Surat Al-Hijr, ayat ke-61 hingga 70, melanjutkan narasi penting mengenai kisah kaum Nabi Luth (Lot) dan interaksi mereka dengan para malaikat yang diutus Allah SWT. Bagian ayat ini menyoroti ketegasan perintah ilahi, penolakan kaum Nabi Luth yang keras kepala, serta janji Allah akan pemeliharaan-Nya terhadap hamba-Nya yang beriman, khususnya keluarga Nabi Ibrahim AS.
Ayat-ayat ini menggambarkan puncak ketegangan dalam dakwah Nabi Luth AS di kaum Sodom. Ketika tiga utusan Allah—yang wujudnya seperti pemuda tampan—datang kepada Nabi Luth, beliau merasakan kecemasan mendalam (ayat 61). Dalam konteks sosial kaumnya yang terkenal dengan penyimpangan seksual, kedatangan tamu asing yang rupawan menjadi ancaman langsung bagi keamanan mereka, dan Nabi Luth tahu betul niat buruk kaumnya.
Meskipun Luth merasa gentar, para malaikat segera menenangkannya. Mereka menegaskan bahwa kedatangan mereka bukan untuk membawa masalah, melainkan untuk menyampaikan keputusan ilahi (ayat 62-63). Penegasan bahwa azab yang selama ini mereka ragukan akan segera tiba menjadi penutup bagi penantian Nabi Luth.
Janji penyelamatan secara eksplisit disebutkan: Nabi Luth dan keluarganya (kecuali istrinya) akan diselamatkan (ayat 64-65). Keputusan ini telah final. Malaikat menyatakan, "Ini adalah perpisahan antara aku dan kamu" (ayat 65), menandakan bahwa sesi dialog dan peringatan telah berakhir, dan kini saatnya eksekusi keputusan ilahi. Kepada Nabi Luth, janji itu ditegaskan kembali bahwa pembinasaan kaumnya akan terjadi saat fajar menyingsing (ayat 66).
Sisi kontras dramatis terjadi ketika penduduk kota mengetahui kedatangan tamu Nabi Luth. Mereka datang dengan "gembira" (ayat 67), mengindikasikan hasrat buruk mereka untuk melakukan perbuatan keji terhadap para tamu tersebut. Keimanan dan kesabaran Luth diuji hingga titik nadir. Beliau mencoba melindungi tamunya dengan menawarkan putrinya (meskipun penafsiran ini beragam, namun inti maknanya adalah melindungi kehormatan tamu) seraya memperingatkan mereka untuk bertakwa (ayat 68-69).
Respons kaumnya menunjukkan puncak kesombongan dan penolakan total terhadap ajaran kebenaran. Mereka menolak nasihat Luth, bahkan mempertanyakan otoritasnya, "Dan bukankah kami sudah melarangmu (bergaul) dengan seluruh manusia?" (ayat 70). Larangan ini merujuk pada upaya kaum Luth untuk mengisolasi Luth dan mencegahnya berinteraksi dengan orang luar, sebuah taktik untuk mempertahankan norma kerusakan mereka.
Rangkaian ayat 61-70 ini adalah pelajaran tentang keteguhan iman dalam menghadapi tekanan sosial yang ekstrem. Nabi Luth menanggung beban berat karena kesabarannya diuji oleh kekafiran kaumnya sendiri. Allah SWT memberikan kepastian bahwa pertolongan datang pada saat yang paling genting, namun pertolongan itu disertai dengan pemisahan yang jelas antara yang beriman dan yang ingkar—bahkan dalam lingkaran keluarga terdekat sekalipun, sebagaimana nasib istri Nabi Luth.
Ayat-ayat ini menegaskan prinsip dasar tauhid: setiap perbuatan, sekecil apapun, akan dimintai pertanggungjawaban, dan pertolongan Allah bagi yang sabar serta bertakwa pasti terwujud, meskipun harus melalui proses pemisahan yang menyakitkan dari lingkup yang rusak.