berkata: "Dan bukankah kami sudah melarangmu (bergaul) dengan seluruh manusia?"

Konteks dan Pelajaran dari Ayat 61-70

Ayat-ayat ini menggambarkan puncak ketegangan dalam dakwah Nabi Luth AS di kaum Sodom. Ketika tiga utusan Allah—yang wujudnya seperti pemuda tampan—datang kepada Nabi Luth, beliau merasakan kecemasan mendalam (ayat 61). Dalam konteks sosial kaumnya yang terkenal dengan penyimpangan seksual, kedatangan tamu asing yang rupawan menjadi ancaman langsung bagi keamanan mereka, dan Nabi Luth tahu betul niat buruk kaumnya.

Kepastian Pertolongan Ilahi

Meskipun Luth merasa gentar, para malaikat segera menenangkannya. Mereka menegaskan bahwa kedatangan mereka bukan untuk membawa masalah, melainkan untuk menyampaikan keputusan ilahi (ayat 62-63). Penegasan bahwa azab yang selama ini mereka ragukan akan segera tiba menjadi penutup bagi penantian Nabi Luth.

Janji penyelamatan secara eksplisit disebutkan: Nabi Luth dan keluarganya (kecuali istrinya) akan diselamatkan (ayat 64-65). Keputusan ini telah final. Malaikat menyatakan, "Ini adalah perpisahan antara aku dan kamu" (ayat 65), menandakan bahwa sesi dialog dan peringatan telah berakhir, dan kini saatnya eksekusi keputusan ilahi. Kepada Nabi Luth, janji itu ditegaskan kembali bahwa pembinasaan kaumnya akan terjadi saat fajar menyingsing (ayat 66).

Reaksi Kaum Nabi Luth

Sisi kontras dramatis terjadi ketika penduduk kota mengetahui kedatangan tamu Nabi Luth. Mereka datang dengan "gembira" (ayat 67), mengindikasikan hasrat buruk mereka untuk melakukan perbuatan keji terhadap para tamu tersebut. Keimanan dan kesabaran Luth diuji hingga titik nadir. Beliau mencoba melindungi tamunya dengan menawarkan putrinya (meskipun penafsiran ini beragam, namun inti maknanya adalah melindungi kehormatan tamu) seraya memperingatkan mereka untuk bertakwa (ayat 68-69).

Respons kaumnya menunjukkan puncak kesombongan dan penolakan total terhadap ajaran kebenaran. Mereka menolak nasihat Luth, bahkan mempertanyakan otoritasnya, "Dan bukankah kami sudah melarangmu (bergaul) dengan seluruh manusia?" (ayat 70). Larangan ini merujuk pada upaya kaum Luth untuk mengisolasi Luth dan mencegahnya berinteraksi dengan orang luar, sebuah taktik untuk mempertahankan norma kerusakan mereka.

Refleksi Kesabaran dan Kepercayaan

Rangkaian ayat 61-70 ini adalah pelajaran tentang keteguhan iman dalam menghadapi tekanan sosial yang ekstrem. Nabi Luth menanggung beban berat karena kesabarannya diuji oleh kekafiran kaumnya sendiri. Allah SWT memberikan kepastian bahwa pertolongan datang pada saat yang paling genting, namun pertolongan itu disertai dengan pemisahan yang jelas antara yang beriman dan yang ingkar—bahkan dalam lingkaran keluarga terdekat sekalipun, sebagaimana nasib istri Nabi Luth.

Ayat-ayat ini menegaskan prinsip dasar tauhid: setiap perbuatan, sekecil apapun, akan dimintai pertanggungjawaban, dan pertolongan Allah bagi yang sabar serta bertakwa pasti terwujud, meskipun harus melalui proses pemisahan yang menyakitkan dari lingkup yang rusak.

🏠 Homepage